Shalat Sunnah Rawatib Subuh

Shalat sunnah rawatib sangat dianjurkan untuk dikerjakan sebagai pelengkap shalat fardhu lima waktu secara umum. [1] Shalat sunnah rawatib Subuh merupakan salah satu di antaranya.

Hukum Shalat Rawatib Subuh

Shalat sunnah rawatib Subuh termasuk shalat sunnah yang paling muakkad dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya dan tidak meninggalkannya, baik di kala bepergian ataupun tidak.

Di antara dalil yang menunjukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di kala bepergian (safar) adalah hadits Abu Maryam yang berbunyi,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَسْرَيْنَا لَيْلَةً فَلَمَّا كَانَ فِي وَجْهِ الصُّبْحِ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَامَ وَنَامَ النَّاسُ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا بِالشَّمْسِ قَدْ طَلَعَتْ عَلَيْنَا فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤَذِّنَ فَأَذَّنَ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ

Kami dahulu pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu perjalanan, lalu kami berjalan di malam hari. Ketika menjelang waktu subuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti dan tidur, dan orang-orang pun ikut tidur. Beliau tidak bangun kecuali matahari telah terbit. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan muazin (untuk berazan) Lalu ia (muadzin) mengumandangkan azan, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat sebelum shalat subuh, kemudian memberi perintah pada sang muazin, lalu sang muazin beriqamah, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami orang-orang (dalam shalat subuh).”

Demikian juga, Imam al-Bukhari menyatakan,

بَاب مَنْ تَطَوَّعَ فِي السَّفَرِ فِي غَيْرِ دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَقَبْلَهَا وَرَكَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي السَّفَرِ

Bab orang yang melakukan shalat tathawu’ (sunnah) dalam perjalanan pada selain waktu sesudah dan sebelum shalat fardhu (rawatib). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan dua rakaat shalat fajr dalam safarnya (bepergiannya).” [2]

Ibnu al-Qayyim menyatakan, “Di antara contoh petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safarnya adalah mencukupkan diri dengan melaksanakan shalat fardhu, dan tidak diketahui bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudahnya (shalat fardhu), kecuali shalat witir dan sunnah rawatib Subuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan keduanya pada keadaan mukim ataupun bepergian.” [3]

Juga, pernyataan ‘Aisyah yang berbunyi,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ أخرجه الشيخان

Dari ‘Aisyah, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat sunnah secara berkesinambungan melebihi dua rakaat (shalat rawatib) Subuh.” [4]

Oleh karena itu, Ibnu al-Qayyim menyatakan, “Kesinambungan dan penjagaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap shalat sunnah rawatib Subuh lebih dari seluruh shalat sunnah. Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat rawatib Subuh dan shalat witir dalam keadaan safar dan mukim.

Dalam safar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa disiplin melaksanakan shalat sunnah rawatib Subuh dan witir, melebihi seluruh shalat sunnah dan rawatib lainnya dan tidak dinukilkan dari beliau dalam safar melakukan shalat rawatib selain rawatib subuh. Oleh karena itu, dahulu Ibnu Umar tidak menambah dari dua rakaat dan menyatakan, ‘Saya telah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar. Dalam safar, mereka tidak (melaksanakan shalat rawatib) melebihi dua rakaat.'” [5]

Dengan demikian, jelaslah bahwa hukum shalat sunnah rawatib Shubuh adalah sunnah muakkad (sangat ditekankan) dan termasuk shalat rawatib yang paling dianjurkan.

Keutamaannya

Keutamaan shalat sunnah rawatib Subuh ada dalam hadits-hadits umum tentang keutamaan shalat sunnah rawatib. Namun, ada beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan shalat rawatib Shubuh ini secara khusus, di antaranya:

1. Hadits ‘Aisyah yang berbunyi,

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Dua rakaat fajar (subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” [6]

2. Hadits ‘Aisyah yang lainnya berbunyi,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِأخرجه الشيخان

Dari ‘Aisyah, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat sunnah yang kontinyuitasnya (kesinambungannya) melebihi dua rakaat (shalat rawatib) Subuh.” [7]

Dalam dua hadits di atas terdapat pernyataan dan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus yang menunjukkan keutamaan shalat rawatib ini.

3. Hadits ‘Aisyah yang berbunyi,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْر

Dari ‘Aisyah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat sebelum subuh. [8]

Tata Caranya

Shalat sunnah rawatib Shubuh dilakukan sebelum shalat fardhu Shubuh dalam dua rakaat sebagaimana shalat dua rakaat lainnya, dengan satu salam.

Meringankannya

Di antara petunjuk dan contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan dua rakaat shalat sunnah rawatib Subuh adalah dengan meringatkannya dan tidak memanjangkan bacaannya, dengan syarat tidak melanggar hal-hal yang wajib dalam shalat. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa hadits berikut ini:

1. Hadits Ummul Mukminin Hafshah, yang berbunyi,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ حَفْصَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ

Dari Ibnu Umar, beliau berkata bahwasanya Hafshah Ummul Mukminin telah menceritakan kepadanya bahwa dahulu dahulu bila muadzin selesai mengumandangkan azan untuk shalat subuh dan waktu subuh telah tampak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat yang ringan sebelum melaksanakan shalat fardhu subuh. [9]

2. Hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah yang berbunyi,

عَنْ عَائِشَةَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ

Dari ‘Aisyah, beliau berkata, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan antara azan dan iqamat dari shalat subuh.” [10]

Demikian juga, beliau menjelaskan ringannya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini dengan menyatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتىَّ إِنِّيْ لأَقُوْلُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu meringankan dua rakaat yang ada sebelum shalat fardhu Subuh, hingga aku katakan, ‘Apakah beliau membaca al-Fatihah?‘” [11]

Hadits-hadits di atas menunjukkan sunnahnya memperingan shalat dua rakaat sebelum shalat fardhu Subuh. [12]

Bacaan Setelah al-Fatihah dalam Shalat Rawatib Ini

Sebagian orang berdalih dengan riwayat ‘Aisyah di atas tentang tidak disunnahkannya membaca surat atau ayat setelah al-Fatihah. Ini tentunya tidak benar, karena adanya beberapa riwayat yang menjelaskan bacaan surat atau ayat setelah membaca al-Fatihah dalam shalat dua rakaat sebelum shalat fardhu Subuh ini, di antaranya:

1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membaca dua surat dalam dua rakaat shalat fajr (shalat rawatib subuh), yaitu surat al-Kafirun dan al-Ikhlas. [13]

2. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berbunyi,

عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي الْأُولَى مِنْهُمَا قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا الْآيَةَ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ وَفِي الْآخِرَةِ مِنْهُمَا آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Dari Sa’id bin Yasar bahwasanya Ibnu Abbas menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu dalam dua rakaat shalat sunnah fajr, pada rakaat pertama membaca ayat قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا  (al-Baqarah, ayat 136) dan pada rakaat kedua membaca آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ  (Ali Imran, ayat 52). [14]

3. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berbunyi,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَالَّتِي فِي آلِ عِمْرَانَ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah fajr membaca firman Allah قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا (al-Baqarah, ayat 136) dan yang ada dalam Ali Imran (ayat 64)” [15]

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, “Shalat sunnah (rawatib) subuh diberlakukan sebagai awal perbuatan dan witir sebagai penutupnya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sunnah (rawatib) subuh dan witir dengan membaca surat al-Kafirun dan al-Ikhlas. Kedua surat ini mengandung tauhid al-‘ilmi wa al-‘amal (tauhid rububiyah), tauhid al-ma’rifah (tauhid al-asma` wa ash-shifat), dan tauhid al-i’tiqad wa al-qashdu (tauhid al-uluhiyah).” [16]

Berbaring Setelahnya

Di antara hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah mengerjakan shalat rawatib Subuh beliau berbaring miring di atas bagian kanan tubuhnya. [17] Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ رَكْعَتَي الْفَجْرِ، فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى شَقِّهِ الأَيْمَنِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian telah melaksanakan dua rakaat shalat fajr, maka berbaringlah miring di atas bagian tubuh.”

Menanggapi permasalahan ini, para ulama berbeda pendapat dalam enam pendapat: [18]

1.    Berbaring ini disyariatkan secara sunnah. Inilah pendapat Abu Musa al-Asy’ari, Rafi’ bin Khadij, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Muhammad bin Sirin, Sa’id bin al-Musayyib, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, ‘Urwah bin az-Zubeir, Abu Bakar bin Abdurrahman bin ‘Auf, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah, Sulaiman bin Yasar, dan Mazhab Syafi’i dan Hambaliyah. Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah di atas, dan membawa hukumnya kepada sunnah (istihbab) dengan hadits ‘Aisyah yang berbunyi,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى سُنَّةَ الْفَجْرِ ، فَإِنْ كُنْتُ مُسْتَيْقِظَةً ؛ حَدَّثَنِيْ ، وَ إِلاَّ ؛ اضْطَجَعَ حَتىَّ يُؤَذَّنَ بِالصَّلاَةِ

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bila telah melakukan shalat sunnah subuh, maka jika aku bangun maka ia mengajakku bicara dan jika tidak maka ia berbaring hingga shalat diiqamati.” [19]

Tampak dalam hadits ini bahwa beliau tidak berbaring bila ‘Aisyah telah bangun, sehingga ini bisa memalingkan perintah dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu kepada sunnah. Demikian juga, hadits ‘Aisyah ini menunjukkan bahwa beliau terkadang tidak berbaring setelah melakukan rawatib Subuh. Seandainya wajib tentulah beliau tidak akan meninggalkannya sama sekali.

2.    Wajib dan harus dilakukan bahkan menganggapnya sebagai syarat sah shalat subuh. Inilah pendapat Abu Muhammad bin Hazm. Beliau berdalil dengan hadits Abu Hurairah di atas yang berisi perintah dan perintah menunjukkan kewajiban. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengomentari pendapat Ibnu Hazm ini dengan menyatakan, “Ini termasuk pendapat beliau yang bersendirian menyelisihi umat.” [20]

3.    Makruh dan bid’ah. Ini pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dalam satu riwayat, al-Aswad bin Yazid, dan Ibrahim al-Nakha’i. Mereka berdalil bahwa hal ini tidak pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mesjid. Seandainya pernah dilakukan, tentulah akan dinukil secara mutawatir.

4.    Menyelisihi yang lebih utama. Inilah yang diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri.

5.    Disunnahkan bagi yang telah melakukan shalat malam di hari tersebut, agar dapat beristirahat dan tidak disyariatkan pada selainnya. Inilah yang di-rajih-kan Ibnu al-‘Arabi dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, serta Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Syekh al-Utsaimin menyatakan, “Pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah yang di-rajih-kan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu yang dirinci, sehingga menjadi sunnah bagi orang yang menegakkan shalat malamnya, karena ia butuh istirahat. Namun, bila termasuk orang yang bila berbaring di tanah dapat tidur dan tidak bangun kecuali setelah waktu yang lama, maka ini tidak disunnahkan baginya, karena ini dapat membuatnya meninggalkan kewajiban.” [21]

6.    Berbaring bukanlah inti yang dimaksud, namun yang dimaksud adalah memisahkan antara shalat rawatib dengan shalat fardhu. Ini diriwayatkan dari pendapat asy-Syafi’i. namun pendapat ini terlalu lemah sebab pemisahan waktu dapat dilakukan dengan selain berbaring.

Yang rajih menurut penulis adalah yang dirajihkan Imam an-Nawawi ketika menyatakan, “Yang terpilih adalah berbaring dengan dasar zahir hadits Abu Hurairah.” [22]

Demikian juga, keumuman hadits ini mencakup umat Islam, apalagi didukung dengan keabsahan hadits Abu Hurairah sebagaimana dinilai shahih oleh Imam asy-Syaukani dan Syekh al-Albani.

Orang yang Tidak Sempat Melakukannya pada Waktunya

Disyariatkan bagi yang tidak sempat melakukan shalat rawatib qabliyah subuh untuk melaksanakannya setelah selesai shalat fardhu subuh atau setelah terbit matahari. Hal ini didasarkan kepada dalil berikut ini.

1. Hadits Abu Hurairah rahidyallahu ‘anhu yang berbunyi,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :” مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ؛ فَلْيُصَلِّهُمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang belum shalat dua rakaat qabliyah subuh maka hendaknya melakukannya setelah terbit matahari”. [23]

Perintah dalam hadits ini dipalingkan kepada makna istihbab dengan hadits yang lainnya yang berbunyi,

عَنْ قَيْسِ بْنِ قَهْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ “

Dari Qais bin Qahdin radhiyallahu’anhu, bahwasanya ia shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belum melakukan shalat dua rakaat qabliyah subuh. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salam maka ia pun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan shalat dua rakaat qabliyah subuh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dan tidak mengingkarinya. [24]

Jelas hadits ini menunjukkan kebolehan meng-qadha dua rakaat qabliyah subuh setelah shalat fardhu.

Demikianlah beberapa hukum seputar shalat rawatib Subuh. Mudah-mudahan bermanfaat.

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel www.EkonomiSyariat.com

===
Catatan kaki:

[1] HR. an-Nasa’i, Kitab al-Mawaqif, Bab Kaifa Yaqdhi al-Fait min ash-Shalat, no. 605, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i, beliau menyatakan, “Shahih dengan hadits Abu Hurairah berikutnya dan selainnya.”

[2] Shahih, dalam Kitab al-Jum’at.

[3] Zad al-Ma’ad: 1/456.

[4] HR. al-Bukhari dan Muslim. (akan datang takhrij-nya)

[5] Zad al-Ma’ad: 1/305.

[6] HR. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Rak’atai Sunnah al-Fajr wa al-Hatsu ‘alaihima wa Takhfifuhuma ‘alaihima wa Bayan Ma Yustahab ‘an Yaqra’a fihima, no. 725.

[7] HR. al-Bukhari, Kitab Tahajjud, Bab Ta’ahud Rak’atai al-Fajri wa Man Sammaha Tathawwu’an, no. 1169; Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Rak’atai Sunnah al-Fajr wa al-Hatsu ‘alaihima wa Takhfifuhuma ‘alaihima wa Bayan Ma Yustahab ‘an Yaqra’a fihima, no. 724.

[8] HR. al-Bukhari, Kitab al-Tahajjud, Bab ar-Rak’atain Qabla Zuhur, no. 1182.

[9] HR. al-Bukhari, kitab al-Adzan, Bab al-Adzan ba’da al-Fajr, no. 618; dan Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Rak’atai Sunnah al-Fajr wa al-Hatsu ‘alaihima wa Takhfifuhuma ‘alaihima wa Bayan Ma Yustahab ‘an Yaqra’a fihima, no. 723.

[10] HR. Bukhari, Kitab al-Adzan, Bab al-Adzan ba’da al-Fajr, no 584.

[11] HR. al-Bukhari, Kitab at-Tahajjud, Bab Ma Yaqra’ Fi Rak’atai al-Fajr, no. 1171; Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Rak’atai Sunnah al-Fajr wa al-Hatsu ‘alaihima wa Takhfifuhuma ‘alaihima wa Bayan Ma Yustahab ‘an Yaqra’a fihima, no. 724; lafalnya adalah lafal milik al-Bukhari.

[12] Lihat: Shahih Fiqh as-Sunnah: 1/373.

[13] HR. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Rak’atai Sunnah al-Fajr wa al-Hatsu ‘alaihima wa Takhfifuhuma ‘alaihima wa Bayan Ma Yustahab ‘an Yaqra’a fihima, no. 726.

[14] HR. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Rak’atai Sunnah al-Fajr wa al-Hatsu ‘alaihima wa Takhfifuhuma ‘alaihima wa Bayan Ma Yustahab ‘an Yaqra’a fihima, no. 727.

[15] Ibid, no. 728.

[16] Dinukil murid beliau, Ibnul Qayyim, dalam Zad al-Ma’ad: 1/306, kemudian Ibnu al-Qayyim menjelaskan hikmah-hikmah yang terkandung dalam dua surat tersebut.

[17] HR. at-Tirmidzi, Kitab ash-Shalat, Bab Ma Ja’a Fi al-Idh-Thija’ ba’da Rak’atai al-Fajri, no. 420; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Shahih Sunan Abi Daud, no. 1146.

[18] Pembahasan ini diambil dari beberapa referensi, di antaranya: Syarhu al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’ karya Syekh Ibnu Utsaimin, Nail al-Authar Syarh Muntaqa al-Akhbar karya asy-Syaukani, Zad al-Ma’ad karya Ibnu al-Qayyim, dan Shahih Fiqh as-Sunnah karya Abu Malik.

[19] HR. al-Bukhari, Kitab at-Tahajjud, Bab Man Tahadatsa ba’da ar-Rak’atain wa Lam Yadhthaji’, no. 1161.

[20] Pernyataan ini dinukil langsung Ibnu al-Qayim dari beliau. Lihat: Zad al Ma’ad 1/308.

[21] Syarhul Mumti’: 4/100.

[22] Dinukil dari Nail al-Authar: 3/25.

[23] HR. at-Tirmidzi, Kitab ash-Shalat, Bab Ma Ja’a fi I’adatihima ba’da Thulu’ asy-Syamsi, no. 424; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi: 1/133.

[24] HR. at-Tirmidzi, Kitab ash-Shalat, Bab Ma Ja’a fi Man Tafututhu ar-Raka’atan qabla al-Fajr Yushallihuma ba’da Shalat ash-Shubh, no. 422; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi: 1/133.

Kirim Komentar




1 Komentar

  • Assalamualaikum,
    kalau shalat subuhnya tdk di awal waktu (misal azan jam 4 tapi shalat jam 5), lebih utama shalat subuh dahulu atau shalat rawatib?

    syukron.

    Reply