Multi Level Marketing: Sebuah Permasalahan Kiwari:

Seiring kemajuan teknologi beserta pola pikir manusia dan naik turun beserta jatuhnya aqidah dan akhlak mereka, bermunculanlah beragam perkara baru hasil jerih payah usaha manusia, khususnya dalam permasalah bisnis. Semuanya dilakukan untuk memakmurkan diri mereka -demikian anggapan mereka- tentunya dengan berusaha menghipnotis manusia dengan propaganda dan promosi yang sangat menarik dan menggiurkan tanpa memandang dahulu bagaimana tinjauan syari’at Islam yang sangat sempurna ini terhadap jenis perkara tersebut.

Memang demikianlah kondisi sebagian kaum muslimin -kalau tidak dikatakan kebanyakan mereka- memandang usaha hanya semata-mata bagaimana mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin, walaupun itu sangat fantastis dan tampak seperti mimpi. Hal inipun tidak lepas dari berita wahyu yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ؛ أَمِن الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ؟!

Artinya: “Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?!” (HR. Bukhari 2059)

Berapa banyak seseorang menzhalimi saudaranya hanya dengan dalih harta, bahkan saling menumpahkan darah diantara mereka. Memang benar pernyataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu haditsnya,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

Artinya: “Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.” (HR. Al Timidzi dalam sunannya kitab Al Zuhd)

Fenomena seperti ini memang merupakan ujian yang sulit bagi kaum muslimin ketika iman dan taqwa semakin menipis, sedangkan ketamakan merupakah salah satu tabiat manusia, seperti dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ ؛ لاَبْتَغَى ثَالِثاً , وَلاَ يَمَلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ , وَيَتُوْبُ الله ُعَلَى مَنْ تَابَ

Artinya: “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat.” (HR. Bukhari no 6436, Muslim no 1049)

Apalagi di zaman kiwari ini, dimana media komunikasi dan promosi demikian merebak hingga ke pelosok desa terpencil, sehingga bertebaranlah jenis muamalat di masyarakat yang sebelumnya tidak diketahui, diantaranya MLM (Multi Level Marketing). Oleh karena itu, perlu sekali kita merujuk kepada fatwa para ulama seputar permasalalahan yang sekarang sedang semarak ini dengan beragam nama dan teknik pemasaran, walaupun hakikatnya satu yaitu membuat jaringan bisnis dengan membentuk jaringan piramida dengan cara anggota pertama merekrut beberapa anggota baru yang menjadi kakinya (dalam jaringan tersebut) dan kaki-kaki inipun merekrut yang lainnya agar menjadi lapisan di bawahnya dan seterusnya, dengan syarat setiap orang yang ingin mendapat keanggotaan harus mendaftar dengan membayar sejumlah uang.

Sebagian jenis usaha ini menggunakan produk nyata seperti obat-obatan atau kosmetik atau yang lainnya dan sebagian lainnya tidak menggunakan produk, cukup dengan menyetor sejumlah uang, misalnya Rp 3 juta, lalu bila ia dapat merekrut anggota baru, baik langsung atau tidak langsung akan mendapatkan keuntungan uang tertentu, dan sampai batas tertentu akan mendapatkan bonus keuntungan yang sangat menggoda sekali, seperti kendaraan, naik haji, umroh atau wisata ke luar negeri. Sebaliknya, bila tidak mampu merekrut anggota baru maka tidak mendapatkan keuntungan tersebut dan merugi karena uang keanggotaan tersebut hilang bersama waktu yang ditentukan. Yang aneh, para anggota bisnis tersebut tidak berpikir bila perusahaannya suatu saat akan berhenti, dan itu pasti. Lalu bagaimana dengan nasib anggota yang baru masuk menjelang berhentinya perusahaan tersebut?

Nah, ternyata cara muamalah seperti ini tidak hanya ada di negeri ini saja namun juga ada di luar negeri, sebut saja di Timur Tengah atau Amerika atau tempat yang lainnya yang semuanya sama; menjadikan pertambahan pembayaran keanggotaan sebagai tujuan bisnisnya bukan penjualan produk.

Karena banyak pertanyaan disampaikan kepada para ulama seputar permasalan ini dan perlunya merujuk kepada para ulama dalam perkara kontemporer seperti ini, maka perlu disampaikan hakekat hukum syariat dan pandangan para ulama berkenaan dengan permasalahan ini, sehingga jelas dan gamblanglah sikap seorang muslim terhadap muamalah seperti ini.

Syeikh Hasan bin Ali bin Abdilhamid Al Atsari -Hafidzahullah Ta’ala- berkata seputar permasalahan ini: [1]

“Sesungguhnya (termasuk) kewajiban ulama terpercaya dan para penuntut ilmu yang konsisten, adalah mengangkat problematika aktual, atau permasalahan kontemporer, yang masih sulit dipahami oleh sebagian kaum muslimin-atau banyak dari mereka, sehingga Allah berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya…’ “ (Qs. Ali Imran: 187)

Sungguh telah banyak datang soal dan pertanyaan seputar bisnis perdagangan -yang baru!!-, banyak orang terjerumus ke dalamnya dan yang bertanya hukumnya hanyalah orang-orang shalih; sebagaimana Allah berfirman,

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Artinya: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”

Dan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ؛ أَمِن الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ؟!

Artinya: “Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan[2], apakah dari yang halal atau haram?!” (HR. Bukhari no.2059 dan no. 2083)

Sesungguhnya kami benar-benar memuji Allah Ta’ala atas datangnya pertanyaan-pertanyaan semacam ini di zaman sesulit ini, karena hal ini menunjukkan -walhamdulillah- adanya benih-benih kebaikan dan keimanan yang tertanam kuat di dalam dada banyak orang muslim yang masih ragu -betapapun banyaknya propaganda/penggiur dan penyamaran- terhadap muamalah ini!!

Seandainya setiap muslim menjadikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (berikut):

البِرُّ حُسْنُ الخُلُقِ, وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Artinya: “Kebaikan adalah bagusnya budi pekerti, dan (perbuatan) dosa adalah segala sesuatu yang tertanam di dadamu, sedangkan kamu merasa tidak suka jika ada orang lain yang mengetahuinya.” (HR. Muslim no. 2553)

Sebagai standar acuannya (dalam bermuamalah) dan sebagai pelita hidupnya, tentulah tidak akan pernah terjerumus seorangpun -dari mereka- ke dalam lingkaran besar kebingungan dan kerancuan; dengan mengatasnamakan label Al Din (agama), syari’at, dan label halal!! La Haula Wala Quwata Illa Billah (Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Agung).

Kesimpulan bisnis perdagangan -yang baru ini!- terwujud dengan keikutsertaan anggotanya dalam aturan pemasaran (marketing) berbentuk jaringan piramid, yaitu setiap anggotanya merekrut dua anggota baru lainnya, dan setiap orang dari anggota baru tersebut merekrut dua anggota baru lagi… demikian seterusnya!!

Keanggotaan tersebut dilakukan dengan cara pembayaran yang dilakukan oleh seorang yang ingin menjadi anggota -dan ini harus dilakukan!- sebagai tanda pembelian produk abstrak (yang tidak ada kenyataan wujudnya)! Agar dia dapat masuk dalam program bisnis ini!! Sebagai imbalan dari bisnis ini, apabila dia berhasil merekrut sembilan anggota baru lainnya; dia akan mulai mendapatkan keuntungan-keuntungan yang diberikan oleh perusahaan induk!!

Sedangkan untuk kontinuitas/kelanggengan (!) dalam mendapatkan keuntungan ini (!), (setiap anggota) diharuskan terus memperbaharui pembayaran (!!) sebesar uang pendaftaran ulang sebagai anggota pada setiap tahunnya!!!

Dan semakin meluasnya piramid (!) yang bermula dari keikutsertaannya sebagai anggota dan sebagai distributor, semakin banyak pula jumlah anggotanya, dan semakin lama jangka waktunya, serta semakin besar pula nominal uang keuntungan yang dijanjikan dan diimpi-impikannya!! [3]

Semua ini tidak terjamin keselamatannya -sama sekali-; karena hal ini -seperti yang akan datang penjelasannya- dibangun di atas pembayaran uang kontan yang jelas (diketahui) untuk mendapatkan keuntungan yang jauh lebih banyak; namun tidak ada kejelasannya (tidak diketahui)!!

Dan hal ini mengandung unsur spekulasi yang tidak terselubung lagi! Semoga Allah merahmati seorang Imam besar Al Laits bin Sa’ad -yang berkata- tentang masalah ini: “Seandainya orang-orang yang memiliki pemahaman halal dan haram mencermati masalah ini, pastilah mereka tidak akan membolehkannya; karena di dalamnya mengandung unsur spekulasi!” (HR. Al Bukhari, no.2346)

Demikianlah mutiara ilmu dan hikmah yang perlu kita perhatikan dan pahami.

Inilah penjelasan Syaikh Ali Hasan -hafizhullahu- semoga dapat menggugah kita untuk lebih berhati-hati.

Wabillahit Taufiq

Footnotes:
[1] Ini semua dari pernyataan beliau dan footnotenya diangkat dari pengantar beliau dalam kitab Ta’rief ‘Uqalaa’ An Naas bi Hukmi Mu’amalat Biznaas- Wamaa Syabahahaa Fi Al Far’i aw Al Asaas, cetakan pertama tahun 2003M, penerbit Dar Al Janaan dan Daar Al Atsariyah hal 3-8

[2] Sama saja di dalam kenyataan muamalahnya, atau tidak ada keinginannya (untuk bertanya -pent). Maka (hendaknya) seorang muslim yang bertaqwa bertanya tentang hukum syar’inya (lebih dahulu) sebelum dia terjerumus ke dalam muamalah ini atau prakteknya.

[3] Maka motivator utama yang mendorong mayoritas anggota (bisnis marketing ini)! -apalagi para distributornya! Atau para pendukungnya!!- adalah janji -atau praduga! dan mimpi-mimpi!!- untuk bisa meraih kekayaan -hanya dalam jangka waktu satu tahun saja-!!

Walaupun (memang) terbukti pada sebagian mereka -dari para perintis (bisnis ini)!- berupa secuil (kekayaan) yang bisa mereka rasakan(!); (Akan tetapi) sesungguhnya hal ini tidak akan dirasakan oleh sebagian besar -dari anggota yang berposisi di tengah atau di akhir dari sistem piramid bisnis tersebut !-, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya: “Tidaklah sempurna keimanan seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Juga sebagai peringatan bahwa bagian singa jantan -dan betina!- (bagian keuntungan terbesar dan dominan) dari uang pendaftaran -seluruhnya- kembali kepada perusahaan induk!!!

Hal itu (terjadi) karena perusahaan mensyaratkan kepada setiap anggota (!) yang membayar (99) dolar -sebagai persyaratan masuk sistem piramid tersebut!!- untuk merekrut 9 orang (lainnya) sebelum perusahaan memberikan uang komisi pertama kalinya yang pernah dijanjikan, yang besarnya adalah 55 dolar.

Ditambah lagi dengan hasil penjualan (produk) kepada 9 orang yang membuat perusahaan itu -dengan keadaan seperti ini- mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda, jauh di atas beban biaya produksi -yang diklaim ada wujud produknya-, yang harganya tidak lebih sama sekali dari (24) dolar -sesuai pengakuan sebagian para distributor mereka!!-; yaitu: sama dengan: 9 x 75 = 675 dolar, dikurangi 55 dolar, sehingga sisanya 620 dolar -masih ditambah lagi (75 dolar)-, (dari) uang yang diambil dari anggota pertama tadi -tanpa beban biaya produksi-; yaitu: bahwa anggota yang membawa 9 pendaftar (anggota baru lainnya) (!), dia akan mendapatkan 55 dolar, sedangkan para pemilik/perintis perusahaan tersebut saat itu juga mendapatkan -setelah dikalkulasi!- untung bersih sebanyak 695 dolar.

Dan yang mengherankan (!) bahwa para pemilik perusahaan (Biznas) ini -di dalam situs mereka- mengakui (!) bahwa waktu penyediaan situs khusus bagi para pendaftar baru (!) tidak lebih dari (30) detik saja!!

Maka apakah praktek semacam ini berhak mendapatkan uang sebanyak itu?! Ataukah ia hanya penipuan semata; seperti perkataan orang: “Merubah bentuk untuk bisa makan!!!”

***

Penulis: Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel www.ekonomisyariat.com

Kirim Komentar




14 Komentar

  • assalamualaikum ust apakah boleh kita membeli barang yang belum terkena pajak?atas jawabannya ana ucapkan terimakasih

    Reply
  • Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Menarik sekali bahasan diatas, karena saat ini banyak sekali MLM yang beredar dikalangan umat. Kiranya perlu kajian lebih mendalam tentang halal atau haramnya MLM ini. Dimasyarakat beredar MONEY GAME yang katanya MLM. Masyarakat harus didik supaya tau perbedaannya.
    MONEY GAME, tidak mempunyai produk yang berkualitas. tapi MLM maju karena produknya.

    Kalo MLM murni yang membagikan bonus berdasarkan hasil penjualan, rasanya boleh-boleh aja. Coba kita pikirkan, klo ada yang bilang MLM hanya nguntungin yang diatas, apa bedanya dengan transaksi konvensional yang menguntungkan agen, distributor dan produsen.

    contoh : klo kita beli HP ditoko,kita sudah memberikan keuntungan kepada yg pnya toko, distributornya dan juga produsen HPnya. Sama saja dengan MLM, kita membeli produknya, maka kita memberikan keuntungan kepada distributor yang ada dijaringan diatas kita.

    Saya bukannya mengatakan klo MLM itu halal. tapi secara sistem ekonomi, sah-sah saja…

    Terimakasih

    Reply
  • Assalamu’alaikum wrwb,
    Ustad, bagaimana hukum perdagangan valuta asing atau forex yang dilakukan secara on line, bukan money changer, forex on line menggunakan sisteim margin/ leverage/(contoh : bisa menggunakan 1% dari lot/satuan yg diperdagangkan)?

    Reply
    • yang perlu kita ketahui
      margin identik dengan uang jaminan
      sehingga mungkin hanya 1% dari nilai yang akan dibeli
      namun pada hakekatnya tidak membeli valuta asing secara riil walau online sekalipun.
      agar lebih mudah memahaminya saya jelaskan cara margin
      misal :
      awal
      1 USD = Rp 9.000
      misal kita ingin beli 1.000 USD
      misal margin 1:100
      karena memakai margin, kita cukup membayar 1.000 x 1 /100
      = 10 USD
      = Rp 90.000
      ( hanya membayar Rp 90.000 untuk membeli 1.000 USD )

      seiring berjalannya waktu katakanlah 1 hari berikutnya
      posisi USD berbanding Rupiah menjadi
      1 USD = Rp 9.010
      karena kita membayar jaminan untuk 1.000 USD
      maka setelah USD tersebut kita JUAL
      maka ada selisih sebagai berikut :
      nilai akhir – nilai awal ( dihitung dalam USD ke Rupiah )
      ( 9.010 x 1.000 ) – ( 9.000 x 1.000 )
      = Rp 9.010.000 – 9.000.000
      = Rp 10.000
      ( lihat… bagaimana dengan modal Rp 90rb bisa menghasilkan laba Rp 10 rb hanya dalam 1 hari )

      Namun apakah bisa sebaliknya ? Rugi ?
      Tentu saja
      Misal 1 hari berikutnya menjadi:
      1 USD = Rp 8.995
      Jika dirupiahkan menjadi Rp 8.995.000
      Kemudian 5 hari berturut-turut menjadi
      8.900
      8.850
      8.855
      8.850
      8.845
      Apa yang kita pikirkan ?
      Nilainya terus turun dan kelihatan tidak akan naik bukan ?
      Apa yang akan kita lakukan ?
      Tepat…
      Setiap orang akan menJUALnya walaupun rugi
      Namun berapa nilainya sekarang ?
      Rp 8.845.000
      Berapa kesepakatan nilai waktu kita beli
      Rp 9.000.000
      Berarti ada kerugian sebesar
      = Rp 9.000.000 – Rp 8.845.000
      = Rp 155.000
      Padahal berapa uang yang kita jaminkan ?
      Rp 90.000
      Sehingga, berapa yang kita dapatkan ?
      Rp 90.000 – Rp 155.000
      Rp 65.000 ( Rugi )
      artinya uang Rp 90 ribu kita telah hilang
      dan mungkin kita dituntut untuk membayar Rp 65.000
      untuk membayar kerugian valas.

      Oke… oke kita ambil contoh Rp 90 ribu
      karena itu angka yang sangat kecil
      dan kita merasa tidak masalah apabila hilang

      namun apakah kita siap menanggung resiko kehilangan
      Rp 9 Jt… Rp 90 Jt.. Rp 900 Jt dan seterusnya
      dengan konsep dan cara yang sama.
      dan tahukan kita bahwa statistik mengatakan
      90% investor… kehilangan uangnya dengan cara ini
      dan hanya 10% yang untung
      dan tahukah kita siapa 10% itu ?
      Anda tentu bisa menebaknya
      Kesimpulannya…
      Kita tidak akan menang…
      karena sistemnya memang didesain seperti itu
      ibarat judi… yang menang pasti… bandarnya
      adapun pemain… hanya 10% yang beruntung pada beberapa kesempatan

      Reply
  • jika perkenan untuk bertanya, sekiranya ada MLM syari’ah sebagaimana yang berkembang di Indonesia saat ini, MLM S ini tidak menggunakan system piramid ataupun banery system, apakah hal ini dapat di kategorikan dalam system syari’ah sebagaimana di maksud dalam ekonomi syari’ah. maaf jika pertanyaan ini keliru, semata-mata karena saya ingin mencari kebenaran untuk menuju ridlo Allah Swt.

    Reply
  • Yang harus dicermati adalah bagaimana MLM itu memberikan hasil kepada distributornya.apakah melalui bonus ngrekut orang, dari penjualan atau dari yang lain. tidak hanya bisa bilang halal-haram, bohong-atau jujur, susah-mudah tapi tanpa mengerti sistem didalamnya. karena itu kita sendiri juga harus MAU BELAJAR bagaimana sistem MLM itu sebenarnya sehingga tahu mana MLM yang bohongan-HARAM (money game) dan mana yang HALAL. HARUS BELAJAR. karena diakui apa tidak, MLM adalah sistem perekonomian baru dimana kalau tidak dipelajari maka kita sebagai umat muslim akan tertinggal di bidang perekonomian.

    Reply
  • Assalamu alaikum wr wb.
    Saat ini memang telah banyak model bisnis MLM. Dengan berbagai system yang ditawarkan, bahkan ada yg mengkalim dirinya sebagai MLM Syariah (sesuai dengan syariah).
    Menurut saya (yang masih baru belajar, sesuai dengan pemahaman saya saat ini) MLM adalah sebuah sistem perdagangan masuk dalam kategori muamalah.
    Nah, dalam kaidah fiqih, muamalah pada dasarnya adalah halal sampai dengan ada unsur yg mengharamkannya. Tujuan dari sistem MLM sebenarnya sama dengan sistem konvensional, yaitu bagaimana mendistribusikan barang/produk sampai ke konsumen. Hanya saja, banyak orang yang sebenarnya money game mengatakan dirinya MLM. Ustdaz, tolong donk disampaikan dengan jelas, apa saja kriteria
    MLM itu HALAL dan apa saja kriteria yang menyebabkan MLM itu jadi HARAM.
    Karena sudah banyak ragam system MLM yang beredar di negeri ini. Kalau system “piramida” yang menjadi masalah. System konvensional juga begitu (=>Produsen – Distributor – agen – sales – grosir – toko/warung – konsumen)
    Kan tidak mungkin agen itu lebih banyak dari pada grosirnya atau konsumennya?
    Sekarang juga banyak MLM yang tidak mensyaratkan uang pendaftaran awal atau tahunan, mereka cukup membeli produk yg harganya sama ketika membeli pertama kali atau sudah terdaftar, hanya saja jika sudah terdaftar tentu mendapatkan keuntungan sesuai dengan systam pemasaran yang ada.
    Mohon pencerahannya.
    Wassalam dan Terima Kasih

    Reply
  • assalamu ‘alaikum.

    ustadz kholid, masih ada sistem binery dan matahari.

    bagaimana juga itu menurut Islam?

    Reply
  • Assalamu’alaikum wr.wb.
    Kebetulan saya bukan salah satu anggota MLM tetapi sedikit tahu beberapa jenis/type MLM. kalau yg diterangkan di atas cukup jelas tetapi bagaimana dgn MLM yg berbasiskan dgn penjualan yg riil. Dimana ketentuannya sbb:
    1. Biaya keanggotaan sekali seumur hidup dg tujuan utk biaya
    administrasi & pengganti diktat/brosur2 dengan nominal yg
    masuk akal.
    2. Barang yg diperjualbelikan ada & berguna bagi manusia.
    3. Keuntungan didapat dari bonus :
    a. Perekrutan anggota baru/downline dgn alasan sbg peng-
    hargaan telah mengajak orang lain yg berarti menambah
    jumlah keanggotaan bagi perusahaan.
    b. Pembelian barang. Artinya bonus hanya diberikan kalau
    ada pembelian pada waktu tertentu dg jumlah tertentu.
    c. Bonus2 lain yg didasarkan atas prestasi penjualan
    bukan karena rekrutmen anggota baru
    3. Tidak ada ketentuan bahwa yg di atas pasti lebih banyak
    penghasilannya, karena sukses hanya berlaku bagi mereka
    yg produktif & benar2 mau kerja.
    Berdasar hal tsb di atas apakah jenis MLM tsb juga dikategorikan haram? Mohon penjelasan. Terima kasih.

    Reply
  • Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    penjelasan diatas menarik, tapi pemaparan informasi tentang MLM masih dangkal dan terkesan kekurangan referensi informasi.
    penulis tidak memiliki informasi yang cukup mendalam tentang perbedaan MLM dan Money Game dll, terkesan cenderung menyamaratakan padahal sudah pasti ada perbedaan dari setiap jenis program usaha tersebut.
    pemakaian dalil-dalil cenderung dipaksakan dan tidak berhubungan.
    pembahasan suatu topik yang tidak dikuasai dan kekurangan keilmuan dibidang tersebut pada akhirnya mengakibatkan dampak buruk, yaitu kesalahan persepsi pembaca yang awam dan prasangka buruk.
    atas perhatiannya terima kasih

    Reply
  • Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Ustadz, saya mau bertanya,
    1. jika seorang akuntan yang bekerja membuat laporan keuangan bulanan klien nya juga diminta untuk melaporkan pajak bulanan kliennya, apakah pekerjaan nya ini diperbolehkan?
    Jika kita tidak melaporkan pajak,maka kita akan kena denda dari KPP, jika laporan pajak kita salah jg akan kena denda, jika kita tidak byr pajak maka kita kena 4x denda tagihan pajak kita, sedangkan dalam mendirikan usaha harus mendaftar NPWP, kita harus lapor pajak tiap bulan, secara tidak langsung kita belajar hukum pajak agar bisa merencanakan bayar pajak kita tanpa melanggar aturan pajak.

    2. Ustadz, bagaimana hukumnya kita belajar brevet pajak, agar kita tau perkembangan hukum pajak terbaru dan dapat melaporkan pajak sesuai aturan?

    3. Ustadz,bgmn hukumnya menjualkan barang2 produk MLM, tanpa mengajak konsumen menjadi agen MLM (anggota aktif), hanya menjadi anggota pasif, agar mereka mendapat harga diskon, sedangkan mereka menjadi anggota karena mereka cocok dengan produk MLM tsb, mereka butuh untuk kesehatan nya dan rela membayar lebih untuk kualitas barang MLM tsb. Bagaimana pula dengan bonus dari hasil menjual produk MLM tersebut bagi agen MLM ini?

    Terimakasih atas jawaban ustadz, semoga Allah memberi kita Kebaikkan di Dunia dan Akhirat. Amin

    Arief Prima

    Reply
  • kalau kita hanya menggunakan produknya untuk kesehatan boleh gak?

    Reply
  • sepertinya dasar yang dipakai terlalu lemah ya.. gimana kalo produk yang dijual betul2 ada dan bermanfaat untuk bnyk orang? misalnya menyembuhkan penyakit? pasti ada sisi positif yang bs diambil. saya rasa yg lbh berbahaya bknlah MLM yang baik, tapi koruptor jauh lbh berbahaya! kok pengusaha muslim gak prnh tuh mengangkat tema soal KORUPSI? pdhl itu jls2 lho ditentang oleh Islam.. yang adil ya..

    Reply
  • sungguh ulasan yang menarik…
    ijinkan kami share diblog kami

    Reply