<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Membangun Sukses Dengan Syariat</title>
	<atom:link href="http://ekonomisyariat.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekonomisyariat.com</link>
	<description>Meniti Syariat Kembangkan Ekonomi Umat</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 00:51:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ulasan Nasehat untuk Wanita Karir</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/soal-jawab/ulasan-nasehat-untuk-wanita-karir.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/soal-jawab/ulasan-nasehat-untuk-wanita-karir.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 04:17:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Soal Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita Karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena wanita berkarir sebenarmya bukanlah fenomena yang baru muncul kemarin sore, melainkan sejak zaman awal diciptakannya manusia. Hanya cara dan istilahnya yang berbeda pada masing masing zaman. Dan hal yang perlu diperhatikan oleh kita semua khususnya para Muslimah terkait fenomena tersebut adalah tentang bagaimana cara wanita berkarir dalam pandangan Islam. Apa–apa saja yang diperbolehkan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Fenomena wanita berkarir sebenarmya bukanlah fenomena yang baru muncul kemarin sore, melainkan sejak zaman awal diciptakannya manusia. Hanya cara dan istilahnya yang berbeda pada masing masing zaman. Dan hal yang perlu diperhatikan oleh kita semua khususnya para Muslimah terkait fenomena tersebut adalah tentang bagaimana cara wanita berkarir dalam pandangan Islam. Apa–apa saja yang diperbolehkan dan dilarang dalam Islam terkait wanita berkarir.</p>
<p>Gejolak tentang karir wanita dan wanita karir dewasa ini semakin hangat, juga di negara Indonesia yang kita cintai ini. Banyak kalangan yang serius mencurahkan perhatiannya akan masalah ini, termasuk juga komunitas yang menamakan diri mereka kaum Feminis dan pemerhati wanita.</p>
<p>Mereka sering mengusung tema “<strong>pengungkungan</strong>” Islam terhadap wanita dan mempromosikan motto <strong>emansipasi</strong> dan persamaan hak di segala bidang tanpa terkecuali atau lebih dikenal dengan sebutan <strong>kesetaraan gender</strong>. Banyak wanita muslimah terkecoh olehnya, terutama mereka yang tidak memiliki <em>basic</em> ilmu pemahaman keagamaan yang kuat dan memadai.</p>
<p>Semoga tulisan ini menggugah wanita-wanita muslimah untuk kembali kepada fithrah mereka dan memahami hak dan kewajiban Allah atas dirinya . Amîn.</p>
<p><strong>Kondisi Wanita di Dunia Barat</strong></p>
<ul>
<li>Dari sisi historis, terjunnya kaum wanita ke lapangan untuk bekerja dan berkarir semata-mata karena unsur keterpaksaan. Ada dua hal penting yang melatarbelakanginya:<strong><em>
<p>Pertama,</em></strong> terjadinya revolusi industri yang mengundang arus urbanisasi kaum petani pedesaan, tergiur untuk mengadu nasib di perkotaan, karena himpitan sistem kapitalis yang melahirkan tuan-tuan tanah yang rakus. Berangkat ke perkotaan mereka berharap mendapatkan kehidupan yang lebih layak namun realitanya, justru semakin sengsara terpuruk dan menghinakan diri dengan menjadi budak pemilik harta. Mereka mendapat upah yang rendah,dan kadang diperlakukan dengan semena-mena layaknya budak dan tuan.</p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah yang rakus sengaja menggunakan momen terjunnya kaum wanita dan anak-anak, dengan lebih memberikan porsi kepada mereka di lapangan pekerjaan, karena mau diupah lebih murah daripada kaum lelaki, meskipun dalam jam kerja yang panjang dan melelahkan.<span id="more-264"> </span></li>
</ul>
<ul>
<li>Kehidupan yang dialami oleh wanita di Barat yang demikian mengenaskan, sehingga menggerakkan nurani sekelompok pakar untuk membentuk sebuah organisasi kewanitaan yang diberi nama <em>Humanitarian Movement</em> yang bertujuan untuk membatasi <em>eksploitasi </em>kaum kapitalis terhadap para buruh, khususnya dari kalangan anak-anak. Organisasi ini berhasil mengupayakan undang-undang perlindungan anak, akan tetapi tidak demikian halnya dengan kaum wanita. Mereka tetap saja dihisap darahnya oleh kaum kapitalis tersebut. Laksana lintah menghisap mangsa yang tidak akan dilepas hingga tidak ada tempat diperutnya.</li>
<li>Hingga saat ini pun, kedudukan wanita karir di Barat belum terangkat dan masih saja mengenaskan, meskipun sudah mendapatkan sebagian hak mereka. Di antara indikasinya, mendapatkan upah lebih kecil daripada kaum laki-laki, keharusan membayar mahar kepada laki-laki bila ingin menikah, keharusan menanggung beban penghidupan keluarga bersama sang suami, dan lain sebagainya yang jelas keluar dari fitrah wanita .</li>
</ul>
<p><strong>Beberapa Dampak Negatif dari Terjunnya Wanita untuk Berkarir</strong></p>
<p>Di antara dampak-dampak negatif tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Penelitian kedokteran di lapangan (dunia Barat) menunjukkan telah terjadi perubahan yang amat signifikan terhadap bentuk tubuh wanita karir secara biologis, sehingga menyebabkannya kehilangan naluri kewanitaan. Meskipun jenis kelamin mereka tidak berubah menjadi laki-laki, namun jenis wanita semacam ini dijuluki sebagai jenis kelamin ke tiga. Menurut data statistik, kebanyakan penyebab kemandulan para istri yang merupakan wanita karir tersebut bukan karena penyakit yang biasa dialami oleh anggota badan, tetapi lebih diakibatkan oleh ulah wanita di masyarakat Eropa yang secara total, baik dari aspek materiil, pemikiran maupun biologis lari dari fithrahnya (yakni sifat keibuan).</li>
<li>Penyebab lainnya adalah upaya mereka untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Hal inilah yang secara perlahan melenyapkan sifat keibuan mereka, banyaknya terjadi kemandulan serta mandegnya air susu ibu (ASI) sebagai akibat perbauran dengan kaum laki-laki.</li>
<li>Di barat, muncul fenomena yang mengkhawatirkan sekali akibat terjunnya kaum wanita sebagai wanita karir, yaitu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak kecil berupa pukulan yang keras, sehingga dapat mengakibatkan mereka meninggal dunia, gila atau cacat fisik. Majalah-majalah yang beredar di sana menyebutkan nama penyakit baru ini dengan sebutan <em>Battered Baby Syn</em> (penyakit anak akibat dipukul). <em>Majalah Hexagon</em> dalam volume No. 5 tahun 1978 menyebutkan bahwa banyak sekali rumah – rumah sakit di Eropa dan Amerika yang menampung anak-anak kecil yang dipukul secara keras oleh ibu-ibu mereka atau terkadang oleh bapak-bapak mereka.</li>
<li>DR. Ahmad Al-Barr mengatakan, “Pada tahun 1967, lebih dari 6500 anak kecil yang dirawat di beberapa rumah sakit di Inggris, dan sekitar 20% dari mereka berakhir dengan meninggal, sedangkan sisanya mengalami cacat fisik dan mental secara akut. Ada lagi, sekitar ratusan orang yang mengalami kebutaan dan lainnya ketulian setiap tahunnya, ada yang mengalami cacat fisik, idiot dan lumpuh akibat pukulan keras.&#8221;</li>
<li>Para wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga tidak dapat memberikan pelayanan secara berkesinambungan terhadap anak-anak mereka yang masih kecil, karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk karir mereka. Sehingga anak-anak mereka hanya mendapatkan jatah sisa waktu dalam keadaan cape dan loyo.</li>
<li>Berkurangnya angka kelahiran, sehingga pemerintah negara tersebut saat ini menggalakkan kampanye memperbanyak anak dan memberikan penghargaan bagi keluarga yang memiliki banyak anak. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kondisi yang ada di dunia Islam saat ini.</li>
</ol>
<p><strong>Saksi</strong>:<strong> Mereka Berbicara</strong></p>
<ul>
<li>Seorang Filosof bidang ekonomi, Joel Simon berkata, “Mereka (para wanita) telah direkrut oleh pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka.&#8221;</li>
<li>Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan ‘polling’ seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita. Dari hasil ‘polling’ tersebut didapat kesimpulan: “Bahwa sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65% dari mereka lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka.&#8221;</li>
</ul>
<p><strong>Karir Wanita dalam Perspektif Islam</strong></p>
<p>Allah Ta’ala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak.</p>
<p>Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang, pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَوَصَّينَا الإِنسٰنَ بِوٰلِدَيهِ حَمَلَتهُ أُمُّهُ وَهنًا عَلىٰ وَهنٍ وَفِصٰلُهُ فى عامَينِ أَنِ اشكُر لى وَلِوٰلِدَيكَ إِلَىَّ المَصيرُ – سورة لقمان</p>
<p><em>&#8220;Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang, Ibu Bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.&#8221;</em> (Qs. Luqman: 14)</p>
<p>Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga mengurangi staminanya.</p>
<p>Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.</p>
<p>Dienul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya.</p>
<p>Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu (‘iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati, maka nafkahnya dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita.</p>
<p>Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut.</p>
<p>Bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin.</p>
<p><strong>Solusi Islam Terhadap Fenomena Karir Wanita</strong></p>
<p>Ada kondisi yang teramat mendesak yang menyebabkan seorang wanita terpaksa diperbolehkan bekerja ke luar rumah, namun tetap dengan persyaratan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Disetujui oleh kedua orangtuanya atau wakilnya atau suaminya, sebab persetujuannya adalah wajib secara agama dan qadla’ (hukum).</li>
<li>Pekerjaan tersebut terhindar dari ikhtilath (berbaur dengan bukan mahram), khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan laki-laki asing. Sebab ada dampak negatif yang besar jika hal tersebut sampai terjadi,. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:Artinya: <em>&#8220;Tidaklah seorang lak-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali setan mejadi yang ketiganya</em>.&#8221;‌ (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam <em>Al-Fitan</em> 2165, Ahmad 115)<em></em><em>&#8220;Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan seorang wanita, kecuali bila bersama laki-laki (yang merupakan) mahramnya.&#8221; </em>(HR. Bukhari)</li>
</ul>
<ul>
<li>Menutupi seluruh tubuhnya di hadapan  laki-laki asing dan menjauhi semua hal yang memicu timbulnya fitnah, baik di dalam berpakaian, berhias atau pun berwangi-wangian (menggunakan parfum).</li>
<li>Komitmen dengan akhlaq Islami dan hendaknya menampakkan keseriusan dan sungguh-sungguh di dalam berbicara, alias tidak dibuat-buat dan sengaja melunak-lunakkan suara.Firman Allah:<em> “Maka janganlah sekali-kali kalian melunak-lunakan ucapan sehingga membuat condong orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit dan berkata-katalah dengan perkataan yang ma’ruf/baik.&#8221;</em> (Qs. Al-Ahzab:32)</li>
<li>Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at dan kodratnya seperti dalam bidang pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.</li>
</ul>
<p><strong>Beberapa fatwa ulama berkenaan dengan masalah ini.</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:</p>
<p>Apa lahan pekerjaan yang diperbolehkan bagi perempuan muslimah yang mana ia bisa bekerja di dalamnya tanpa bertentangan dengan ajaran-ajaran agamanya?</p>
<p><strong>Jawaban</strong>:</p>
<p>Lahan pekerjaan seorang wanita adalah pekerjaan yang dikhususkan untuknya seperti pekerjaan mengajar anak-anak perempuan baik secara administratif ataupun secara pribadi, pekerjaan menjahit pakaian wanita di rumahnya dan sebagainya. Adapun pekerjaan dalam lahan yang dikhususkan untuk orang laki-laki maka tidaklah diperbolehkan baginya. Karena bekerja pada lahan tersebut akan mengundang ikhtilath sedangkan hal tersebut adalah fitnah yang besar yang harus dihindari.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> telah bersabda:</p>
<p>Artinya:  <em>“Saya tidak meninggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah perempuan‌.”</em></p>
<p>Maka seorang laki-laki harus menjauhkan keluarganya dari tempat-tempat fitnah dan sebab-sebabnya dalam segala kondisi.</p>
<p>(<em>Fatawa Mar&#8217;ah</em>, 1/103)</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:</p>
<p>Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya: Apa hukum wanita yang bekerja? Dan lapangan pekerjaan apa saja yang diperbolehkan bagi seorang wanita untuk bekerja di dalamnya?</p>
<p><strong>Jawaban</strong>:</p>
<p>Tidak seorang pun yang berselisih bahwa wanita berhak bekerja, akan tetapi pembicaraan hanya berkisar tentang lapangan pekerjaan apa yang layak bagi seorang wanita, dan penjelasannya sebagai berikut:</p>
<p>Ia berhak mengerjakan apa saja yang biasa dikerjakan oleh seorang wanita biasa lainnya dirumah suaminya dan keluarganya seperti memasak, membuat adonan kue, membuat roti, menyapu, mencuci pakaian, dan bermacam-macam pelayanan lainnya serta pekerjaan bersama yang sesuai dengannya dalam rumah tangga.</p>
<p>Ia juga berhak mengajar, berjual beli, menenun kain, membuat batik, memintal, menjahit dan semisalnya apabila tidak mendorong pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh syara  seperti berduaan dengan selain mahram atau bercampur dengan laki-laki lain, yang mengakibatkan fitnah atau menyebabkan ia meninggalkan hal-hal yang harus dilakukannya terhadap keluarganya, atau menyebabkan ia tidak mematuhi perintah orang yang harus dipatuhinya dan tanpa ridha mereka.</p>
<p>(<em>Majalatul Buhuts Al-Islamiyah </em>19/160)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sudah waktunya kita memahami betapa agungnya dien Islam di dalam setiap produk hukumnya, berpegang teguh dengannya, menjadikannya sebagai hukum yang berlaku terhadap semua aturan di dalam kehidupan kita serta berkeyakinan secara penuh, bahwa ia akan selalu cocok dan sesuai di dalam setiap masa dan tempat.</p>
<p><strong>Ustadz Yusuf Iskandar</strong></p>
<p>Sumber:</p>
<ol>
<li><em>Amal al-Mar’ah Baina Al-Islam wa Al-Gharb</em>” tulisan Ibrahim an-Ni’mah – Abu Hafshoh)</li>
<li><em>Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah</em>, edisi Indonesia <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq</li>
</ol>
<p>Disalin dari: http://www.hang106.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/soal-jawab/ulasan-nasehat-untuk-wanita-karir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahukah Anda Apa itu Hudud?</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-apa-itu-hudud.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-apa-itu-hudud.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 01:29:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hudud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Allah subhanahu wa ta&#8217;ala al-Hakiem (yang maha bijaksana) senantiasa menjaga hak-hak manusia dan menjaga kehidupan mereka dari kezholiman dan kerusakan. Syariat islam pun ditetapkan untuk menjaga dan memelihara agama, jiwa, keturunan, akal dan harta yang merupakan adh-Dharuriyat al-Khamsu (lima perkara mendesak pada kehidupan manusia). Sehingga setiap orang yang melanggar salah satu masalah ini harus mendapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> al-Hakiem (yang maha bijaksana) senantiasa menjaga hak-hak manusia dan menjaga kehidupan mereka dari kezholiman dan kerusakan. Syariat islam pun ditetapkan untuk menjaga dan memelihara agama, jiwa, keturunan, akal dan harta yang merupakan <em>adh-Dharuriyat</em> <em>al-Khamsu</em> (lima perkara mendesak pada kehidupan manusia). Sehingga setiap orang yang melanggar salah satu masalah ini harus mendapatkan hukuman yang ditetapkan Syari&#8217;at yang disesuaikan dengan pelanggaran tersebut.</p>
<p>Salah satunya adalah penegakan hudud yang menjadi satu keistimewaan ajaran islam dan merupakan bentuk kesempurnaan rahmat dan kemurahan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> kepada makhluknya.<br />
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menyatakan:</p>
<p>&#8220;Hudud berasal dari rahmat untuk makhluk dan kebaikan mereka. Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang yang menghukum manusia Karena dosa-dosa mereka bertujuan dalam melakukannya untuk kebaikan dan rahmat kepada mereka, sebagaimana tujuan orang tua membina anak-anaknya dan dokter dalam mengobati orang yang sakit.&#8221; <sub>(1)</sub></p>
<p><strong>PENGERTIAN HUDUD</strong></p>
<p><em>Hudud</em> adalah kosa kata dalam bahasa Arab yang merupakan bentuk jama’ (plurals) dari kata had yang asal artinya pembatas antara dua benda. Sehingga dinamakan had karena mencegah bersatunya sesuatu dengan yang lainnya. <sub>(2)</sub> Ada juga yang menyatakan bahwa kata had berarti al-man’u (pencegah), sehingga dikatakan Hudud Allah adalah perkara-perkara yang Allah larang melakukan dan melanggarnya <sub>(3)</sub>.</p>
<p>Adapun menurut syar’i, istilah hudud adalah hukuman-hukuman kejahatan yang telah ditetapkan oleh syara’ untuk mencegah dari terjerumusnya seseorang kepada kejahatan yang sama dan menghapus dosa pelakunya. <sub>(4)</sub></p>
<p><strong> DELIK HUKUMAN KEJAHATAN (Jarimah al-Hudud)</strong></p>
<p>Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya sudah menetapkan hukuman-hukuman tertentu bagi sejumlah tindak kejahatan tertentu yang disebut <em>jaraimu al-hudud</em> (delik hukuman kejahatan).</p>
<p>Yaitu meliputi kasus; perzinahan, tuduhan berzina tanpa bukti yang akurat, pencurian, mabuk-mabukan, muharabah<br />
(pemberontakan dalam negara Islam dan pengacau keamanan), murtad, dan perbuatan melampui batas lainnya. <sub>(5)</sub></p>
<p>Dengan demikian Hudud mencakup 7 jenis:</p>
<ol>
<li> Had zina (hukuman Zina) ditegakkan untuk menjaga keturunan dan nasab.</li>
<li> Had al-Qadzf (hukuman orang yang menuduh berzina tanpa bukti) untuk menjaga kehormatan dan harga diri</li>
<li> Had al-Khamr (Hukuman orang yang minum Kamer (minuman memabukkan) untuk menjaga akal</li>
<li> Had as-Sariqah (Hukuman mencuri) untuk menjaga harta</li>
<li> Had al-Hiraabah (hukuman para perampok) untuk menjaga jiwa, harta dan harga diri kehormatan.</li>
<li> Had al-Baghi (Hukuman pembangkang) untuk menjaga agama dan jiwa</li>
<li> Had ar-Riddah (hukuman orang murtad) untuk menjaga agama. <sub>(6)</sub></li>
</ol>
<p><strong>HIKMAH PENSYARIATAN HUDUD<br />
</strong><br />
Hudud disyaria&#8217;tkan untuk kemaslahan hamba dan memiliki tujuan yang mulia. Diantaranya adalah:</p>
<p>a. Siksaan bagi orang yang berbuat kejahatan dan membuatnya jera. Apabila ia merasakan sakitnya hukuman ini dan akibat buruk yang muncul darinya maka ia akan jera untuk mengulanginya kembali dan dapat mendorongnya untuk istiqamah dan selalu taat kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em> &#8220;Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</em>&#8221; (Qs. al-Maidah/5:38)</p>
<p>b. Membuat jera manusia dan mencegah mereka terjerumus dalam kemaksiatan, oleh karena itu Allah memerintahkan untuk mengumumkan had dan menerapkannya dihadapan manusia.</p>
<p><em>&#8220;Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.&#8221;</em> (Qs. an-Nur/24:2)</p>
<p>Syeikh ibnu Utsaimin t menyatakan bahwa diantara hikmah dari hudud adalah membuat jera pelaku untuk tidak mengulangi dan orang lain agar tidak terjerumus padanya dan pensucian dan penghapusan dosa. <sub>(7)</sub></p>
<p>c. Hudud adalah penghapus dosa dan pensuci jiwa pelaku kejahatan tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ubadah bin Shamit radhiallahu &#8216;anhu, ia bertutur:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِك</p>
<p><em>Sesungguhnya Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata dan disekeliling beliau ada sekelompok sahabatnya, “Berjanji setialah kamu kepadaku, untuk tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak  akan mencuri, tidak akan berzina, tidak membunuh anak-anak kamu dan tidak berbuat dusta sama sekali serta tidak bermaksiat dalam hal yang ma&#8217;ruf. Siapa di antara kamu yang menepati janjinya, niscaya Allah akan memberikannya pahala. Tetapi siapa saja yang melanggar sesuatu darinya, lalu diberi hukuman didunia maka hukuman itu adalah sebagai kafarah (penghapus dosanya), dan barangsiapa yang melanggar sesuatu darinya lalu ditutupi olah Allah kesalahannya (tidak dihukum), maka terserah kepada Allah; Kalau Dia menghendaki diampuni-Nya kesalahan orang itu dan kalau Dia menghendaki disiksa-Nya.” </em>(Muttafaqun ’alaih: <em>Fathul Bari</em> I/ 64 no: 18, Muslim 3/1333 no: 1709 dan Nasa’i 7/148)</p>
<p>d. Menciptakan suasana aman dalam masyarakat dan menjaganya.<br />
e. Menolak keburukan, dosa dan penyakit dari masyarakat, karena kemaksiatan apabila telah merata dan menyebar pada masyarakat maka akan diganti Allah dengan kerusakan dan musibah serta dihapusnya kenikmatan dan ketenangan. Untuk menjaga hal ini maka solusi terbaiknya adalah menegakkan dan menerapkan hudud. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).&#8221;</em> (Qs. ar-Rûm/30:41)</p>
<p>Sehingga Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَحَدٌّ يُقَامُ فِيْ الأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوْا ثَلاَثِيْنَ صَبَاحًا</p>
<p><em>Dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Satu hukuman kejahatan yang ditegakkan di muka bumi lebih penduduknya daripada mereka diguyurhujan selama empat puluh hari.”</em> (Hasan ; Shahih Ibnu Majah no; 2057, Ibnu Majah 2/848 no : 2538, Nasa’I 8/76). <sub>(8)</sub></p>
<p><strong> SYARAT PENERAPAN AL-HUDUD </strong><sub>(9)</sub></p>
<p>Penerapan al-Hudud tidak dilakukan tanpa 4 syarat:</p>
<ol>
<li>Pelaku kejahatan adalah seorang mukallaf yaitu baligh dan berakal.</li>
<li> Pelaku kejahatan tidak terpaksa dan dipaksa.</li>
<li> Pelaku kejahatan mengetahui pelarangannya.</li>
<li> Kejahatannya terbukti ia yang melakukannya tanpa ada syubhat. Hal ini bisa dibuktikan dengan pengakuannya sendiri atau dengan bukti persaksian orang lain.</li>
</ol>
<p><strong>HUKUM MENEGAKKAN HUKUMAN HAD</strong></p>
<p>Diwajibkan kepada wali umur (penguasa) untuk menegakkan dan menerapkan hukuman Had kepada seluruh rakyatnya berdasarkan dalil dari al-Qur`aan, as-Sunnah dan Ijma&#8217; serta dituntut qiyas yang shahih. <sub>(10)</sub></p>
<p>Dalil al-Qur`aan diantaranya adalah firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>:</p>
<p><em>&#8220;Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8221;</em> (Qs. al-Maidah/5:38)</p>
<p>Dalil as-Sunnah diantaranya adalah hadits Ubadah bin Shamit yang menuturkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَقِيمُوا حُدُودَ اللَّهِ فِي الْقَرِيبِ وَالْبَعِيدِ وَلَا تَأْخُذْكُمْ فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ</p>
<p><em>“Tegakkanlah hukuman-hukuman (dari) Allah pada kerabat dan lainnya, dan janganlah kecamanan orang yang suka mencela mempengaruhi kamu dalam (menegakkan hukum-hukum) Allah.”</em> (Hasan: Shahih Ibnu Majah No. 2058 dan Ibnu Majah No. 2540)</p>
<p>Demikian juga ulama kaum muslimin sepakat atas hal ini.</p>
<p><strong>TIDAK DIBENARKAN SYAFAAT (REKOMENDASI) PEMBEBASAN HUKUMAN, BILA SUDAH DIMEJA HIJAUKAN</strong></p>
<p>Apabila perkaranya telah masuk ke pemerintah atau telah dimeja hijaukan maka dilarang adanya syafaat (rekomendasi) pembebasan atau pengurangan hukuman. Juga pemerintah tidak boleh menerima syafaat dalam hal ini. Hal ini dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits &#8216;Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em> yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا</p>
<p><em>&#8220;Dari Aisyah radhiallahu &#8216;anha bahwa kaum Quraisy sangat memusingkan mereka ihwal seorang perempuan suku Makhzum yang telah melakukan kasus pencurian. Mereka mengatakan, “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (yaitu mengemukakan permintaan supaya perempuan itu dibebaskan)?” Tidak ada yang berbicara hal itu, kecuali Usamah kesayangan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Beliau menjawab, “Adakah  engkau hendak menolong supaya orang bebas dari hukuman Allah?” Kemudian Nabi </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berdiri lalu berkhutbah, “Hai sekalian manusia, orang-orang sebelum kamu menjadi sesat hanyalah disebabkan apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan (tidak melaksanakan hukuman kepadanya. Demi Allah, kalaulah seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya Muhammad memotong tangannya.”</em> (Muttafaqun ’alaih)<sub>(11)</sub></p>
<p>Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengingkari orang yang member syafaat dalam hukuman had setelah sampai ke pemerintah. Adapun bila belum sampai maka diperbolehkan.</p>
<p>Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah menuturkan:</p>
<p>Tidak boleh menggagalkan (hukuman had) dengan syafaat, hadiah dan yang lainnya dan tidak boleh memberikan syafaat padanya. Siapa yang menggagalkannya karena hal ini –padahal ia mampu menerapkannya- maka semoga laknat Allah, malaikat dan semua manusia menimpanya.<sub>(12)</sub></p>
<p><strong> PIHAK YANG BERWENANG MELAKSANAKAN HUDUD</strong></p>
<p>Tak ada yang berwenang  menegakkan hudud, kecuali imam, kepala negara, atau wakilnya (aparat pemerintah yang mendapat tugas darinya). Sebab, di masa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, Beliaulah yang melaksanakannya, demikian pula para Khalifahnya sepeninggal Beliau. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah juga mengutus Unais <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> untuk melaksanakan hukum rajam, sebagaimana dalam sabdanya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا</p>
<p><em> “Wahai Unais, berangkatlah menemui isteri orang itu, jika ia mengaku (berzina), maka rajamlah!”</em> (HR al-Bukhaari no. 2147)</p>
<p>Demikian juga memerintahkan para sahabat untuk merajam Maa&#8217;iz, dengan menyatakan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اذْهَبُوا بِهِ فَارْجُمُوهُ</p>
<p><em>&#8220;Bawalah ia dan rajamlah.&#8221;</em> (HR al-Bukhaari no. 6815)</p>
<p>Demikian juga karena penentuan hukuman had dibutuhkan ijtihad dan tidak aman dari kezholiman, sehingga wajib dilaksanakan oleh imam atau wakilnya. <sub>(13)</sub></p>
<p><strong>LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SAMA DALAM HUDUD?</strong></p>
<p>Wanita dalam penerapan hukuman had sama seperti lelaki, karena pada asalnya semua yang ditetapkan syari&#8217;at untuk lelaki juga berlaku pada wanita sampai ada dalil yang mengkhususkannya. Hal ini umum berlaku dalam ibadah, mu&#8217;amal ataupun dalam hukuman. Namun para ulama memberikan 3 pengecualian, yaitu:</p>
<p>a. Wanita dihukum dengan duduk sedangkan lelaki dengan berdiri.<br />
b. Pakaian wanita diikat sedangkan lelaki tidak.<br />
c. Jangannya di tahan (diikat) hingga tidak terbuka auratnya, sedangkan lelaki tidak. <sub>(14)</sub></p>
<p>Syeikh ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menyatakan: Inilah yang membedakan wanita dengan laki-laki dalam had karena kebutuhan menuntutnya. Kalau tidak maka pada asalnya wanita sama dengan lelaki.<sub>(15)</sub></p>
<p>Demikianlah selintas permasalahan hudud dalam islam. Mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada kaum muslimin tentang keindahan dan kelengkapan syari&#8217;at islam.</p>
<p>Wabillahitaufiq.</p>
<p><strong> Referensi:</strong></p>
<p>1. <em>Asy-Syarhu al-Mumti&#8217; &#8216;Ala Zad al-Mustaqni&#8217;</em>, Syeikh Muhamad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428, Dar Ibnu al-Jauzi<br />
2. <em>Fat-hu Dzi al-Jalal wa al-Ikram</em>, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428 H, al-Maktabah al-Islamiyah.<br />
3. <em>Al-Mulakhash al-Fiqh</em>, Prof.DR. Sholeh bin Abdillah alfauzaan, cetakan pertama tahun 1423 H, Idârat al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta`<br />
4. <em>Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram</em>, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basâm, cetakan kelima tahun 1423 H, Maktabah al-Asadi.<br />
5.<em> Manhaj as-Salikin Wa Taudih al-Fiqhu Fiddin</em>, Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa&#8217;di, tahqiq Muhammad bin Abdulaziz al-Khudhairi, cetakan pertama tahun 1421 H, Dar al-Wathan<br />
6. Dll.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="EkonomiSyariat.Com" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">EkonomiSyariat.Com</a></p>
<p><strong>Footnes:</strong></p>
<p><sub>(1)</sub> <em>Al-Mulakhosh al-Fiq-hi</em> 2/521 menukil dari Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi&#8217; 7/300.<br />
<sub>(2)</sub> Lihat <em>Al-Mulakhosh al-Fiqh</em> 2/521 dan<em> Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/207<br />
<sub>(3)</sub> <em>Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/206 dan lihat juga <em>Fat-hu al-Jalaah</em> 5/329 dan <em>Mulakhos al-Fiqh</em> 2/521.<br />
<sub>(4) </sub><em>Fiq-hus Sunnah</em> 2/302<br />
<sub>(5)</sub> Lihat <em>Manhaj as-Sâlikin</em>, Syeikh as-Sa&#8217;di hal. 239-244<br />
<sub>(6)</sub> Lihat <em>Sarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/206<br />
<sub>(7)</sub> Lihat lebih lengkap lagi hikmah pensyariatan had ini dalam <em>al-Mulakhosh al-Fiqh</em> 2/521 dan <em>Taudhih al-Ahkâm</em> 6/210-211<br />
<sub>(8)</sub> Lihat pembahasan ini dalam <em>al-Mulakhosh al-Fiqh</em> 2/522-523, dan <em>Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/207-213.<br />
<sub>(9)</sub> Lihat <em>Taudhih al-Ahkaam</em>, Syeikh al-Basaam 6/210 dan Fat-hu Dzil Jalaal 5/330 serta <em>Syar-hu al-Mumti&#8217; </em>14/208<br />
<sub>(10)</sub> Lihat <em>Fathul Bari</em> 12/87 No. 6788, Muslim 2/1315 no 1688,<em> ‘Aunul Ma’bud</em> 12/31 No: 4351, Nasa’I 7/74, Tirmidzi 2/442 no: 1455 dan Ibnu Majah 2/851 no: 2547)<br />
<sub>(10) </sub>Lihat <em>Majmu&#8217; Al-Fataawa</em> 28/298<br />
<sub>(11)</sub> Lihat <em>al-Mulakhosh al-Fiqh</em> 2/523-524<br />
<sub>(14) </sub> Lihat masalah ini pada <em>Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/220-221<br />
<sub>(15)</sub> <em>Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/221</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 3272px; width: 1px; height: 1px;">(15)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-apa-itu-hudud.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Harta Itu Fitnah?</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/benarkah-harta-itu-fitnah.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/benarkah-harta-itu-fitnah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 01:51:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Semua sudah mengenal apa itu harta. Tidak ada seorangpun yang belum mengerti tentang hal ini. Kemasyhurannya telah menenggelamkan seluruh penjuru dunia. Kedudukan harta sangatlah tinggi dihati manusia, menjadi sesuatu yang sangat dicintai dan berharga bagi mereka. Allah berfirman:
 &#8220;Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Dan Sesungguhnya anusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua sudah mengenal apa itu harta. Tidak ada seorangpun yang belum mengerti tentang hal ini. Kemasyhurannya telah menenggelamkan seluruh penjuru dunia. Kedudukan harta sangatlah tinggi dihati manusia, menjadi sesuatu yang sangat dicintai dan berharga bagi mereka. Allah berfirman:</p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Dan Sesungguhnya anusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.&#8221;</em> (Qs. Al-Aadiyat: 6-8)</p>
<p>Harta adalah satu tuntutan kebutuhan pokok manusia untuk hidup di setiap tempat dan zaman, kecuali di akhir zaman, dimana harta berlimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerimanya karena tidak dapat memanfaatkannya. Waktu itu orang sangat semangat untuk sholat dan ibadah yang tentunya lebih baik dari dunia dan seisinya, karena mereka mengetahui dekatnya hari kiamat setelah turunnya nabi Isa. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا وَ إِمَامًا عَدْلاً فَيُكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَ يَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَ يَضَعُ الْجِزْيَةَ وَ يَفِيْضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ وَ حَتَّى تَكُوْنَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا</p>
<p><em>&#8220;Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, telah dekan turunnya Ibnu Maryam pada kalian sebagai pemutus hukum dan imam yang adil, lalu ia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus upeti dan harta melimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang menerimanya, hingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan seisinya.&#8221;</em> (HR Ahmad, dan At-Tirmidzi dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam <em>Shahih al-Jaami’ </em>no. 7077)</p>
<p>Akan terjadi juga sebelumnya satu masa yang berlimpah rezeki hingga khalifah tidak menghitung hartanya dengan bilangan namun menyerahkannya dengan cidukan kedua telapak tangannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَكُونُ فِى آخِرِ أُمَّتِى خَلِيفَةٌ يَحْثِى الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا</p>
<p><em>&#8220;Akan datang diakhir umatku seorang khalifah yang menciduk harta dengan cidukan tidak menghitungnya dengan bilangan.</em>&#8221; (HR Muslim no. 7499)</p>
<p>Semua orang telah mengetahui kegunaan harta di dunia, karenanya mereka berlomba-lomba mencarinya hingga melupakan mereka atau mereka lalai dari memperhatikan perkara-perkara penting yang berhubungan dengan harta. Perkara yang berhubungan dengan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, hingga akhirnya mereka tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini telah dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>dalam sabda beliau:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ؛ أَمِنَ الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ؟!</p>
<p><em>Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?! </em><sub>(1)</sub></p>
<p>Demikianlah realita yang terjadi dimasyarakat kita.<br />
Lalu bagaimana sikap islam terhadap harta ini? Ternyata permasalahan rezeki dan harta telah mendapatkan perhatian besar dalam al-Qur`an. Bayangkan kata rezeki dengan kata turunannya diulang sebanyak 123 kali dan kata harta (al-Maal) dengan kata turunannya diulang sebanyak 86 kali. Padahal Allah tidak mengulang-ulang satu kata kecuali demikian besar urgensinya untuk sang makhluk. Sehingga sudah selayaknya kaum muslimin mengenal dan mengerti bagaimana konsep islam terhadap harta dan sikap yang tepat menjadikan harta sebagai nikmat yang membawa kepada kebahagian dunia dan akherat. Minimal mengetahui harta adalah fitnah yang Allah ujikan kepada makhluk-Nya agar mereka dapat bersyukur dan tegak pada mereka hujjah dan penjelasan yang terang. Semua itu agar orang hidup dengan harta di atas ilmu dan dapat bersabar bila tidak memiliki harta ini.</p>
<p>Allah menciptakan manusia dan memberinya kesukaan kepada syahwat harta, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><em>&#8220;Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).&#8221;</em> (Qs. Ali Imraan/3:14)</p>
<p>Sehingga Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menggambarkan besarnya kecintaan manusia kepada harta dalam sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ ؛ لاَبْتَغَى ثَالِثاً , وَلاَ يَمَلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ , وَيَتُوْبُ الله عَلَى مَنْ تَابَ</p>
<p><em>Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat. </em><em> </em><sub>(2)</sub></p>
<p><strong>Fitnah Harta </strong></p>
<p>Tidak pungkiri lagi harta adalah fitnah yang Allah berikan kepada hamba-Nya sebagaimana firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.&#8221; </em>(Qs. Al-Anfaal/8: 28)</p>
<p>Bahkan menjadi fitnah besar bagi umat islam yang merusak dan meluluh lantakkan semua persendian mereka, sehingga mereka terkapar seperti orang sakit dan menjadi hinaan umat lain. Akal dan hati mereka terkendalikan oleh harta sehingga lambat lain lemahlah kondisi mereka. Tentang bahaya firnah harta ini terhadap umat islam Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> jelaskan dalam sabdanya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ</p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.&#8221;</em> <em> </em><sub>(3)</sub></p>
<p>Demikianlah fitnah harta ini telah melanda umat islam diseluruh penjuru dunia dan menyeret mereka kepada bencana yang demikian hebatnya. Hal ini terjadi setelah kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan penaklukan negara-negara besar seperti Rumawi dan Parsia. Tidak mampu selamat dan menjauhkan diri dari fitnah ini kecuali yang Allah berikan kemampuan untuk memahami nash-nash al-Qur`an dan hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang telah memperingatkan harta dengan benar dan tepat. Hal ini membuatnya mampu melihat sebab-sebabnya dan berusaha menghindarinya. Fitnah ini telah menghancurkan kaum muslimin sebelum musuh-musuhnya mencaplok wilayah dan negara islam.</p>
<p>Semua ini telah di jelaskan dengan sangat gamblang dalam hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berikut:<br />
Memang demikianlah kemenangan dan harta benar-benar fitnah yang dapat menyeret kepada kenacuran dan kelemahan kecuali bila ditempatkan harta-harta tersebut pada tempatnya. Lihatlah bagaimana harta yang menyebabkan seorang menjadi cinta dunia dan takut mati akan melemahkan barisan kaum muslimin sehingga jumlah yang besar tidak memiliki kekuatan lagi. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">&#8220;يُوْشَكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ الأمَمُ كَمَا تَدَاعَى الأكَلَة إِلَى قَصْعَتِهَا&#8221; فَقَالَ قَائِلٌ: أَوَمِنْ قِلّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: &#8220;بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللّه مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيُقْذِفَنَّ اللّه فِي قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ&#8221; فَقَالَ قَائِلٌ: يَارَسُوْلَ اللّه، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: &#8220;حُبُّ الدُّنيَا وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ&#8221;.‏</p>
<p><em>“Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: ”Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya” lalu bertanya seseorang:’apakah kami pada saat itu sedikit?” Beliau menjawab: ”Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan),”, lalu bertanya lagi:’wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu?&#8221;, kata beliau:”Cinta dunia dan takut mati.&#8221;</em> <em> </em><sub>(4)</sub></p>
<p>Sebagaimana yang dikatakan Kaab bin Maalik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قَالَ: فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِسُوْقِ المْدِيْنَةِ، إِذْا نَبَطِيٌ<em> </em><sub>(5)</sub> مِنْ أِنْبَاطِ أَهْلِ الشَّامِ، مِمَنْ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيْعَهُ بِالْمَدِيْنَةِ، يَقُوْلُ: مَنْ يَدُلُّ عَلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيْرُوْنَ لَهُ، حَتَى إِذَا جَاءَنِي دَفَعَ إِلَيَّ كِتَابَا مِنْ مَلِكِ غَسَانَ، فَإِذَا فِيْهِ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي أَنّ َصَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ، وَلَمْ يَجْعَلْكَ الله بِدَارِ هَوَانٍ وَلا مُضِيْعَةٍ، فَالْحَقْ بِنَا نُوَاسِكَ</p>
<p>“Ketika aku berjalan-jalan di pasar Madinah, seketika itu ada seorang petani dari petani-petani penduduk Syam yang datang membawa makanan untuk dijual di pasar Madinah berkata:” siapa yang dapat menunjukkan Kaab bin Malik?”lalu orang-orang langsung menunjukannya sampai dia menemuiku dan menyerahkan kepadaku surat dari raja Ghossaan‏, dan aku seorang yang dapat menulis, lalu aku membacanya, dan isinya: amma ba’du, sesungguhnya telah sampai kepadaku berita bahwa pemimpinmu telah berpaling meninggalkanmu dan sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan bagimu tempat yang hina dan kesia-siaan, maka bergabunglah kepada kami, kami akan menyenangkanmu.”</p>
<p>Para musuh islam selalu mengintai kapan penyakit cinta harta menyebar dan merebak dikalangan kaum muslimin.<br />
Ketika fitnah harta ini menyerang kaum muslimin dan terus mendesak setelah penaklukan negeri-negeri yang merupakan kemenangan din islam. Dengannya Allah mengangkat menara syariat dan meninggikan tiang aqidahnya ditambah dengan adanya harta yang berlimpah yang pernah dimiliki negara-negara besar waktu itu. Maka tidak sedikit dari tokoh sahabat dan tabi’in serta para ulama yang shalih yang tidak berhenti mengingatkan dan memperingatkan kaum muslimin dari bahaya yang akan menimpa mereka. Mereka menjelaska jalan yang lurus yang wajib dijalani dengan kesabaran dan mengingatkan mereka dengan kehidupan Rasuullah dan orang yang beriman bersama beliau dan setelah beliau, dalam rangka mengingatkan umat ini dari harta dan fitnahnya. Orang pertama yang mengingatkan hal ini tentunya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ</p>
<p>“Jika telah ditaklukan untuk kalian negara parsi dan rumawi, kaum apakah kalian? Berkata Abdurrahman bin Auf:” kami melakukan apa yang Allah perintahkan <em> </em><sub>(6)</sub>, beliau berkata:” tidak seperti itu, kalian akan berlomba-lomba kemudian saling berhasad, kemudian saling membenci lalu saling bermusuhan, kemudian kalian berangkat ke tempat-tempat tinggal kaum muhajirin dan kalian menjadikan sebagian mereka membunuh sebagian yang lain.”<em> </em><sub>(7)</sub></p>
<p>Oleh karena itu ketika ditaklukkan gudang harta kisra (raja parsi) Umar bin Khathab <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> menangis dan berkata:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ هَذَا لَمْ يَفْتَحْ عَلَى قَوْمٍ قَطْ إِلا جَعَلَ الله ِبَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ</p>
<p>“Sesungguhnya ini tidak dibukakan bagi satu kaum kecuali Allah menjadikan diantara mereka peperangan.&#8221;</p>
<p>Dengan demikian harta menjadi salah satu syahwat terbesar yang Allah berikan kepada kita.</p>
<p><strong>Harta Antara Nikmat dan Bencana</strong></p>
<p>Memang harta adalah salah satu syahwat terbesar yang dimiliki manusia, namun juga menjadi salah satu sebab mendekatkan diri kepada Allah. Harta menjadi tiang kehidupan seseorang. Ketika ia berusaha mendapatkan harta yang halal untuk membeli rumah, menikah dan memiliki anak yang solih serta berbahagia dengan keluarga dan hartanya, maka hal ini adalah amalan yang disyariatkan. Mukmin yang kuat lebih baik dari yang lemah, seperti sabda Rasulullah <em>shallalahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ ـ لكن النبي عليه الصلاة والسلام رفيق قال :  وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ  .  رواه  مسلم عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</p>
<p>Dengan demikian ada anjuran menjadi hartawan apabila cara mendapatkannya sesuai dengan ajaran islam, sebab harta adalah kekuatan dalam pengertian kesempatan yang diberikan kepada hartawan dalam amal shalih tidak terbatas dan terhitung. Dengan hartanya ia bisa menikahkan para pemuda, mengobati orang sakit, menyantuni para janda dan memberi makan anak yatim dan orang miskin dan lain-lainnya. Oleh karena itu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadikan mukmin yang kaya dekat dari derajat alim yang beramal dengan ilmunya, dalam sabda beliau:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لا حَسَدَ إِلاّ في اثْنَتَيْنِ : رَجلٌ آتَاهُ الله مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُ منهُ آنَاءَ اللّيْلِ و آنَاءَ النّهَارِ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ الله القُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللّيْلِ وَ آنَاءَ النّهَار . متفق عليه</p>
<p><em>&#8220;Demikianlah harta dapat menjadi sebab seornag masuk syurga, namun juga bisa membuat seorang terbang terjerumus ke dalam neraka jahannam.&#8221;</em></p>
<p>Ternyata harta itu bisa menjadi nikmat bila dikeluarkan dan digunakan untuk ketaatan kepada Allah dan akan menjadi bencana bila digunakan untuk keburukan. Hal ini tergantung kepada dari mana mendapatkannya dan bagaimana mengeluarkannya. Oleh karena itu, manusia akan ditanya dihari kiamat tentang hartanya dimana ia mendapatkannya dan kemana ia infakkan.<br />
(Bersambung, insya Allah)</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="EkonomiSyariat.Com" href="http://ekonomisyariat.Com" target="_blank">EkonomiSyariat.Com</a></p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p><sub>(1) </sub>HR. al-Bukhari 2059<br />
<sub>(2)</sub> HR. al-Bukhari no.6436, Muslim no.1049<br />
<sub>(3)</sub> HR. at-Timidzi dalam sunannya kitab <em>Az-Zuhd</em>.<br />
<sub>(4) </sub>Shahih lighairihi (shohih lantaran ada yang lain yang menguatkannya (pen)) dikeluarkan oleh Abu Daud (4297) dari jalan periwayatan ibnu Jabir, ia berkata telah menceritakan kepadaku Abu Abdussalam darinya (Tsauban) secara marfu’<br />
<sub>(5) </sub>Yaitu petani, dinamakan demikian karena dia mengambil manfaat air.<br />
<sub>(6)</sub> Kami memuji, mensyukuri dan memohon tamahan keutamaanNya (Annawawiy 18/96).<br />
<sub>(7)</sub> HR. Muslim (2962).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/benarkah-harta-itu-fitnah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Lengkap Seputar Bangkai</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/ulasan-lengkap-seputar-bangkai.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/ulasan-lengkap-seputar-bangkai.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 06:40:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkai]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Bangkai]]></category>
		<category><![CDATA[Jual Beli Bangkai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Islam dengan kesempurnaan syari&#8217;atnya sangat memperhatikan perkara yang langsung bersinggungan dengan kehidupan manusia apalagi bersinggungan dengan halal dan haram. Sebab makanan yang masuk pada perut seseorang mempengaruhi akhlak dan  dikabulkannya do&#8217;a, sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam sabdanya:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Islam dengan kesempurnaan syari&#8217;atnya sangat memperhatikan perkara yang langsung bersinggungan dengan kehidupan manusia apalagi bersinggungan dengan halal dan haram. Sebab makanan yang masuk pada perut seseorang mempengaruhi akhlak dan  dikabulkannya do&#8217;a, sebagaimana dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik,tidak menerima kecuali yang baik,dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul dalam firman-Nya,”Hai rasul-rasul,makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh .Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</em> (Qs. al-Mu’minun: 51)</p>
<p>Dan Ia berfirman:</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman,makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.”</em> (Qs. al-Baqarah: 172)</p>
<p>Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdo’a: Ya Rabb,Ya Rabb, sedang makanannya haram,minumannya haram,pakaiannya haram,ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!” <sub>(1)</sub></p>
<p>Hal ini tentunya perlu mendapatkan perhatian serius, khususnya dizaman kiwari ini, dimana kaum muslimin telah jauh dari ajaran syari&#8217;atnya dan telah menganggap ringan permasalahan ini. Sehingga ditemui banyak dijual dipasar-pasar hewan sembelihan yang tidak disembelih secara syari&#8217;at alias bangkai.</p>
<p>Agar kita terhindar darinya perlu sekali diulas permasalahan ini.</p>
<p><strong>Pengertian Bangkai<br />
</strong><br />
Bangkai dalam bahasa Arab disebut <em>Al-Mayyitah</em>.</p>
<p><em>Al-Mayyitah</em> dalam pengertian bahasa Arab adalah sesuatu yang mati tanpa disembelih.<sub>(1)</sub> Sedangkan dalam pengertian para ulama syari&#8217;at, <em>Al-Mayyitah</em> (bangkai) adalah hewan yang mati tanpa sembelihan syar&#8217;i, dengan cara mati sendiri tanpa sebab campur tangan manusia dan terkadang dengan sebab perbuatan manusia apabila dilakukan tidak sesuai sembelihan yang diperbolehkan.<sub> (2)</sub></p>
<p>Dengan demikian definisi bangkai mencakup:</p>
<ol>
<li> Yang mati tanpa disembelih, seperti kambing yang mati sendiri.</li>
<li> Yang disembelih dengan sembelihan tidak syar&#8217;i, seperti kambing yang disembelih orang musyrik.</li>
<li> Yang tidak menjadi halal dengan disembelih, seperti babi disembelih seorang muslim sesuai syarat penyembelihan syar&#8217;i. <sub>(3)</sub></li>
</ol>
<p>Para ulama memasukkan kedalam kategori bangkai semua anggota tubuh yang dipotong dari hewan yang masih hidup dengan dasar sabda Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ فَمَا قُطِعَ مِنْهَا فَهُوَ مَيْتَةٌ</p>
<p><em>&#8220;Semua yang dipotong dari hewan dalam keadaan masih hidup adalah bangkai.&#8221;</em> (HR Abu Daud no. 2858dan Ibnu Majah no. 3216 dan dishahihkan Al Albani dalam <em>shahih sunan Abu Daud</em>).</p>
<p>Dengan demikian hukumnya sama dengan hukum-hukum bangkai.</p>
<p><strong>Kenajisan Bangkai</strong></p>
<p>Menilik kepada keadaan hewan bangkai, dapat dibagi menjadi tiga bagian:</p>
<p>1.Yang ada diluar kulit seperti bulu dan rambutnya serta sejenisnya. Hukumnya suci tidak najis <sub>(4)</sub>, didasarkan pada firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).&#8221;</em> (Qs. Al Nahl 16:80)</p>
<p>Ayat ini umum meliputi hewan yang disembelih dan tidak disembelih. Juga Allah menyampaikan ayat ini untuk menjelaskan karunia-Nya terhadap hamba-Nya yang menunjukkan kehalalannya. <sub>(5)</sub></p>
<p>2. Bagian bawah kulitnya seperti daging dan lemak. Hukumnya najis secara ijma&#8217; <sub>(6)</sub> dan tidak dapat disucikan dengan disamak. <sub>(7)</sub></p>
<p>Berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p><em>Katakanlah:&#8221;Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi &#8211; karena sesungguhnya semua itu kotor &#8211; atau binatang disembelih atas nama selain Allah.&#8221;</em> (Qs. Al An&#8217;am 6: 145)</p>
<p>Dikecualikan dalam hal ini:</p>
<p>a. Bangkai ikan dan belalang, didasarkan pada sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ</p>
<p><em>&#8220;Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.&#8221;</em> (HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishahihkan Syeikh Al Albani dalam <em>Silsilah Al Ahadits Al Shohihah</em> no.1118).</p>
<p>b. Bangkai hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir seperti lalat, lebah, semut dan sejenisnya, didasarkan kepada sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالْأُخْرَى شِفَاءً</p>
<p><em>&#8220;Apa bila seekor lalat hinggap di minuman salah seorang kalian maka hendaknya menenggelamkannya kemudian membuangnya, karena ada pada salah satu dari kedua sayapnya penyakit dan yang lainnya obatnya.&#8221;</em> (HR Al Bukhari no. 3320).</p>
<p>c. Tulang, tanduk dan kuku bangkai. Ini semuanya suci sebagaimana dijelaskan imam Al Bukhari dari Al Zuhri tentang tulang bangkai seperti gajah dan lainnya dengan sanad mu&#8217;allaq dalam shahih Al Bukhari (1/342). Imam Al Zuhri menyatakan: Aku telah menemui sejumlah orang dari ulama salaf  menggunakannya sebagai sisir dan berminyak dengannya, mereka memperbolehkannya. <sub>(8)</sub></p>
<p>d. Bangkai manusia dengan dasar sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam:</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya seorang muslim itu tidak najis.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Syeikh Majduddin Ibnu Taimiyah menyatakan: Ini umum mencakup yang hidup dan yang mati. Al-Bukhari menyatakan: Ibnu Abas menyatakan: seorang muslim itu tidak najis baik masih hidup atau setelah mati. <sub>(9)</sub></p>
<p>Beliaupun (syeikh Majduddin Ibnu Taimiyah) membuat bab dalam kitab Al Muntaqa: Bab yang menerangkan bahwa muslim itu tidak najis. <sub>(10)</sub></p>
<p>Sedangkan tubuh orang kafir terjadi perselisihan tentang kesuciannya dan yang rojih adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan kesuciannya, dengan dasar diperbolehkannya menikahi wanita ahlu kitab. Padahal jelas akan bersentuhan dan keringatnya akan menempel dan ini tidak dapat dielakkan khususnya ketika berhubungan intim.</p>
<p>Adapun firman Allah:</p>
<p>&#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.&#8221;</em> (Qs. 9: 28)</p>
<p>Maka najis disini adalah karena keyakinan dan joroknya mereka. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>1. Kulitnya.<br />
Hukum kenajisannya mengikuti hukum bangkainya. Apabila bangkai hewan tersebut suci maka kulitnyapun suci dan bila najis maka kulitnyapun najis. Diantara contoh yang suci adalah ikan dengan dasar firman Allah:</p>
<p>&#8220;<em>Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.&#8221;</em> (Qs. 5:96)</p>
<p>Ibnu Abas menyatakan:  adalah yang diambil hidup-hidup dan  adalah yang diambil sudah mati.<br />
Sehingga kulitnyapun suci. <sub>(11)</sub></p>
<p><strong>Hukum Memakan Bangkai<br />
</strong><br />
Syariat islam telah mengharamkan memakan bangkai dengan dasar pengharaman yang ada dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah. Pengharaman bangkai dalam Al Qur&#8217;an ada dalam beberapa ayat, diantaranya:</p>
<p>Firman Allah:</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.</em>&#8221; (Qs. Al Baqarah 2:173)</p>
<p>Firman Allah:</p>
<p><em>Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya.&#8221;</em> (Qs. Al Maidah 5:3)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah:&#8221;Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi &#8211; karena sesungguhnya semua itu kotor &#8211; atau binatang disembelih atas nama selain Allah.&#8221;</em> (QS. Al An&#8217;am 6:145)</p>
<p>Sedangkan dalam Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> adalah hadits Ibnu Abas <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> beliau berkata:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةً مَيِّتَةً أُعْطِيَتْهَا مَوْلَاةٌ لِمَيْمُونَةَ مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِجِلْدِهَا قَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ قَالَ إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا</p>
<p><em>&#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> mendapati seekor bangkai kambing yang diberikan dari shodaqah untuk Maula (bekas budak) milik Maimunah lalu Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda: Mengapa tidak kalian manfaatkan kulitnya. Mereka menjawab: Inikan bangkai. Beliau bersabda: Yang diharamkan hanyalah memakannya.&#8221;</em> (Muttafaqun &#8216;Alaihi)</p>
<p>Oleh karena itu kaum muslimin sepakat tentang larangan memakan bangkai dalam keadaan tidak darurat.  <sub>(12)</sub></p>
<p><strong>Yang Dihalalkan dari Bangkai</strong></p>
<p>Semua hukum memakan bangkai diatas berlaku pada semua bangkai kecuali dua jenis:</p>
<p>1. Bangkai hewan laut. Didasarkan kepada firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.&#8221; </em>(Qs. 5: 96)</p>
<p>Dan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dalam hadits Abu Hurairoh <em>radhialllahu &#8216;anhu</em> yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ</p>
<p><em>&#8220;Seorang bertanya kepada Rasulullah dengan menyatakan: Wahai Rasulullah! Kami mengarungi lautan dan hanya membawa sedikit air, apabila kami berwudhu dengannya, maka kami kehausan, apakah kami boleh berwudhu dengan air laut? Rasululloh </em><em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em><em> menjawab:  Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.</em>&#8221; (HR Sunan Al Arba&#8217;ah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dan dishahihkan Al Albani dalam <em>Al Irwa&#8217;</em> no.9 dan <em>Silsilah Al Ahadits Al Shahihah</em> no. 480)</p>
<p>Juga sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ</p>
<p><em>&#8220;Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.&#8221;</em> (HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishahihkan Syeikh Al Albani dalam <em>Silsilah Al Ahadits Al Shahihah</em> no.1118)</p>
<p>Hal ini dikuatkan dengan amalan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan para sahabatnya yang memakan bangkai ikan yang ditemukan dipantai, sebagaimana dijelaskan Jabir dalam pernyataan beliau:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">غَزَوْنَا جَيْشَ الْخَبَطِ وَأُمِّرَ أَبُو عُبَيْدَةَ فَجُعْنَا جُوعًا شَدِيدًا فَأَلْقَى الْبَحْرُ حُوتًا مَيِّتًا لَمْ نَرَ مِثْلَهُ يُقَالُ لَهُ الْعَنْبَرُ فَأَكَلْنَا مِنْهُ نِصْفَ شَهْرٍ فَأَخَذَ أَبُو عُبَيْدَةَ عَظْمًا مِنْ عِظَامِهِ فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحْتَهُ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُلُوا رِزْقًا أَخْرَجَهُ اللَّهُ أَطْعِمُونَا إِنْ كَانَ مَعَكُمْ فَأَتَاهُ بَعْضُهُمْ فَأَكَلَهُ</p>
<p><em>&#8220;Kami berperang pada pasukan Al Khobath (dinamakan demikian karena mereka memakan dedaunan yang gugur dari pohonnya) dan yang menjadi amir (panglima) adalah Abu Ubaidah, lalu kami merasa sangat lapar. Tiba-tiba lautan melempar bangkai ikan yang tidak pernah kami lihat sebesar itu, dinamakan ikan Al Anbar (paus). Lalu kami memakan ikan tersebut selama setengah bulan, lalu Abu Ubaidah memasang salah satu tulangnya lalu orang berkendaraan dapat lewat dibawahnya. Ketika kami sampai diMadinah, kami sampaikan hal tersebut kepada Nabi n lalu beliau bersabda: Makanlah! Itu rizki yang Allah karuniakan. Berilah untuk kami makan bila ada (sekarang) bersama kalian. Lalu sebagian mereka menyerahkannya dan beliau </em><em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em><em> memakannya.&#8221;</em> (HR Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>2. Belalang. Didasarkan pada hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ</p>
<p><em>&#8220;Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.&#8221;</em> (HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishahihkan Syeikh Al Albani dalam<em> Silsilah Al Ahadits Al Shahihah</em> no.1118).</p>
<p>Hal inipun didukung oleh perbuatan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan para sahabatnya yang memakan belalang seperti dikisahkan Abdullah bin Abi &#8216;Aufa:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ أَوْ سِتًّا كُنَّا نَأْكُلُ مَعَهُ الْجَرَادَ</p>
<p><em>Kami berperang bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dalam tujuh atau enam peperangan, kami memakan bersama beliau belalang.</em>&#8221; (HR Al Jamaah kecuali Ibnu Majah)</p>
<p>Demikian juga para ulama sepakat membolehkan memakan belalang.</p>
<p><strong>Hukum Menjual Bangkai<br />
</strong><br />
Syari&#8217;at islam melarang menjual bangkai sebagaimana dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dalam sabdanya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khomer (miras), bangkai, babi dan patung berhala. Lalu ada yang berkata: Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang lemak bangkai, karena ia dapat digunakan untuk mengecat (mendempul) perahu, meminyaki kulit dan untuk bahan bakar lampu. Maka beliau menjawab: Tidak boleh! Itu haram. Kemudian Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em><em> bersabda ketika itu: Semoga Alah mencelakakan orang Yahudi, sungguh Allah telah mengharamkan lemaknya , lalu mereka meleburnya (menjadi minyak) kemudian menjualnya dan memakan hasil jualnya.&#8221;</em> (HR Al Jama&#8217;ah)</p>
<p>Larangan ini bersifat umum pada semua bangkai termasuk manusia, kecuali hewan laut dan belalang. Larangan menjual bangkai manusia mencakup muslim dan kafir. Oleh karena itu Imam Al Bukhari membuat Bab dalam kitab shahihnya dengan judul: <em>Bab Thorhu Jaif Al musyrikin Wala Yu&#8217;khodz Lahum Tsaman (Bab yang menjelaskan membuang bangkai orang-orang musyrikin dan tidak mengambil untuknya tebusan harta).</em></p>
<p>Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap bab ini dengan menyatakan: pernyataan imam Al Bukhari: (Tidak mengambil untuknya tebusan harta) mengisyaratkan kepada hadits Ibnu Abas yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">&#8221; أَنَّ الْمُشْرِكِينَ أَرَادُوا أَنْ يَشْتَرُوا جَسَدَ رَجُلٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَأَبَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَهُمْ إِيَّاهُ  &#8221; أخرجه الترمذي وغيره</p>
<p>Sungguh kaum musyrikin ingin membayar jasab seorang musyrikin, lalu Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> enggan menjualnya kepada mereka. (HR Al Tirmidzi dan selainnya)  <sub>(13)</sub>. Ibnu Ishaaq dalam kitab Al Maghazi menyebutkan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">&#8221; أَنَّ الْمُشْرِكِينَ سَأَلُوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيْعَهُمْ جَسَدَ نَوْفَلَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُغِيْرَةِ , وَكَانَ اقْتَحَمَ الْخَنْدَقَ ; فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ حَاجَةَ لَنَا بِثَمَنِهِ وَلاَ جَسَدِهِ &#8220;</p>
<p>Sungguh kaum musyrikin meminta Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> untuk menjual kepada mereka jasad Naufal bin Abdillah bin Al Mughiroh dan ia dulu ikut menyerang Khondak. Maka Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> menjawab: Tidak butuh dengan nilai harganya dan tidak juga jasadnya.</p>
<p>Ibnu Hisyam menyatakan:</p>
<p>&#8220;Telah sampai kepada kami dari Al Zuhri bahwa mereka telah mengeluarkan untuk itu sepuluh ribu. &#8221;</p>
<p>Imam Bukhari mengambil sisi pendalilan atas hadits bab dari sisi adat menguatkan bahwa keluarga orang kafir yang terbunuh diperang badar seandainya mengetahui akan diterima uang tebusan mereka untuk mendapatkan jasad-jasad mereka (yang terbunuh) tentulah akan mengeluarkan sebanyak mungkin untuk itu. Hal ini adalah penguat atas hadits Ibnu Abas walaupun sanadnya tidak kuat. <sub>(14)</sub></p>
<p><strong>Hikmah Pengharaman Bangkai </strong> <sub>(15)</sub></p>
<p>Sebagian ulama menyampaikan beberapa hikmah pengharaman bangkai, diantaranya:</p>
<p>a. Bangkai pada umumnya berbahaya karena mati Karena sakit atau lemah atau karena mikroba, bakteri dan virus serta yang sejenisnya yang mengeluarkan racun. Terkadang mikroba penyakit tersebut bertahan hidup dalam bangkai tersebut cukup lama.</p>
<p>b. Tabiat  manusia menolaknya dan menganggapnya jijik dan kotor.<br />
c. Adanya darah jelek yang tertahan tidak keluar yang tidak hilang kecuali dengan sembelihan syar&#8217;i.</p>
<p>Dengan demikian, mudah-mudahan membuat kita semakin berhati-hati dalam memilih makanan yang dimakan.</p>
<p>Wabillahi Al-Taufiq.</p>
<p><strong>Referensi:<br />
</strong></p>
<ol>
<li> <em>Al Qamus Al Muhieth</em>, Al Fairuzzabadi, tahqiq Muhammad Na&#8217;im Al &#8216;Urqususi, cetakan kelima tahun 1416H, Muassasah Al Risalah, Bairut.</li>
<li> <em>Al Ath&#8217;imah Wa Ahkaam Al Shoid Wal Dzabaa&#8217;ih</em>, DR. Sholeh bin Abdillah Al Fauzan, cetakan kedua tahun 1419H, Maktabah Al Ma&#8217;arif, Riyadh.</li>
<li> Catatan penulis dari keterangan Syaikhuna Abdulqayyum bin Muhammad Al Syahibani dalam <em>pelajaran Hadits di Fakultas hadits, Universitas Islam Madinah.</em></li>
<li> <em>Syarhul Mumti&#8217; &#8216;Ala Zaad Al Mustaqni&#8217;</em>, Syeikh Ibnu Utsaimin, tahqiq DR. Kholid Al Musyaiqih dan Sulaimin Abu Khoil, cetakan kedua tahun 1414 H, Muassasatu Aasaam.</li>
<li> <em>Shahih Fiqhus Sunnah</em>, Abu Malik Kamal bin Al Sayyid Saalim, tanpa tahun, Al maktabah Al Taufiqiyah, Kairo, Mesir 1/73.</li>
<li> <em>Nailul Authar Bi Syarhi Al Muntaqa Lil Akhbaar</em>, Muhamad bin Ali Al Syaukani, Tahqiq Muhammad saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415H, Darul Kutub Al &#8216;Ilmiyah, Baerut</li>
<li> <em>Al Mughni</em>, Ibnu Qudamah, Tahqiqi Abdullah bin Abdulmuhsin Al Turki, cetakan kedua tahun 1413H, Dar Hajar.</li>
<li> <em>Fathul Baari Syarah Shahih Al Bokhari</em>, Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Maktabah Al Salafiyah, tanpa cetakan dan tahun.</li>
</ol>
<p><strong>Footnotes:</strong></p>
<p><strong> </strong> <sub>(1) </sub>Lihat, <em>Al Qamus Al Muhieth</em>, Al Fairuzzabadi, tahqiq Muhammad Na&#8217;im AL &#8216;Urqususi, cetakan kelima tahun 1416H, Muassasah Al Risalah, Bairut. hal 206.<br />
<strong> </strong> <sub>(2) </sub><em>Al Ath&#8217;imah Wa Ahkaam Al Shoid Wal Dzabaa&#8217;ih</em>, DR. Sholeh bin Abdillah Al Fauzan, cetakan kedua tahun 1419H, Maktabah Al Ma&#8217;arif, Riyadh, hal. 195<br />
<strong> </strong> <sub>(3)</sub> Diambil dari catatan penulis dari keterangan Syeikhuna Abdulqayyum bin Muhammad Al Syahibani dalam pelajaran <em>Hadits di Fakultas Hadits, Universitas Islam Madinah</em> tanggal 13 Jumadal Ula 1418H.<br />
<strong> </strong> <sub>(4)</sub> <em>Syarhul Mumti&#8217; &#8216;Ala Zaad Al Mustaqni&#8217;,</em> Syeikh Ibnu Utsaimin, tahqiq DR. Kholid Al Musyaiqih dan Sulaimin Abu Khoil, cetakan kedua tahun 1414 H, Muassasatu Aasaam, 1/78<br />
<strong> </strong> <sub>(5)</sub> Diambil dari catatan penulis dari keterangan Syeikh Abdul Qayyum.<br />
<strong> </strong> <sub>(6)</sub> <em>Shahih Fiqhus Sunnah</em>, Abu Malik Kamal bin Al Sayyid Saalim, tanpa tahun, Al maktabah Al Taufiqiyah, Kairo, Mesir 1/73.<br />
<strong> </strong> <sub>(7) </sub><em>Syarhul Mumti&#8217;</em> 1/78<br />
<strong> </strong> <sub>(8)</sub> Lihat<em> Shahih fiqhus Sunnah</em> 1/73.<br />
<strong> </strong> <sub>(9)</sub> Lihat <em>Nailul Authar Bi Syarhi Al Muntaqa Lil Akhbaar</em>, Muhamad bin Ali Al Syaukani, Tahqiq Muhammad saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415H, Darul Kutub Al &#8216;Ilmiyah, Baerut 1/67<br />
<strong> </strong> <sub>(10) <em>I</em></sub><em>bid</em><br />
<strong> </strong> <sub>(11) </sub><em>Syarhul Mumti&#8217;</em> 1/69<br />
<strong> </strong> <sub>(12)</sub> Lihat <em>Al Mughni</em>, Ibnu Qudamah, Tahqiqi Abdullah bin Abdulmuhsin Al Turki, cetakan kedua tahun 1413H, Dar Hajar. 13/330<br />
<strong> </strong> <sub>(13)</sub> Didhaifkan Syeikh Al Albani dalam <em>Dha&#8217;if sunan At Tirmidzi</em><br />
<strong> </strong> <sub>(14)</sub> <em>Fathul Baari Syarah Shahih Al Bokhari</em>, Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Maktabah Al Salafiyah, tanpa cetakan dan tahun, 6/283<br />
<strong> </strong> <sub>(15)</sub> Diambil dari kitab <em>Al Ath&#8217;imah</em> karya Syeikh Sholih Al Fauzan hal. 196</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="ekonomisyariat.com" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">ekonomisyariat.com</a></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 285px; width: 1px; height: 1px;">(1)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/ulasan-lengkap-seputar-bangkai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahukah Anda Kaidah Penting dalam Ittiba?</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-kaidah-penting-dalam-ittiba.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-kaidah-penting-dalam-ittiba.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 05:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kaidah Ittiba']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Untuk menetapkan makna dan hakikat ittiba yang telah lalu, akan aku sebutkan beberapa kaidah berikut ini:
1. Agama Islam dibangun di atas wahyu dan dalil yang shahih, bukan akal dan pendapat. Maka jika datang suatu perintah ataupun larangan dari Kitabullah atau sunnah (hadits) Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, wajib bagi menerimanya dan bersegera untuk menerapkannya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk menetapkan makna dan hakikat ittiba yang telah lalu, akan aku sebutkan beberapa kaidah berikut ini:</p>
<p>1. Agama Islam dibangun di atas wahyu dan dalil yang shahih, bukan akal dan pendapat. Maka jika datang suatu perintah ataupun larangan dari Kitabullah atau sunnah (hadits) Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, wajib bagi menerimanya dan bersegera untuk menerapkannya dengan melaksanakan perintah atau menjauhi larangan.</p>
<p>Oleh karena itu dahulu para salaf berjalan mengikuti nash-nash. Mereka menghukumi seseorang di atas jalan yang benar selama dia mengikuti atsar. <sub>(</sub><sub>Lihat perkataan Ibnu Sirin yang semisal dengan ini di dalam <em>Sunan Ad-Darimi</em> no. 140)</sub></p>
<p>Zuhri berkata, “Risalah datangnya dari Allah, kewajiban Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah menyampaikan dan kewajiban kita adalah menerimanya.” <sub>(</sub><sub>Shahih Bukhari, <em>Fathul Bari</em> (13/504)</sub></p>
<p>Ketika menjelaskan perkataan Ath-Thahawi, “Telapak kaki Islam tidak akan tegak kecuali di atas permukaan menerima dan pasrah,” Ibnu Abil ‘Izz berkata, “Yaitu tidak akan kokoh keislaman seseorang yang tidak menerima dan tunduk kepada nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, tidak menolaknya dan tidak mempertentangkannya dengan pendapat, akal dan logikanya.”<sub>(Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (1/219))</sub></p>
<p>2. Wajib bagi seorang Muslim untuk mencari tahu tentang hukum syar’i dan memastikannya sebelum mengamalkannya di dalam semua urusan hidupnya. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perkara (tuntunan-pen) kami padanya maka tertolak.”</em> <sub>(Riwayat Muslim (3/1343) no: 1718))</sub></p>
<p>Asy-Syathibi berkata, “Setiap orang yang mencari sesuatu yang tidak disyariatkan di dalam beban-beban syariat (ibadah-pen), berarti dia telah menyelisihi syariat. Dan setiap orang yang menyelisihi syariat, amalan dia di dalam penyelisihan itu adalah batil (sia-sia). Maka barangsiapa mencari sesuatu yang tidak disyariatkan di dalam beban-beban syariat, berarti amalannya juga batil.” <sub>(<em>Al-I’tisham</em> karya Asy-Syathibi (2/358))</sub></p>
<p>Alangkah indahnya perkataan seorang khalifah yang lurus, Ali <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, ketika dia berkata, “Janganlah kalian mengikuti sunnahnya orang-orang (yang masih hidup –pen). Karena sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amalan ahli surga kemudian dia berbalik lalu melakukan amalan ahli neraka sehingga dia mati dan termasuk ahli neraka. Dan sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amalan ahli neraka kemudian dia berbalik – karena Allah mengetahui tentangnya – lalu dia melakukan amalan ahli surga sehingga dia mati dan termasuk ahli surga. Dan jika kalian memang harus melakukannya (mengikuti suatu sunnah –pen), maka hendaknya terhadap orang-orang yang telah wafat, bukan yang masih hidup.” Beliau mengisyaratkan kepada Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat beliau yang mulia. <sub>(<em>Al-Muwafaqaat</em> (2/333)</sub></p>
<p>Dan juga perkataan Abu Zinad, “Sesungguhnya sunnah-sunnah dan sisi-sisi kebenaran banyak yang datang menyelisihi akal. Maka mau tidak mau kaum muslimin harus mengikutinya. Di antaranya, bahwa seorang wanita haidh mengganti puasa namun tidak mengganti shalat.” <sub>(Riwayat al-Bukhari, lihat <em>Fathul Bari </em>(4/192). Ibnu Hajar berkata, “Dan perkataan Abu Zinad, ‘sesungguhnya sunnah-sunnah banyak yang datang menyelisihi akal’, seakan-akan beliau mengisyaratkan kepada perkataan Ali, ‘seandainya agama ini (bersandar) dengan akal, tentunya bagian bawah sepatu lebih berhak untuk diusap dari pada bagian atasnya.’ Riwayat ini dikeluarkan oleh Ahmad (1267), Abu Daud (162), Ad-Daruquthni (1/199) dan para perawinya adalah tsiqaat (orang-orang yang terpercaya). Dan banyak yang semakna dengan ini di dalam <em>asy-Syar’iyat</em>.”)</sub></p>
<p>3. Maksud dari ittiba’ kepada Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah mengamalkan segala sesuatu yang beliau bawa di dalam al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> kepada beliau, baik berupa perintah maupun larangan, dan juga mengamalkan sunnah yang suci. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَلاَ إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ</p>
<p><em>“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab bersama dengan yang semisalnya. Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab bersama dengan yang semisalnya.”</em><sub>(Riwayat Ahmad (4/131) dishahihkan oleh al-Albani di dalam <em>Shahihul Jami’</em> (1/516) no: 2643)</sub></p>
<p>‘Atha berkata, “Mentaati Rasul adalah dengan mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah.”<sub>(Riwayat Ad-Darimi (1/77) no: 223)</sub></p>
<p>Al-‘allamah As-Sa’di berkata, “Sesungguhnya wajib bagi seluruh hamba untuk berpegang dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak halal menyelisihinya. Dan sesungguhnya pernyataan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sama dengan pernyataan Allah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam memberikan hukum. Maka tidak ada keringanan ataupun alasan bagi seorangpun untuk meninggalkannya. Dan tidak boleh mendahulukan perkataan seseorang atas perkataan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.” <sub>(<em>Tafsir as-Sa’di</em> (7/333))</sub></p>
<p>4. Ibadah-ibadah yang ditinggalkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan tidak beliau lakukan padahal ada sebab yang menuntutnya pada zaman beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka melakukannya adalah bid’ah sedangkan meninggalkannya adalah sunnah. Seperti perayaan maulid, menghidupkan malam isra’ mi’raj, merayakan hijrah dan tahun baru serta yang semisalnya.</p>
<p>Hal ini ditunjukkan oleh sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perkara (tuntunan-pen) kami padanya maka tertolak.”</em><sub>(Riwayat Muslim (3/1343) no: 1718)</sub></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullahu</em> berkata, “Apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu, maka pada hari ini juga bukan merupakan agama.” <sub>(<em>Al-I’tisham</em> karya Asy-Syathibi (1/49))</sub></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullahu</em> berkata, “Meninggalkan sesuatu secara terus-menerus adalah sunnah, sebagaimana perbuatan yang terus-menerus adalah sunnah.&#8221; <sub>(<em>Al-Fatawa </em>karya Ibnu Taimiyah (26/172))</sub></p>
<p>Ibnu Katsir rahim berkata, “Adapun ahlu sunnah wal jama’ah, mereka berkata bahwa setiap perkataan dan perbuatan yang tidak tetap dari para sahabat g adalah bid’ah. Karena seandainya baik, tentunya mereka telah mendahului kita kepadanya.”<sub>(<em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em> (4/156))</sub></p>
<p>5.  Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia di dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama, di dalam urusan dunia dan akhirat, yang berupa ibadah dan muamalah, dalam keadaan damai ataupun perang, dalam masalah politik atau ekonomi, maka syariat menjelaskan dan menerangkannya. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ</p>
<p>“<em>Dan telah Kami turunkan suatu kitab kepadamu sebagai penjelas terhadap segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.”</em> (Qs. An-Nahl: 89)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا</p>
<p><em>“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama.”</em> (Qs. Al-Maidah: 3)</p>
<p>Seorang dari kaum musyrikin berkata kepada Salman Al-Farisi: “Apakah Nabimu mengajarkan segala sesuatu kepada kalian sampai pun pada masalah buang air?”</p>
<p>Maka Salman menjawab, “Benar, beliau telah melarang kami dari menghadap kiblat ketika buang air besar maupun kecil … – sampai akhir hadits.” <sub>(Riwayat Muslim (1/223) no. 262, lihat<em> Tafsir As-Sa’di</em> (4/230, 231))</sub></p>
<p>6. Ittiba’ tidak akan terwujud kecuali jika amalan sesuai dengan syariat di dalam enam perkara, yaitu:</p>
<ol>
<li> Sebab. Jika seseorang beribadah kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dengan satu ibadah yang disertai dengan sebab yang tidak syar’i maka ibadah ini tertolak kepada pelakunya. Contohnya, menghidupkan malam ke dua puluh tujuh bulan Rajab dengan shalat tahajjud, dengan anggapan bahwa malam itu adalah malam isra’ mi’raj.<br />
<sub>(Penetapan malam isra’ mi’raj telah dipeselisihkan oleh para ulama dan muncul lebih dari sepuluh pendapat. Lihat <em>Fathul Bari</em> karya Ibnu Hajar (7/203). Dan Syaikh Ibnu Baaz memiliki perkataan yang berharga tentang hal ini. Beliau berkata, “Malam terjadinya isra’ dan mi’raj ini tidak ada penentuannya di dalam hadits-hadits yang shahih. Semua riwayat yang datang tentang penentuannya, tidak ada yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menurut ulama ahli hadits. Dan Allah memiliki hikmah yang dalam dimana Allah menjadikan manusia lupa terhadapnya. Seandainya penentuan malam itu benar, kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan suatu ibadah apapun dan mereka tidak boleh merayakannya. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat beliau tidak merayakannya dan tidak mengkhususkannya dengan sesuatu apapun. Seandainya perayaan itu adalah perkara yang disyariatkan, tentunya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menjelaskannya kepada umat ini dengan perkataan dan perbuatan. Dan seandainya hal itu terjadi, tentunya telah diketahui, dikenal dan para sahabat tentunya telah menukilkannya kepada kita. Sesungguhnya mereka telah menukilkan dari Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> segala sesuatu yang dibutuhkan umat ini dan mereka tidak akan meremehkan sesuatupun dari agama ini. Bahkan mereka adalah orang-orang yang pertama kali menuju kebaikan. Maka seandainya perayaan malam ini disyariatkan, pasti mereka adalah orang-orang yang paling pertama melakukannya. Dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling menghendaki kebaikan bagi manusia. Beliau telah menyampaikan risalah dengan sungguh-sungguh dan telah menunaikan amanah. Maka seandainya pengagungan terhadap malam ini termasuk di dalam agama Islam, tentunya Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak akan lalai atau menyembunyikannya. Maka tatkala hal ini tidak terjadi sama sekali, diketahuilah bahwa perayaan dan pengagungan terhadap malam itu bukan dari agama Islam sama sekali.” (<em>Lihat Fatwa Lajnah Daimah </em>(3/65))</sub>Maka shalat tahajjud pada asalnya adalah ibadah, namun ketika dikaitkan dengan sebab ini, maka menjadi bid’ah karena dibangun di atas sebab yang tidak ditetapkan secara syar’i.</li>
<li> Jenis. Jika seseorang beribadah kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dengan suatu ibadah yang jenisnya tidak disyariatkan, maka ibadah itu tidak diterima. Contohnya, menyembelih kuda sebagai hewan kurban. Karena hewan kurban hanya dari jenis binatang ternak onta, sapi dan kambing.</li>
<li> Ukuran. Seandainya ada seseorang yang ingin menambah satu shalat sebagai shalat wajib atau menambah satu raka’at dalam shalat wajib, maka amalannya ini adalah bid’ah dan tertolak. Karena amalan (shalat) itu menyelisihi syari’at di dalam ukuran dan bilangannya.</li>
<li> Tatacara. Jika seseorang membolak-balik wudhu dan shalat, maka wudhu dan shalatnya tidak akan sah. Karena amalannya menyelisihi syari’at di dalam kaifiyah (tatacara).</li>
<li> Waktu. Seandainya seseorang menyembelih hewan kurban di bulan Rajab atau puasa Ramadhan di bulan syawwal atau wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzulqa’idah, maka itu semua tidak akan sah karena menyelisihi syari’at di dalam waktu.</li>
<li> Tempat. Jika seseorang melakukan i’tikaf di rumahnya, tidak di masjid atau dia wukuf pada tanggal sembilan Dzulhijjah di Muzdalifah, maka hal itu tidak sah karena menyelisihi syari’at di dalam tempat. <sub>(Lihat <em>Al-Ibda’ fii Bayaani Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtida’</em> karya Syaikh Ibnu Utsaimin halaman 21, 22)</sub></li>
</ol>
<p>7.  Asal di dalam ibadah bagi mukallaf adalah ta’abbud (merendahkan diri dan tunduk –pen) dan imtitsal (mewujudkan ketaatan –pen) tanpa melihat kepada hikmah-hikmah atau amalan-amalan yang dikandungnya, meskipun kadang nampak jelas pada sebagian banyak darinya.</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaiman <em>rahimahullahu</em> berkata menetapkan hal ini, “Wajib kita ketahui bahwa hikmah adalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, maka kita wajib menerimanya. Jika ada seseorang yang bertanya kepada kita tentang hikmah di dalam suatu perkara, kita jawab bahwa sesungguhnya hikmah adalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. Dalilnya dari al-Qur’an al-Karim adalah firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ</p>
<p><em>“Tidak pantas bagi seorang laki-laki atau perempuan yang beriman memiliki pilihan di dalam urusan mereka jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu urusan.”</em> (Qs. Al-Ahzaab: 36)</p>
<p>Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em> pernah ditanya, kenapa seorang wanita yang haidh mengganti puasanya tetapi tidak mengganti shalat? Maka beliaupun menjawab, “Dahulu hal itu juga menimpa kita, lalu kami diperintah untuk mengganti puasa tapi tidak diperintah untuk mengganti shalat.<sub>(Lihat <em>Shahih Bukhari </em>dengan<em> Fathul Bari</em> (1/501) no. 321)</sub></p>
<p>Maka beliau berdalil dengan sunnah dan tidak menyebutkan ‘illah (alasannya). Inilah hakikat taslim dan ibadah, yaitu menerima perintah Allah dan Rasul-Nya baik diketahui hikmahnya ataupun tidak. Jika seseorang tidak mau beriman terhadap sesuatu kecuali jika dia mengetahui hikmahnya, kita katakan, sesungguhnya engkau adalah orang yang mengikuti hawa nafsu, engkau tidak mau melaksanakan ketaatan kecuali jika nampak bagimu bahwa hal itu adalah baik.”<sub>(<em>Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni</em>’ (4/165, 166))</sub></p>
<p>Alangkah menakjubkan Al-Faruq Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> ketika berkata, “Kenapa tetap berlari-lari kecil dan membuka bahu kanan (yakni ketika thawaf dalam haji dan umrah –pen) padahal Allah telah mengokohkan Islam, menghilangkan kekafiran dan orang-orangnya? Meskipun demikian kita tidak akan meninggalkan sesuatupun yang dulu kita lakukan pada zaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.”<sub>(<em>Sunan Abi Daud </em>no. 1887. Al-Albani berkata di dalam <em>Shahih Sunan Abi Daud </em>no. 2662, “Hasan Shahih.”)</sub></p>
<p>Akan tetapi, dari penjelasan yang telah lalu, tidak boleh dipahami oleh seorang pun bahwa tidak ada tuntutan untuk membahas tentang hikmah dan makna yang terkandung di dalam ibadah-ibadah yang ditunjukkan oleh beberapa indikasi. Bagaimana tidak, sedangkan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya telah menyebutkan sebagian darinya. Misalnya, firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Agar kalian berfikir.”</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p><em>“Agar kalian beruntung.”</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p><em>“Agar kalian bertakwa.”</em></p>
<p>Dan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ ِلإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya, diadakannya thawaf di Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwa dan melempar jumrah, adalah untuk mengingat Allah.” </em><sub>(<em>Sunan Abi Daud</em> no. 1888. Di hasankan oleh Al-Arnauth di dalam takhrijnya terhadap<em> Jami’ul Ushul </em>no. 1505)</sub></p>
<p>Akan tetapi, yang dimaksudkan adalah untuk memberi peringatan agar tidak berlebih-lebihan di dalam membahasnya dan agar tidak menggantungkan pelaksanaan suatu ibadah dengan pengetahuan terhadap hikmahnya. Adapun kaidah di dalam masalah adat, kebiasaan dan mu’amalah, adalah melihat dan menyelidiki hikmah-hikmah dan makna-maknanya, meskipun kadang tidak nampak jelas pada sebagian darinya.<sub>(Lihat pembahasan Imam Asy-Syathibi tentang hal ini di dalam <em>Al-Muwafaqaat </em>(2/300-310))</sub></p>
<p>8. Kesusahan bukanlah tujuan syariat. Oleh karenanya, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada seorang tua yang dipapah oleh kedua anaknya karena telah bernadzar untuk berjalan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللهَ عَنْ تَعْذِيبِ هَذَا نَفْسَهُ لَغَنِيٌّ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak butuh kepada penyiksaan orang ini terhadap dirinya.”</em><sub>(Riwayat Muslim (3/1263) no. 1642)</sub></p>
<p>Al-‘Izz bin Abdis Salaam menguatkan hal ini, “Tidak benar mendekatkan diri (kepada Allah) dengan perkara-perkara yang menyusahkan. Karena seluruh pendekatan diri kepada Allah adalah pengagungan terhadap-Nya, sedangkan perkara-perkara yang menyusahkan itu bukanlah suatu pengagungan atau penghormatan.”<sub>(<em>Qawa’idul Ahkam fii Mashalihul Anam</em> (1/30))</sub></p>
<p>Dan yang dituntut dari seorang hamba adalah menjauhi larangan dan melaksanakan perintah sesuai dengan batas kemampuan. Dengan dalil sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَ أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ</p>
<p><em>“Jika aku larang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.”</em><sub>(Al-Bukhari dengan <em>Fathul Bari</em> (13/264) no. 7288)</sub></p>
<p>Dasar dan landasan syariat adalah memberikan kemudahan dan menghilangkan kesusahan dari hamba-hamba. Dalilnya firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ</p>
<p><em>“Allah tidak menghendaki membuat kesusahan kepada kalian.”</em> (Qs. Al-Maidah: 6)<br />
Oleh karena itu, perbedaan pahala dan balasan mengikuti tingkatan amal dan ukuran kemuliaannya, baik besar ataupun kecil tingkat kesusahannya.<sub>(Lihat <em>Qawa’idul Ahkam fii Mashalihul Anam</em> (1/29, 30))</sub></p>
<p>Tapi tidak diragukan bahwa kesusahan – yang bukan merupakan tujuan – yang didapati oleh seorang mukallaf karena melaksanakan amalan yang disyariatkan, akan menambah pahala baginya. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلاَ يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَ يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ</p>
<p><em>“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kesusahan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan suatu amal shalih bagi mereka dengan sebab yang demikian itu.”</em> (Qs. At-Taubah: 120)</p>
<p>Dari Jabir radhiallahu &#8216;anhu berkata, “Dahulu, rumah-rumah kami jauh dari masjid. Maka kami berniat menjual rumah-rumah kami dan mendekat menuju masjid. Lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang kami dan bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ خُطْوَةٍ دَرَجَةً</p>
<p><em>“Sesungguhnya kalian mendapatkan satu derajat pada setiap langkah.”</em><sub>(Riwayat Muslim (1/461) no. 664)</sub></p>
<p>Ketika Aisyah radhiallahu &#8216;anha berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang keluar untuk melakukan dua ibadah sekaligus (haji dan umrah –pen), sedangkan aku hanya melakukan satu ibadah (haji –pen)? Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">انتظري فإذا طهرت فاخرجي إلى التنعيم فأهلي ثم ائْتِنَا بمكان كذا ، ولكنها على قدر نفقتك أو نصبك</p>
<p><em>“Tunggulah, jika engkau telah suci maka pergilah ke Tan’im lalu serukan talbiyah, kemudian datangilah kami di tempat fulan. Akan tetapi hal itu sesuai dengan harta atau tenagamu.”</em><sub>(Al-Bukhari dengan <em>Fathul Bari</em> (13/264) no. 7288)</sub></p>
<p>Al-‘Izz bin Abdis Salaam berkata tentang hal ini di dalam perkataan yang berharga, “Jika ditanyakan, apa ketentuan dari amalan susah yang diberi balasan lebih banyak dari amalan yang ringan? Aku katakan, jika ada dua perbuatan yang memiliki kesamaan di dalam kemuliaan, syarat-syarat, sandaran dan rukun-rukunnya, sedangkan salah satunya adalah amalan yang berat, maka pahala kedua amalan itu sama saja, karena keduanya memiliki kesamaan di dalam seluruh ketentuannya. Hanya saja yang satu berbeda dari yang lain karena ada penahanan diri terhadap perkara yang susah karena Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, sehingga diberi pahala karena menahan perkara yang susah itu, bukan karena dzat kesusahan itu sendiri.”<sub>(<em>Qawa’idul Ahkam fii Mashalihul Anam</em> (1/30))</sub></p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="Ekonomi Syariat" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">EkonomiSyariat.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-kaidah-penting-dalam-ittiba.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbuatan Nabi Ditinjau dari Segi Ittiba’</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/perbuatan-nabi-ditinjau-dari-segi-ittiba%e2%80%99.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/perbuatan-nabi-ditinjau-dari-segi-ittiba%e2%80%99.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 22:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba' Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Perbuatan Ittiba']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Perbuatan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ditinjau dari segi ittiba’ (diikuti atau tidaknya -pen), terbagi menjadi tiga macam:
1. Perbuatan Jibiliyah (yang merupakan tabiat manusia)
Seperti berdiri, duduk, minum, tidur dan lain-lain. Perbuatan ini terbagi menjadi dua jenis ditinjau dari segi ittiba’:

Perbuatan yang ditunjukkan oleh dalil lain – selain perbuatan itu – bahwa perbuatan ini wajib atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perbuatan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ditinjau dari segi <em>ittiba’</em> (diikuti atau tidaknya -pen), terbagi menjadi tiga macam:</p>
<p>1. Perbuatan <em>Jibiliyah</em> (yang merupakan tabiat manusia)</p>
<p>Seperti berdiri, duduk, minum, tidur dan lain-lain. Perbuatan ini terbagi menjadi dua jenis ditinjau dari segi ittiba’:</p>
<ul>
<li>Perbuatan yang ditunjukkan oleh dalil lain – selain perbuatan itu – bahwa perbuatan ini wajib atau mandub (disukai). Seperti makan dengan tangan kanan, minum sebanyak tiga kali tegukan dengan duduk, dan tidur di atas lambung kanan. Maka perbuatan ini disyariatkan untuk dicontoh dan diikuti.</li>
<li>Perbuatan yang tidak ditunjukkan oleh satu dalil pun bahwa perbuatan itu disyariatkan. Maka perbuatan itu tetap pada hukum asalnya yaitu mubah (boleh dilakukan) oleh semuanya. Hal itu karena “sifat tabiat manusia, seperti keinginan untuk makan dan minum, tidak dituntut untuk di hilangkan seluruhnya atau sebagian darinya.”<sub>(1)</sub></li>
</ul>
<p>Dan para ulama berselisih pendapat tentang disyariatkannya mengikuti dan meneladani Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> – secara mandub (disukai) – di dalam jenis perbuatan ini menjadi 2 pendapat.</p>
<p>Disukai meneladani dan mencontoh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam jenis perbuatan ini. Dan dahulu Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> melakukan yang semacam ini meskipun Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukannya secara kebetulan.</p>
<p>Tidak disyariatkan meneladani dan mengikuti Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam jenis perbuatan ini. Dan ini adalah pendapat dan perbuatan jumhur (mayoritas) sahabat <em>radhiallahu &#8216;anhum</em>. Di antaranya adalah Al-Faruq dan Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, sebagaimana di dalam perkataan keduanya yang telah lalu.<sub>(2)</sub></p>
<p>Dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> karena tuntutan adat dan kebiasaan, disamakan hukumnya dengan perbuatan <em>jibiliyah</em> ini. Seperti mengenakan jubah dan surban, memanjangkan rambut, dan yang semacamnya. Karena – menurut pendapat yang lebih kuat – hal itu tidak menunjukkan selain hukum mubah. Kecuali jika ada dalil yang menunjukkan pensyariatannya.<sub>(3)</sub></p>
<p>2. Perbuatan yang merupakan kekhususan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Di dalam hal kekhususan-kekhususan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para ulama telah menyebutkan beberapa perkara yang mubah, wajib atau haram bagi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang sebagiannya disepakati hukumnya dan yang lain diperselisihkan – dan di sini bukan tempat untuk menetapkannya. Maka di antara yang mubah bagi beliau adalah menikah lebih dari empat wanita, menikah tanpa mahar dan menikahi wanita yang menghibahkan (menyerahkan) dirinya. Di antara yang wajib bagi beliau adalah kewajiban tahajjud dan shalat malam. Dan di antara yang haram bagi beliau adalah makan dari shadaqah dan makan makanan yang berbau busuk seperti bawang putih dan bawang merah.</p>
<p>Maka ini adalah kekhususan-kekhususan yang tidak boleh seorang pun mengikutinya dengan bentuk yang telah dijelaskan. <sub>(5) </sub>Asy-Syaukani berkata, “Dan yang benar, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak diikuti di dalam perkara apa saja yang jelas bagi kita bahwa itu merupakan kekhususan beliau. Kecuali dengan syariat yang mengkhususkan kita.”<sub>(4)</sub></p>
<p>Dan diikutsertakan ke dalam hukum ini pula, kekhususan-kekhususan yang Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berikan kepada sebagian sahabat beliau. Seperti persaksian Khuzaimah yang setara dengan persaksian dua orang laki-laki dan sembelihan Abu Burdah yang menyembelih seekor anak kambing (ketika kurban –pen). Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اِذْبَحْهَا وَلَنْ تَصْلُحَ لِغَيْرِكَ</p>
<p><em>“Sembelihlah anak kambing itu, tapi tidak boleh bagi selain engkau.”</em> <sub>(6)</sub></p>
<p>Sebagaimana diikutkan pula ke dalam hukum ini apa yang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> khususkan terhadap ahli bait beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seperti larangan memakan shadaqah.</p>
<p>3. Perbuatan yang merupakan ibadah.</p>
<p>Yaitu perbuatan-perbuatan – selain tabiat dan kekhususan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> – yang mana tujuan perbuatan itu adalah pensyariatan. Maka perbuatan-perbuatan ini diikuti dan diteladani. Dan ini adalah hukum asal perbuatan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, berdasarkan firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p><em>“Telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah.”</em> (Qs. Al-Ahzab: 21)</p>
<p>Hanya saja sifatnya secara syar’i berbeda-beda dalam hal wajib atau mandubnya sesuai dengan indikasi yang ada.</p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p><sub>(1)</sub> <em>Al-Muwafaqaat</em> karya Asy-Syathibi (2/108)<br />
<sub>(2)</sub> Tentang penetapan hal ini, lihat <em>Kitab Qa’idah Jalilah fit-Tawassul wal Wasilah</em> (hlm 105, 106) karya Ibnu Taimiyah, <em>al-Fatawa</em> karya beliau (10/409) dan<em> al-Ihkam</em> karya Al-Amidi (1/227, 228). Lihat perbuatan Ibnu Umar di dalam <em>al-Ibanah al-Kubra</em> karya Ibnu Bath-thah (1/240-245)<br />
<sub>(3)</sub> Lihat <em>Af’aalun Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> karya Al-Asyqar (1/235, 236)<br />
<sub>(4)</sub> Lihat <em>Al-Ihkam</em> karya Al-Amidi (1/228)<br />
<sub>(5)</sub> <em>Irsyaadul Fuhul</em> (35, 36).<br />
<sub>(6)</sub> Lihat <em>Shahih Bukhari</em> no. 2807, 5556, <em>Al-Muwafaqaat</em> karya Asy-Syathibi (2/245, 246)</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="Ekonomi Syariat" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">EkonomiSyariat.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/perbuatan-nabi-ditinjau-dari-segi-ittiba%e2%80%99.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mukhalafah Lawan dari Ittiba’</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/mukhalafah-lawan-dari-ittiba%e2%80%99.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/mukhalafah-lawan-dari-ittiba%e2%80%99.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 04:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Mukhalafah Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekonomisyariat.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Lawan dari ittiba’ adalah mukhalafah (penyelisihan). Mukhalafah juga terjadi di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan perkara-perkara yang ditinggalkan.
Adapun penyelisihan di dalam keyakinan, seorang hamba meyakini suatu keyakinan yang berbeda dengan keyakinan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.
Contohnya: 
Seseorang yang menganggap (meyakini) halalnya suatu perkara yang jelas-jelas diketahui keharamannya di dalam agama Islam. Atau mewajibkan sesuatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lawan dari ittiba’ adalah mukhalafah (penyelisihan). Mukhalafah juga terjadi di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan perkara-perkara yang ditinggalkan.</p>
<p>Adapun penyelisihan di dalam keyakinan, seorang hamba meyakini suatu keyakinan yang berbeda dengan keyakinan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Contohnya: </span></p>
<p>Seseorang yang menganggap (meyakini) halalnya suatu perkara yang jelas-jelas diketahui keharamannya di dalam agama Islam. Atau mewajibkan sesuatu yang jelas-jelas diketahui halal atau haramnya hal itu di dalam agama Islam. Contoh lain, seorang hamba membuat sesuatu hal yang baru di dalam agama Allah, sesuatu yang bukan dari agama. Dan juga seperti orang yang memiliki keyakinan bahwa orang-orang yang menyelisihi syariat Allah dan risalah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah wali-wali Allah dan orang-orang yang Dia cintai.</p>
<p>Mukhalafah di dalam perkataan adalah dengan tidak menerapkan makna dan kandungan perkataan yang berupa kewajiban-kewajiban atau larangan-larangan.<br />
Mukhalafah di dalam perbuatan adalah dengan menyimpang dari yang semisal dengannya sedangkan hal itu merupakan kewajiban.</p>
<p>Mukhalafah di dalam perkara yang ditinggalkan adalah dengan melaksanakan apa yang beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tinggalkan sedangkan hal itu merupakan perkara yang haram.</p>
<p>Dan tidak ada Mukhalafah di dalam meninggalkan perkara-perkara yang mandub (sunnah, disukai) dan melaksanakan yang makruh. Akan tetapi Mukhalafah terjadi hanya di dalam meninggalkan perkara yang wajib dan melaksanakan perkara yang haram. Baik terjadi di dalam perkataan, perbuatan atau perkara-perkara yang ditinggalkan. <sub>(1)</sub></p>
<p><strong>Kaitan Ittiba’ dengan Waktu dan Tempat</strong></p>
<p>Tidak ada kaitan antara suatu perbuatan (yang diikuti –pen) dengan waktu atau tempat tertentu hanya karena semata-mata perbuatan itu terjadi padanya. Kecuali dengan dalil lain selain perbuatan itu. Maka jika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>mengkhususkan suatu waktu atau tempat untuk suatu perbuatan dengan dalil lain selain perbuatan itu, kita juga mengkhususkannya. Seperti pengkhususan ka’bah untuk thawaf, hajar aswad dan rukun yamani untuk disentuh – sesuai dengan perbedaan sifatnya –, pengkhususan bulan Ramadhan untuk puasa wajib, pengkhususan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dan pengkhususan dua hari raya dengan waktunya yang telah ma’ruf (diketahui).</p>
<p>Adapun perbuatan yang beliau lakukan secara kebetulan dan beliau tidak memaksudkan dzat (perbuatan) itu sendiri, maka tidak disyariatkan mutaba’ah (mencontoh) di dalam hal tersebut, meskipun hal itu terjadi berulang kali. Contohnya: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> singgah pada suatu tempat dan shalat padanya, namun beliau tidak berniat mengkhususkannya untuk shalat atau singgah. Jika kita berniat mengkhususkan tempat itu untuk shalat atau singgah, maka – menurut pendapat yang benar – kita bukanlah muttabi’ (orang yang ittiba’, mengikuti Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> –pen).</p>
<p>Dan telah datang larangan dari Umar Al-Faruq <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, ketika beliau melihat orang-orang yang berada dalam perjalanan bersegera menuju suatu tempat, beliau menanyakannya. Lalu mereka menjawab, “Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah shalat di tempat itu.&#8221; Maka Umar pun berkata, “Sesungguhnya ahli kitab binasa hanya karena mereka mencari-cari bekas peninggalan Nabi-nabi mereka, lalu mereka menjadikannya sebagai gereja-gereja dan tempat-tempat peribadahan (sinagog). Maka barangsiapa kedatangan waktu shalat (yakni di tempat shalatnya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>), hendaknya dia shalat atau melanjutkan (perjalanan).”<sub>(2)</sub></p>
<p>Di dalam riwayat lain beliau berkata, “Barangsiapa kedatangan waktu shalat pada salah satu masjid-masjid tempat shalat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka hendaknya dia shalat di sana, jika tidak maka janganlah menyengaja untuk mendatanginya.”<sub>(3)</sub></p>
<p>Hal ini juga ditegaskan oleh Ummul Mukminin Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>. Beliau berkata, “Singgah di Abthah bukan merupakan sunnah. Hanya saja Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> singgah di sana karena hal itu lebih mudah bagi safar beliau ketika beliau safar.” <sub>(4)</sub></p>
<p>Dan banyak dari kalangan para ulama juga telah menetapkan hal ini. Seperti Ibnu Taimiyah di dalam al-Fatawa <sub>(5)</sub> dan Al-Amidi di dalam al-Ihkam, dimana beliau berkata, “Seandainya perbuatan beliau terjadi pada suatu tempat atau waktu tertentu, maka tidak ada pintu mutaba’ah padanya. Baik hal itu terjadi berulang kali ataupun tidak. Kecuali dengan suatu dalil yang menunjukkan pengkhususan ibadah itu padanya. Seperti pengkhususan haji dengan Arafah, shalat-shalat yang wajib dengan waktunya dan pengkhususan puasa Ramadhan.”<sub> (6)</sub></p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p><sub>(1)</sub> Lihat <em>Al-Ihkam</em> karya al-Amidi (1/227)<br />
<sub>(2)</sub> <em>Majmu’ Fatawa</em> (10/418). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Nukilan ini datang dengan sanad yang shahih.” <em>Fathul Bari </em>karya Ibnu Hajar (1/569)<br />
<sub>(3)</sub> <em>Mukhtashorul mukhtashor </em>karya Abul Mahasin al-Hanafi<em> (2/177)</em><br />
<sub>(4)</sub> Shahih Muslim (2/951) no. 1311<br />
<sub>(5)</sub> <em>Al-Fatawa</em> karya Ibnu Taimiyah (10/409)<br />
<sub>(6)</sub> <em>Al-Ihkam</em> karya Al-Amidi (1/226)</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="Ekonomi Syariat" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">EkonomiSyariat.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/mukhalafah-lawan-dari-ittiba%e2%80%99.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ittiba’ Kepada Nabi Menurut Al-Quran dan Sunnah</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/ittiba%e2%80%99-kepada-nabi-menurut-al-quran-dan-sunnah.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/ittiba%e2%80%99-kepada-nabi-menurut-al-quran-dan-sunnah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 05:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba' Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekonomisyariat.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Ittiba’ kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah salah satu inti dan pondasi dasar agama islam. Juga merupakan syariat paling agung yang diterima dan diketahui dengan pasti. Dalil-dalil syar’i yang shahih, yang menjelaskan dan menegaskan hal ini sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala:
وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Dan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ittiba’ kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah salah satu inti dan pondasi dasar agama islam. Juga merupakan syariat paling agung yang diterima dan diketahui dengan pasti. Dalil-dalil syar’i yang shahih, yang menjelaskan dan menegaskan hal ini sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah<em> subhanahu wa ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا</p>
<p><em>“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”</em> (Qs. Al-Hasyr: 7)</p>
<p>Dan firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”</em> (Qs. An-Nisaa: 80)</p>
<p>Akan tetapi ketika pemahaman telah kacau dan kaki telah tergelincir, hal itu tidak menghalangi adanya kelompok-kelompok dari kaum muslimin yang menyimpang dari meniti dan menetapi jalan tengah yang lurus. Sehingga kebutuhan untuk menjelaskan dan menerangkan hal ini menjadi lebih besar dan lebih wajib.</p>
<p>Oleh karena itu, di dalam pelajaran ini aku akan berusaha memberikan perhatian kepadanya untuk menampakkan hakikat dan hukum ittiba’, menerangkan kedudukan dan tanda-tandanya serta menjelaskan jalan yang membantu untuk mewujudkannya dan sebagian penghalang-penghalangnya. Dengan berharap kepada Rabbku (Penguasaku) Yang maha pengampun agar memberikan petunjuk kepada kebaikan dan memperbaiki niat ini. Sesungguhnya Dia maha berkuasa atas segala sesuatu dan berhak menjawab do’a.</p>
<p><strong>Ittiba’ Menurut Bahasa</strong></p>
<p>Ittiba’ adalah mashdar (kata bentukan) dari kata ittaba’a (mengikuti). Dikatakan mengikuti sesuatu jika berjalan mengikuti jejaknya dan mengiringinya. Dan kata ini berkisar pada makna menyusul, mencari, mengikuti, meneladani dan mencontoh.</p>
<p>Dikatakan ittiba’ kepada al-Qur’an, yaitu mengikutinya dan mengamalkan kandungannya. Dan ittiba’ kepada Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yaitu meneladani, mencontoh dan mengikuti jejak beliau. <sub>(1)</sub></p>
<p><strong>Ittiba’ Menurut Istilah Syar&#8217;i</strong></p>
<p>Yaitu meneladani dan mencontoh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan. Beramal seperti amalan beliau sesuai dengan ketentuan yang beliau amalkan, apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Dan disertai dengan niat dan kehendak padanya.</p>
<p>Ittiba’ kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam keyakinan akan terwujud dengan meyakini apa yang diyakini oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sesuai dengan bagaimana beliau meyakininya – apakah merupakan kewajiban, kebid’ahan ataukah merupakan pondasi dasar agama atau yang membatalkannya atau yang merusak kesempurnaannya &#8211; dengan alasan karena beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>meyakininya.</p>
<p>Ittiba’ kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di dalam perkataan akan terwujud dengan melaksanakan kandungan dan makna-makna yang ada padanya. Bukan dengan mengulang-ulang lafadz dan nashnya saja. Sebagai contoh sabda Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي</p>
<p><em>“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” </em><sub>(2)</sub></p>
<p>Ittiba’ kepadanya adalah dengan melaksanakan shalat seperti shalat beliau.</p>
<p>Sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا</p>
<p><em>“Janganlah kalian saling hasad dan janganlah kalian berbuat najasy.”</em> <sub>(3)</sub></p>
<p>Ittiba’ kepadanya adalah dengan meninggalkan hasad dan najasy.</p>
<p>Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ</p>
<p><em>“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya maka pada hari kiamat dia dikekang dengan tali kekang dari api.”</em> <sub>(4)</sub></p>
<p>Ittiba’ kepadanya adalah dengan menyebarkan ilmu yang shahih dan bermanfaat serta tidak menyembunyikannya.</p>
<p>Sebagaimana ittiba’ kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam perbuatan adalah dengan melakukan amalan seperti yang beliau lakukan, sesuai ketentuan yang beliau lakukan dan dengan sebab karena beliau melakukannya.</p>
<p>Kami katakan “seperti yang beliau lakukan” karena meneladani sesuatu tidak akan terwujud jika terdapat perbedaan bentuk dalam tatacara perbuatan.</p>
<p>Makna perkataan kami “sesuai dengan ketentuan yang beliau lakukan” adalah adanya kesamaan di dalam tujuan dan niat perbuatan itu – berupa keikhlasan dan pembatasan terhadap perbuatan itu dari segi wajib atau sunnahnya – karena tidak dapat dikatakan meneladani jika berbeda tujuan dan niatnya meskipun sama bentuk perbuatannya.</p>
<p>Dan kami katakan “dengan sebab karena beliau melakukannya” karena meskipun sama bentuk dan niat perbuatannya, jika maksud melakukannya bukan untuk meneladani dan mencontoh maka tidak akan dikatakan sebagai ittiba’.</p>
<p>Sebagai contoh untuk menjelaskan ittiba’ di dalam perbuatan; Jika kita ingin meneladani Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam puasa beliau maka kita harus berpuasa sebagaimana tatacara puasa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar shadiq sampai terbenamnya matahari, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Maka jika salah seorang di antara kita menahan dirinya hanya dari sebagian perkara yang membatalkan puasa berarti dia belum ittiba’. Sebagaimana jika dia menahan diri pada sebagian waktu saja.</p>
<p>Dan kita juga harus berpuasa sesuai dengan ketentuan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam berpuasa dari segi niatnya. Yaitu dengan puasa ini kita mengharapkan wajah Allah dan untuk melaksanakan kewajiban atau sebagai qadha atau sebagai nadzar. Atau meniatkannya sebagai puasa sunnah sesuai dengan alasan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa. <sub>(5)</sub></p>
<p>Sebagaimana juga kita melakukan puasa tersebut dengan alasan karena beliau<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukannya. Oleh karena itu seseorang yang melakukan amalan yang sama bentuk dan tujuannya dengan orang lain – selain Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam – tidaklah dianggap meneladani orang tersebut jika keduanya sama-sama melakukannya dengan niat melaksanakan perintah Allah dan ittiba’ kepada Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sedangkan ittiba’ kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan adalah dengan meninggalkan perkara-perkara yang beliau tinggalkan, yaitu perkara-perkara yang tidak disyariatkan. Sesuai dengan tatacara dan ketentuan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam meninggalkannya, dengan alasan karena beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>meninggalkannya. Dan ini adalah batasan yang sama dengan batasan ittiba’ di dalam perbuatan.</p>
<p>Sebagai contoh untuk menjelaskannya; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> meninggalkan (tidak melakukan) shalat ketika terbit matahari. Maka seorang yang meneladani beliau juga meninggalkan shalat pada waktu itu sesuai dengan ketentuan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam meninggalkannya, dengan alasan karena beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> meninggalkannya. <sub>(6)</sub></p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p><sub>(1)</sub> Lihat<em> Lisanul ‘Arab</em> (1/416-417), <em>al-Mu’jamul Wasith</em> (1/81)<br />
<sub>(2)</sub> Al-Bukhari no. 631 lihat <em>Fath al-Bari</em> (2/131-132)<br />
<sub>(3)</sub> Muslim (4/1986) no. 2564<br />
<sub>(4)</sub> At-Tirmidzi (5/29) no. 2649 dishahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Shahih at-Tirmidzi</em> (2/336) no. 2135<br />
<sub>(5)</sub> Jika ada tatacara dan tujuan yang khusus bagi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> seperti puasa wishol (puasa sejak terbit fajar sampai waktu sahur -pen) atau kewajiban shalat malam, maka tidak boleh menyamai beliau di dalam kekhususan tatacara dan tujuan ini. Akan tetapi perkara ittiba’ berkaitan dengan tujuan-tujuan dan tatacara yang beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam syariatkan kepada umatnya.<br />
<sub>(6)</sub> Lihat al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (10/409) dan al-Ihkam karya al-Amidi (1/226, 227)</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="Ekonomi Syariat" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">EkonomiSyariat.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/ittiba%e2%80%99-kepada-nabi-menurut-al-quran-dan-sunnah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meraih Iman yang Sempurna</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/meraih-iman-yang-sempurna.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/meraih-iman-yang-sempurna.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 07:06:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Syarat Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekonomisyariat.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Permasalahan iman merupakan permasalahan terpenting seorang muslim, sebab iman menentukan nasib seorang didunia dan akhirat. Bahkan kebaikan dunia dan akhirat bersandar kepada iman yang benar. Dengan iman seorang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat dan keselamatan dari segala keburukan dan adzab Allah. Dengan iman seorang akan mendapatkan pahala besar yang menjadi sebab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permasalahan iman merupakan permasalahan terpenting seorang muslim, sebab iman menentukan nasib seorang didunia dan akhirat. Bahkan kebaikan dunia dan akhirat bersandar kepada iman yang benar. Dengan iman seorang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat dan keselamatan dari segala keburukan dan adzab Allah. Dengan iman seorang akan mendapatkan pahala besar yang menjadi sebab masuk ke dalam syurga dan selamat dari neraka. Lebih dari itu semua, mendapatkan keridhaan Allah yang maha kuasa sehingga  Dia tidak akan murka kepadanya dan dapat merasakan kelezatan melihat wajah Allah di akhirat nanti. Dengan demikian permasalahan ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari kita semua.</p>
<p>Imam Ibnu al-Qayyim <em>rahimahullah</em> menuturkan:</p>
<p>Hasil usaha jiwa dan kalbu yang terbaik dan penyebab seorang hamba mendapatkan ketinggian didunia dan akhirat adalah ilmu dan iman, oleh karena itu Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em>menggabung keduanya dalam firman-Nya yang artinya:</p>
<p><em>&#8220;Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): &#8220;Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit.&#8221; </em>(Qs. Ar-Ruum: 30/56)</p>
<p>Dan firman Allah<em> subhanahu wa ta&#8217;ala</em> yang artinya:</p>
<p><em>&#8220;Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.&#8221; </em>(Qs. Al-Mujaadilah: 58/11)</p>
<p>Mereka inilah inti dan pilihan dari yang ada dan mereka adalah orang yang berhak mendapatkan martabat tinggi. Namun kebanyakan manusia keliru dalam (memahami) hakikat ilmu dan iman ini, sehingga setiap kelompok menganggap ilmu dan iman yang dimilikinyalah satu-satunya yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan, padahal tidak demikian. Kebanyakan mereka tidak memiliki iman yang menyelamatkan dan ilmu yang mengangkat (kepada ketinggian derajat), bahkan mereka telah menutup untuk diri mereka sendiri jalan ilmu dan iman yang diajarkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan menjadi dakwah beliau kepada umat. Sedangkan yang berada diatas iman dan ilmu (yang benar) adalah beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya setelah beliau serta orang-orang yang mengikuti mereka diatas manhaj dan petunjuk mereka….” (<em>al-Fawaaid</em> hal. 191)</p>
<p>Demikian bila kita melihat kepada pemahaman kaum muslimin saja tentang iman didapatkan demikian anyaknya kekeliruan dan penyimpangan. Sebagai contoh banyak dikalangan kaum muslimin ketika berbuat dosa yang menyatakan: “Yang penting kan hatinya.” Ini semua tentunya membutuhkan pelurusan dan pencerahan bagaimana sesungguhnya konsep iman yang benar tersebut.</p>
<p><strong>Makna Iman</strong></p>
<p>Dalam bahasa Arab, ada yang mengartikan kata iman dengan<em> tashdiq </em>(membenarkan);<em> thuma’ninah</em> (ketentraman); dan<em> iqrar</em> (pengakuan). Makna ketiga inilah yang paling tepat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>“Telah diketahui bahwa iman adalah<em> iqrar</em> (pengakuan), tidak semata-mata <em>tashdiq</em> (membenarkan). Dan <em>iqrar</em> (pengakuan) itu mencakup perkataan hati, yaitu <em>tashdiq</em> (membenarkan), dan perbuatan hati, yaitu <em>inqiyad</em> (ketundukan hati)”.<sub>(1)</sub></p>
<p>Dengan demikian, iman adalah <em>iqrar</em> (pengakuan) hati yang mencakup:</p>
<ol>
<li>Keyakinan hati, yaitu membenarkan terhadap berita.</li>
<li> Perkataan hati, yaitu ketundukan terhadap perintah.</li>
</ol>
<p>Yaitu: keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan kepada terhadap semua yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari Allah<em> subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Adapun secara <em>syar’i</em> (agama), iman yang sempurna mencakup <em>qaul</em> (perkataan) dan <em>amal</em> (perbuatan). Syaikul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Dan di antara prinsip Ahlus sunnah wal jama’ah adalah ad-din (agama/amalan) dan al-iman adalah perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan.”<sub>(2)</sub></p>
<p><strong>Dalil Bagian-Bagian Iman</strong></p>
<p>Dari perkataan Syaikhul Islam di atas, nampak bahwa iman menurut Ahlus sunnah wal jama’ah mencakup lima perkara, yaitu perkataan hati, perkataan lisan, perbuatan hati, perbuatan lisan dan perbuatan anggota badan.</p>
<p>Banyak dalil yang menunjukkan masuknya lima perkara di atas dalam kategori iman, di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p>1.  Perkataan hati, yaitu pembenaran dan keyakinan hati. Allah<em> subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.&#8221; </em>(Qs. Al-Hujurat/49:15)</p>
<p>2.  Perkataan lisan, yaitu mengucapkan syahadat La ilaaha illallah dan syahadat Muhammad Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan lisan dan mengakui kandungan syahadatain tersebut. Di antara dalil hal ini adalah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ وَيُقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ</p>
<p><em>&#8220;Aku diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan sampai mereka menegakkan shalat, serta membayar zakat. Jika mereka telah melakukan itu, maka mereka telah  mencegah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka pada tanggungan Allah.</em>&#8221; (HR. al-Bukhâri, no: 25, dari `Abdullâh bin Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>)</p>
<p>Pada hadits lain disebutkan dengan lafazh:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ &#8230;</p>
<p><em>&#8220;Aku diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan &#8216;La ilaaha illallah&#8217;.”</em> (HR. al-Bukhâri, no: 392, dari Anas bin Mâlik<em> rahimahullah</em>)</p>
<p>1.  Perbuatan hati, yaitu gerakan dan kehendak hati, seperti ikhlas, tawakal, mencintai Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, mencintai apa yang dicintai oleh Allah<em> subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, <em>rajaa’</em> (berharap rahmat/ampunan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>), takut kepada siksa Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, ketundukan hati kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, dan lain-lain yang mengikutinya. Allah<em> subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya:</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal.”</em> (Qs. Al-Anfâl/8:2)</p>
<p>Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan amalan-amalan hati termasuk iman.</p>
<p>2.  Perbuatan lisan/lidah, yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan lidah. Seperti membaca al-Qur’ân, dzikir kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, doa, istighfâr, dan lainnya. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya:</p>
<p><em>“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur&#8217;ân). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya.”</em> (Qs. Al-Kahfi/18:27)</p>
<p>Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan amalan-amalan lisan termasuk iman.</p>
<p>3.  Perbuatan anggota badan.Yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan anggota badan. Seperti: berdiri shalat, rukuu’, sujud, haji, puasa, jihad, membuang barang mengganggu dari jalan, dan lain-lain. Allah berfirman yang artinya:</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, ruku&#8217;lah, sujudlah, sembahlah Rabbmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.”</em> (Qs. al-Hajj/22:77)</p>
<p><strong>Rukun-Rukun Iman<br />
</strong></p>
<p>Sesungguhnya iman memiliki bagian-bagian yang harus ada, yang disebut dengan rukun-rukun (tiang; tonggak) iman. Ahlus sunnah wal jamâ’ah meyakini bahwa rukun iman ada enam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah<em> rahimahullah</em> berkata pada permulaan kitab beliau,<em> Aqidah al-Wasithiyah</em>, &#8220;Ini adalah aqidah <em>Firqah an-Nâjiyah al-Manshurah</em> (golongan yang selamat, yang ditolong) sampai hari kiamat, Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Yaitu: beriman kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk&#8221;.<sub>(3)</sub></p>
<p>Dalil rukun iman yang enam ini adalah sabda Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada malaikat Jibrîl, ketika menjelaskan tentang iman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ</p>
<p><em>&#8220;Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.</em>&#8221; (HR. al-Bukhâri, no.50; Muslim, no. 9)</p>
<p>Rukun iman ini wajib diyakini oleh setiap Mukmin, barangsiapa mengingkari salah satunya, maka dia kafir! Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><em>&#8220;Enam perkara ini adalah rukun-rukun iman. Iman seseorang tidak sempurna kecuali jika dia beriman kepada semuanya dengan bentuk yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab dan Sunnah. Barangsiapa mengingkari sesuatu darinya, atau beriman kepadanya dengan bentuk yang tidak benar, maka dia telah kafir.&#8221;</em><sub>(4)</sub></p>
<p><strong>Iman Bertambah dan Berkurang</strong></p>
<p>Sudah dimaklumi banyak terdapat nash-nash al-Qur`an dan as-Sunnah yang menjelaskan pertambahan iman dan pengurangannya. Menjelaskan pemilik iman yang bertingkat-tingkat sebagiannya lebih semurna imannya dari yang lainnya, ada diantara mereka yang disebut<em> assaabiq bil khoiraat</em>, <em>al-Muqtashid</em> dan <em>zhalim linafsihi</em>. Ada juga <em>al-Muhsin</em>, <em>al-Mukmin</em> dan <em>al-Muslim</em>. Semua ini menunjukkan mereka tidak berada dalam satu martabat dan iman itu bisa bertambah dan berkurang.</p>
<p>Diantara dalil yang menunjukkan pertambahan iman dan pengurangannya adalah:</p>
<p>1. Firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em>yang artinya:</p>
<p><em>“(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: &#8220;Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka&#8221;, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: &#8220;Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung.&#8221;</em> (Qs. ali-Imran: 3/173)</p>
<p>Para ulama ahlussunnah menjadikan ayat ini sebagai dasar adanya pertambahan dan pengurangan iman, sebagaimana pernah ditanyakan  kepada imam Sufyaan bin ‘Uyainah<em> rahimahullah</em> apakah iman itu bertambah atau berkurang, beliau <em>rahimahullah</em> menjawab:</p>
<p><em>“Tidakkah kalian mendengar firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala: “Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka.”</em> (Qs. ali-Imran: 3/173)</p>
<p>Dan firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>: “Dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (Qs. al-Kahfi: 19/13) dalam beberapa ayat lainnya”. Ada yang bertanya: “Bagaimana berkurang?” Beliau menjawab: “Tidak ada sesuatu yang bisa bertambah kecuali ia juga bisa berkurang.”<sub>(5)</sub></p>
<p>1. Firman Allah<em> subhanahu wa ta&#8217;ala</em> yang artinya:</p>
<p><em>“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.”</em> (Qs. Maryam: 19/76)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan tafsir ayat ini dengan menyatakan: Terdapat dalil yang menunjukkan pertambahan iman dan pengurangannya, sebagaimana pendapat para as-Salaf ash-Shaalih. Hal ini dikuatkan juga dengan firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala yang artinya:</p>
<p><em>“Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” </em>(Qs. al-Mudatstsir:74/31) dan firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> yang artinya:</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya).”</em> (Qs. Al-Anfaal: 8/2)</p>
<p>Juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa iman itu adalah perkataan kalbu dan lisan, amalan kalbu, lisan dan anggota tubuh. Juga kaum mukminin sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini. <sub>(6)</sub></p>
<p>2.  Sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ</p>
<p><em>“Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah minum minuman keras ketika minumnya dalam keadaan mukmin serta tidaklah mencuri ketika mencuri dalam keadaan mukmin.”</em> (Muttafaqun ‘Alaihi)</p>
<p>Ishaaq bin Ibraahim an-Naisaaburi berkata: Abu Abdillah (imam Ahmad) pernah ditanya tentang iman dan berkurangnya iman. Beliau t menjawab: berkurangnya iman ada pada sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah mencuri dalam keadaan mukmin. <sub>(7)</sub></p>
<p>1.  Sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ</p>
<p><em>“Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: “Laa Ilaaha Illa Allah” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa iman memiliki cabang-cabang, ada yang tertinggi dan ada yang terendah. Cabang-cabang iman ini bertingkat-tingkat dan tidak berada dalam satu derajat dalam keutamaannya, bahkan sebagiannya lebih utama dari lainnya. Oleh karena itu imam at-Tirmidzi memuat bab dalam <em>Sunannya</em>: “Bab Peyempurnaan Iman, pertambahan dan pegurangannya.”</p>
<p>Syaikh Abdurrahman as-Sa’di <em>rahimahullah</em> dalam mensyarah hadits ini menyatakan:</p>
<p>“Ini jelas sekali menunjukkan iman itu bertambah dan berkurang sesuai dengan pertambahan aturan syariat dan cabang-cabang iman serta amaln hamba tersebut atau tidak mengamalkannya. Sudah dimaklumi bersama bahwa manusia sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini. Siapa yang berpendapat iman itu tidak bertambah dan berkurang maka telah menyelisihi realita yang nyata disamping menyelisihi nash-nash syariat sebagaimana telah diketahui.&#8221; <sub>(8)</sub></p>
<p>Sedangkan pendapat dan atsar as-Salaf ash-Shaalih sangat banyak sekali dalam menetapkan keyakinan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, diantaranya:</p>
<p>a. Dari kalangan sahabat  Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, diantaranya:</p>
<p>Satu ketika Khalifah ar-Rasyid Umar bin al-Khathaab<em> radhiallahu &#8216;anhu</em> pernah berkata kepada para sahabatnya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">هَلُمُّوْا نَزْدَادُ إِيْمَانًا</p>
<p>“Marilah kita menambah iman kita.”<sub>(9)</sub></p>
<p>Sahabat Abu ad-Darda` Uwaimir al-Anshaari<em> radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الإِيْمِانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ</p>
<p>“Iman itu bertambah dan berkurang.”<sub>(10)</sub></p>
<p>b. Dari kalangan Tabi’in, diantaranya:</p>
<p>Abu al-Hajjaaj Mujaahid bin Jabr al-Makki (wafat tahun 104 H) menyatakan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ</p>
<p>“Iman itu adalah perkataan dan perbuatan bertambah dan berkurang.”<sub>(11)</sub></p>
<p>Abu Syibl ‘Al-qamah bin Qais an-Nakhaa’i (wafat setelah tahun 60 H) berkata kepada para sahabatnya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">امْشُوْا بِنَا نَزْدَدُ إِيْمَانًا</p>
<p>“Berangkat kita menambah iman.”<sub>(12)</sub></p>
<p>a. Kalangan tabi’ut Tabi’in, diantaranya:</p>
<p>Abdurrahman bin ‘Amru al-‘Auzaa’i (wafat tahun 157 H) menyatakan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيْمِانَ لاَ يَزِيْدُ وَ لاَ يَنْقُصُ فَاحْذَرُوْه فَإِنَّهُ مُبْتَدِعٌ</p>
<p>“Iman adalah perkataan dan perbuatan bertambah dan berkurang. Siapa yang menyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang maka berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid’ah.”<sub>(13)</sub></p>
<p>Beliau juga ditanya tentang iman apakah akan bertambah? Beliau  menjawab: Iya hingga menjadi seperti gunung. Beliau ditanya lagi: “Apakah akan berkurang?” Beliau <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> menjawab: Ia hingga tidak sisa sedikitpun darinya.”<sub>(14)</sub></p>
<p>b. Imam Fikih yang empat (Aimmah arba’ah), diantaranya:<br />
Muhammad bin Idris asy-Syaafi’I <em>rahimahullah</em> menyatakan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ</p>
<p>“Iman itu adalah perkataan dan perbuatan bertambah dan berkurang.”<sub>(15)</sub></p>
<p>Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> menyatakan:</p>
<p>“Iman itu sebagiannya lebih unggul dari yang lainnya, bertambah dan berkurang. Pertambahannya dalam amal dan berkurangnya dengan tidak beramal, karena perkataan adalah yang mengakuinya.”<sub>(16)</sub></p>
<p>Demikianlah pernyataan dan pendapat para ulama ahlus sunnah seluruhnya, sebagaimana dijelaskan syaikh Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> dalam pernyataan beliau:</p>
<p>“Para as-Salaf telah berijma’ bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”</p>
<p><strong>Sebab-Sebab Bertambah dan Berkurangnya Iman</strong></p>
<p>Setelah mengetahui iman itu bertambah dan berkurang, maka mengenal sebab-sebab bertambah dan berkurangnya iman memiliki manfaat dan menjadi sangat penting sekali. Sudah sepantasnya seorang muslim mengenal kemudian menerapkan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, agar bertambah sempurna dan kuat imannya. Juga untuk menjauhkan diri dari lawannya yang menjadi sebab berkurangnya iman sehingga dapat menjaga diri dan selamat di dunia dan akhirat.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa seorang hamba yang mendapatkan taufiq dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> selalu berusaha melakukan dua perkara:</p>
<ol>
<li>Merealisasikan iman dan canag-cabangnya dan menerapkannya baik secara ilmu dan amal secara bersama.</li>
<li>Berusaha menolak semua yang menentang dan menghapus iman atau menguranginya dari fitnah-fitnah yang Nampak dan yang tersembunyi, mengobati kekurangan dari awal dan mengobati yang seterusnya dengan taubat nasuha serta mengetahui satu perkara sebelum hilang.<sub>(17)</sub></li>
</ol>
<p>Mewujudkan iman dan mengokohkannya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab bertambahnya iman dan melaksanakannya. Sedangkan berusaha menolak semua yang menghapus dan menentangnya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab berkurangnya iman dan berhati-hati dari terjerumus padanya.</p>
<p>Diantara sebab-sebab bertambahnya iman yang disampaikan para ulama adalah:</p>
<p>1. Belajar ilmu yang manfaat yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.<br />
Hal ini menjadi sebab pertambahan iman yang terpenting dan bermanfaat, karena ilmu menjadi sarana beribadah kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan mewujudkan tauhid dengan benar dan pas. Pertambahan iman yang didapatkan dari ilmu bias terjadi dari beraneka ragam sisi, di antaranya:</p>
<p>a. Sisi keluarnya ahli ilmu dalam mencari ilmu.<br />
b. Duduknya mereka dalam halaqah ilmu.<br />
c. Mudzakarah (diskusi) diantara mereka dalam masalah ilmu.<br />
d. Penambahan pengetahuan terhadap Allah dan syariat-Nya.<br />
e. Penerapan ilmu yang telah mereka pelajari.<br />
f. Tambahan pahala dari orang yang belajar dari mereka.</p>
<p>2. Merenungi ayat-ayat Allah kauniyah. Merenungi dan meneliti keadaan dan keberadaan makhluk-makhluk Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> yang beraneka ragam dan menakjubkan merupakan faktor pendorong yang sangat kuat untuk beriman dan mengokohkan iman.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menyatakan:</p>
<p>“Diantara sebab dan faktor pendorong keimanan adalah tafakur kepada alam semesta berupa penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhuk penghuninya dan meneliti diri manusia itu sendiri beserta sifat-sifat yang dimiliki. Ini semua adalah faktor pendorong yang kuat untuk iman”.<sub>(18)</sub></p>
<p>1. Berusaha sungguh-sungguh melaksanakan amalan shalih dengan ikhlas, memperbanyak dan mensinambungkannya. Hal ini karena semua amalan syariat yang dilaksanakan dengan ikhlas akan menambah iman, sebab iman bertambah dengan pertambahan amalan ketaatan dan banyaknya ibadah.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah menuturkan:</p>
<p>“Bahwa diantara sebab pertambahan iman adalah melakukan ketaatan, sebab iman akan bertambah sesuai dengan bagusnya pelaksanaan, jenis amalan dan banyaknya. Semakin baik amalan semakin besar penambahan iman dan bagusnya pelasanaan ada dengan sebab ikhlas dan mutaba’ah (nyontoh Nabi). Sedangkan jenis amalan, maka yang wajib lebih utama dari yang sunnah dan sebagian amal ketaatan lebih ditekankan dan utama dari yang lainnya. Semakin lebih utama ketaatan tersebut maka semakin besar juga penambahan imannya. Adapun banyak (kwantitas) amalan, maka akan menambah keimanan, sebab amalan termasuk bagian iman, sehingga pasti iman bertambah dengan bertambahnya amalan.”<sub>(19)</sub></p>
<p>Sedangkan sebab-sebab berkurangnya iman ada yang berasal dari dalam diri manusia sendiri (intern) dan ada yang berupa faktor luar (ekstern).</p>
<p>Diantara faktor internal manusia sendiri yang memiliki pengaruh besar dalam melemahkan iman adalah:</p>
<ol>
<li>Kebodohan. Ini adalah sebab terbesar dari pengurangan iman, sebagaimana ilmu adalah sebab terbesar pertambahan iman.</li>
<li>Kelalaian, sikap berpaling dari kebenaran dan lupa. Tiga perkara ini adalah salah satu sebab penting berkurangnya iman.</li>
<li> Perbuatan maksiat dan dosa. Jelas kemaksiatan dan dosa sangat merugikan dan memiliki pengaruh jelek terhadap iman. Sebagaimana pelaksanaan perintah Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> menambah iman, demikian juga pelanggaran atas larangan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> mengurangi iman. Namun tentunya dosa dan kemaksiatan bertingkat-tingkat derajat, kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya, sebagaimana disampaikan ibnu al-Qayyim <em>rahimahullah</em> dalam ungkapan beliau: “Sudah pasti kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertingkat-tingkat sebagaimana iman dan amal shalih pun berderajat-derajat”.<sub>(20)</sub></li>
<li> Nafsu yang mengajak kepada keburukan (an-nafsu ammarat bissu’). Inilah nafsu yang ada pada manusia dan tercela. Nafsu ini mengajak kepada keburukan dan kebinasaan, sebagaimana Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> jelaskan dalam menceritakan istri al-Aziz:</li>
</ol>
<p>&#8220;<em>Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”</em> (Qs. Yusuf:13/53)</p>
<p>Nafsu ini menyeret manusia kepada kemaksiatan dan kehancuran iman, sehingga wajib bagi kita berlindung kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> darinya dan berusaha bermuhasabah sebelum beramal dan setelahnya.</p>
<p>Sedangkan diantara faktor eksternal adalah:</p>
<ol>
<li>Syaitan musuh abadi manusia yang merupakan satu sebab penting eksternal yang mempengaruhi iman dan mengurangi kekokohannya.</li>
<li> Dunia dan fitnahnya. Menyibukkan diri dengan dunia dan perhiasannya termasuk sebab yang dapat mengurangi iman, sebab sebesar semangat manusia memiliki dunia dan keridhaannya terhadap dunia maka semakin memberatkan dirinya berbuat ketaatan dan mencari kebahagian akhirat, sebagaiman dituturkan imam ibnu al-Qayyim.</li>
<li> Teman bergaul yang jelek. Teman yang jelek dan jahat menjadi sesuatu yang sangat berbahaya terhadap keimanan, akhlak dan agamanya. Karena itu Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> telah memperingatkan kita dari hal ini dalam sabda beliau:</li>
</ol>
<p class="arab" style="text-align: right;">الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ</p>
<p><em>“Seorang itu berada diatas agama kekasihnya, maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya.”</em> <sub>(21)</sub></p>
<p>Demikianlah perkara yang harus diperhatikan dalam iman, mudah-mudahan hal ini dapat menggerakkan kita untuk lebih mengokohkan iman  dan menyempurnakannya.</p>
<p>Wabillahittaufiq.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="EkonomiSyariat.com" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">EkonomiSyariat.com</a></p>
<p><strong>Footnes:</strong></p>
<p><sub>(1)</sub> <em>Majmû’ Fatâwa</em> 7/638<br />
<sub>(2)</sub> <em>Syarh Aqîdah Wâsithiyah, hlm. 231, karya Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs</em>, takhrîj: ‘Alwi bin Abdul Qadir as-Saqqâf<br />
<sub>(3)</sub> <em>Syarh Aqîdah Wâsithiyah, hlm: 60-61, karya Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs</em>, takhrîj: ‘Alwi bin Abdul Qadir as-Saqqâf<br />
<sub>(4)</sub><em> Syarh Aqîdah Wâsithiyah, hlm: 61-62, karya Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs</em>, takhrîj: ‘Alwi bin Abdul Qadir as-Saqqâf<br />
<sub>(5)</sub> Diriwayatkan kisah ini oleh al-Aajuriy dalam <em>kitab asy-Syari’at</em> hlm 117<br />
<sub>(6)</sub> <em>Tafsir as-Sa’di</em> 5/33<br />
<sub>(7)</sub> Diriwayatkan oleh al-Kholaal dalam kitab<em> as-Sunnah</em> no. 1045<br />
<sub>(8)</sub> <em>At-Taudhih wa al-Bayaan Lisyajarat al-Imaan</em> hlm 14<br />
<sub>(9)</sub> Diriwayatkan ibnu Abi Syaibah dalam <em>al- Mushannaf</em> 11/26 dengan sanad shahih<br />
<sub>(10)</sub> Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam kitab <em>as-Sunnah</em> 1/314<br />
<sub>(11)</sub> Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam kitab <em>as-Sunnah</em> 1/335<br />
<sub>(12)</sub> Diriwayatkan ibnu Abi Syaibah dalam <em>al-Mushannaf</em> 11/25 dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam komentar beliau terhadap kitab <em>al-Iman</em> karya ibnu Abi Syaibah<br />
<sub>(13)</sub> Diriwayatkan al-Aajuuri dalam kitab <em>asy-Syari’at</em> hlm 117<br />
<sub>(14)</sub> Diriwayatkan al-Laalakai dalam <em>Ushul I’tiqaad</em> 5/959<br />
<sub>(15)</sub> Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam<em> al-Hilyah </em>10/115<br />
<sub>(16)</sub> Diriwayatkan al-Khalaal dalam kitab <em>as-Sunnah</em> 2/678<br />
<sub>(17)</sub> <em>At-taudhih wa al-Bayaan Lisyajarat al-Imaan</em> hlm 38<br />
<sub>(18)</sub> <em>Ibid</em> hlm 31<br />
<sub>(19)</sub> <em>Fathu rabbi al-Bariyah</em> hlm 65<br />
<sub>(20)</sub><em> Ighaatsatu al-Lahafaan</em> 2/142<br />
<sub>(21)</sub> HR at-Tirmidzi 4/589 dan dinilai hasan oleh iman al-Albani</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/meraih-iman-yang-sempurna.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soal Jawab: Kredit Rekayasa?</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/fikih-ekonomi-syariat/soal-jawab-kredit-rekayasa.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/fikih-ekonomi-syariat/soal-jawab-kredit-rekayasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 02:54:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Ekonomi Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[Soal Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Kredit]]></category>
		<category><![CDATA[Pedagang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekonomisyariat.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Assalamu&#8217;alaikum,
Ustadz bolehkah jika seseorang yang bukan berprofesi sebagai pedagang motor namun punya modal lebih?
Kemudian jika ada orang lain yang kebetulan butuh motor meminta padanya untuk membelikan dulu. Adapun pembayarannya (yang butuh motor tesebut), dilakukan secara kredit dan harganya tidak sama dengan harga motor secara kontan.
Fulan-solo
Jawab:
Mengenal kehalalan satu transaksi jual beli menjadi satu keharusan sebelum melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan</strong>:</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum,<br />
Ustadz bolehkah jika seseorang yang bukan berprofesi sebagai pedagang motor namun punya modal lebih?<br />
Kemudian jika ada orang lain yang kebetulan butuh motor meminta padanya untuk membelikan dulu. Adapun pembayarannya (yang butuh motor tesebut), dilakukan secara kredit dan harganya tidak sama dengan harga motor secara kontan.</p>
<p>Fulan-solo</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Mengenal kehalalan satu transaksi jual beli menjadi satu keharusan sebelum melakukan transaksi tersebut. Hal ini sangat mempengaruhi makanan yang dimakan dan minuman yang diminum serta pakaian yang dibeli dari hasil usaha tersebut. Karena itu bertanya sebelum berbuat adalah sikap yang terpuji dan bijaksana. Kecerdasan manusia dalam mencari celah usaha yang “menguntungkan” dewasa ini sangat tinggi, hingga bermunculan cara-cara dan rekayasa usaha yang terkadang membuat kita ragu atau bingung menyikapinya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Pertanyan saudara ada dapat kami pisah dalam beberapa point:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Hukum pedagang spekulan, yaitu pedagang yang menjual barang yang bukan menjadi profesinya. Misalnya seorang tidak pernah menjadi pedagang motor lalu karena ada pesanan 	maka ia menjadi pedagang dadakan. Hal ini tidak mengapa karena tidak ada larangan melakukan hal serupa dalam syariat islam.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Sistem jual beli diatas memiliki 	kemiripan dengan jenis jual beli yang dinamakan jual beli murabahah 	KPP  (karena permintaan pembeli). Dimana pembeli memesan kepada 	penjual untuk menyediakan barang tertentu dengan sifat dan ukuran 	tertentu. Lalu penjual mencari barang tersebut dan membelinya untuk 	dijual secara kredit kepada pembeli.<br />
Nampak dari sini ada dua akad: 	pertama akad pemesanan dan permintaan barang dan kedua akad jual 	beli kredit.</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Hal ini karena barang pada akad pertama tidak dimiliki 	oleh penjual tersebut, namun akan dibeli dengan dasar janji untuk 	membelinya. Apabila akad pertama mengikat sehingga pemesan harus 	membeli barang tersebut maka tidak diperbolehkan. Hal ini 	berdasarkan beberapa argumen diantaranya:</p>
</li>
</ol>
<ol>
<li> Kewajiban 	mengikat dalam janji pembelian sebelum kepemilikan penjual barang 	tersebut masuk dalam larangan Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em> menjual barang yang belum 	dimiliki. Kesepakatan tersebut pada hakekatnya adalah akad dan bila 	kesepakatan tersebut diberlakukan maka ini adalah akad batil yang 	dilarang, karena penjual ketika itu menjual kepada pembeli sesuatu 	yang belum dimilikinya.</li>
<li> Muamalah 	seperti ini termasuk <em>al-Hielah</em> (rekayasa) atas hutang dengan 	bunga, karena hakekat transaksi adalah jual uang dengan uang lebih 	besar darinya secara tempo dengan adanya barang penghalal diantara 	keduanya.</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; widows: 2; orphans: 2;">Jual beli 	jenis ini masuk dalam larangan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dalam hadits yang berbunyi:</p>
</li>
</ol>
<p class="arab" style="text-align: right;">نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ</p>
<p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;"><em>&#8220;Rasululloh <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em> melarang dari dua transaksi jual beli dalam satu jual beli.&#8221;</em> (HR at-Tirmidzi dan dishohihkan al-Albani dalam <em>Irwa&#8217; al-Gholil</em> 5/149).<em> </em></p>
<p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;"><em>Al-Muwaa&#8217;adah </em>(permintaan atau janji membeli) apabila mengikat kedua belah pihak maka menjadi aqad (transaksi) setelah sebelumnya hanya janji, sehingga ada disana dua akad dalam satu jual beli. [1]</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong><br />
Ketentuan diperbolehkannya.</strong></p>
<p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;">Syeikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid <em>hafidzahullah </em>menjelaskan ketentuan diperbolehkannya jual beli murabahah KPP ini dengan menyatakan bahwa jual beli Muwaa&#8217;adah diperbolehkan dengan tiga hal:</p>
<ol>
<li> Tidak 	terdapat kewajiban mengikat untuk menyempurnakan transaksi baik 	secara tulisan ataupun lisan sebelum mendapatkan barang dengan 	kepemilikan dan serah terima.</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; widows: 2; orphans: 2;">Tidak ada 	kewajiban menanggung kehilangan dan kerusakan barang dari salah satu 	dari dua belah pihak baik nasabah atau lembaga keuangan, namun tetap 	kembali menjadi tanggung jawab lembaga keuangan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; widows: 2; orphans: 2;">Tidak 	terjadi transaksi jual beli kecuali setelah terjadi serah terima 	barang kepada lembaga keuangan dan sudah menjadi miliknya.[2]</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Demikianlah hukum jual beli ini menurut pendapat ulama syari&#8217;at, mudah-mudahan dapat memperjelas permasalahan ini.</p>
<p align="LEFT">
<p align="LEFT"><strong>Footnotes:</strong></p>
<p align="LEFT">[1]  Untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk pada kitab <em>al-&#8217;Uqud 	al-Maaliyah al-Murakkabah</em> hal 267-284 dan <em>Fikih Nawazil</em> 2/ 83-96</p>
<div id="sdfootnote2">
<p align="LEFT">[2] <em> Fikih  Nawazil</em> 2/97 dengan sedikit perubahan.</p>
<p align="LEFT">Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/fikih-ekonomi-syariat/soal-jawab-kredit-rekayasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
