<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Membangun Sukses Dengan Syariat &#187; Belajar Islam</title>
	<atom:link href="http://ekonomisyariat.com/category/belajar-islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekonomisyariat.com</link>
	<description>Meniti Syariat Kembangkan Ekonomi Umat</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 04:10:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Khulu&#8217; Cerai atau Fasakh?</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/fikih-umum/khulu-cerai-atau-fasakh.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/fikih-umum/khulu-cerai-atau-fasakh.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 06:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Cerai]]></category>
		<category><![CDATA[Farsakh]]></category>
		<category><![CDATA[Khulu']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Syariat islam menjadikan al-khulu&#8217; (gugatan cerai) sebagai satu alternatif penyelesaian konflik rumah tangga yang tidak dapat diselesaikan dengan baik-baik. Lalu bagaimana status al-khulu&#8217; bila telah ditetapkan, apakah dihitung sebagai cerai atau fasakh (pembatalan akad nikah)?
Para ulama, dalam hal ini, berselisih pendapat dalam beberapa pendapat:

 Pendapat bahwa al-khulu&#8217; adalah talak bain dan ini adalah pendapat Mazhab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syariat islam menjadikan al-khulu&#8217; (gugatan cerai) sebagai satu alternatif penyelesaian konflik rumah tangga yang tidak dapat diselesaikan dengan baik-baik. Lalu bagaimana status al-khulu&#8217; bila telah ditetapkan, apakah dihitung sebagai cerai atau fasakh (pembatalan akad nikah)?</p>
<p>Para ulama, dalam hal ini, berselisih pendapat dalam beberapa pendapat:</p>
<ol>
<li> Pendapat bahwa al-khulu&#8217; adalah talak bain dan ini adalah pendapat Mazhab Abu Hanifah, Malik, dan Syafi&#8217;i dalam Qaul Jadid.</li>
<li> Pendapat bahwa al-khulu&#8217; adalah talak raj&#8217;i. Ini adalah pandapat Ibnu Hazm.</li>
<li> Pendapat bahwa al-khulu&#8217; adalah fasakh (penghapusan akad nikah) bukan talak. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Syafi&#8217;i, Ishaq bin Rahuyah, dan Daud az-Zahiri. [1] Juga zahir Mazhab Ahmad bin Hambal dan mayoritas ahli Fikih yang muhaddits (fuqaha&#8217; hadits).</li>
</ol>
<p>Syekhul Islam menyatakan, &#8220;Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat yang masyhur antara salaf dan khalaf. Zahir Mazhab Ahmad dan para sahabatnya menyatakan bahwa (al-khulu&#8217;) adalah faskh nikah dan bukan talak yang tiga. Seandainya suami mengkhulu&#8217; sepuluh kali pun, ia masih boleh menikahi istrinya dengan akad nikah baru sebelum menikah dengan selainnya. Ini adalah salah satu pendapat Syafi&#8217;i dan pendapat mayoritas fuqaha&#8217; ahli hadits, seperti Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur, Daud, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan yang benar dari pendapat Ibnu Abbas dan sahabat-sahabat beliau, seperti Thawus dan &#8216;Ikrimah. [2]</p>
<p>Pandapat yang rajih adalah pendapat ketiga, dengan dalil sebagai berikut:</p>
<p><strong>Dalil pertama,</strong> firman Allah<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُواْ مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئاً إِلاَّ أَن يَخَافَا أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللّهِ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ . فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّىَ تَنكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يَتَرَاجَعَا إِن ظَنَّا أَن يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ</p>
<p><em>&#8220;Talak (yang dapat dirujuk) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma&#8217;ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri utuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikanya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk menikah kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.&#8221;</em> (Qs. al-Baqarah: 229&#8211;230)</p>
<p>Dalam ayat yang mulia ini, Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menyebutkan talak dua kali, kemudian menyebutkan al-khulu&#8217;, kemudian diakhiri dengan firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ</p>
<p><em>Seandainya al-khulu&#8217; adalah talak, tentunya jumlah talaknya menjadi empat dan talak yang tidak halal lagi kecuali menikah dengan suami yang lain adalah yang keempat.</em> [3]<br />
Demikianlah yang dipahami oleh Ibnu Abbas dari ayat di atas.</p>
<p>Beliau pernah ditanya tentang seorang yang mentalak istrinya dua kali, kemudian sang istri melakukan gugatan cerai (al-khulu&#8217;). Apakah ia boleh menikahinya lagi? Beliau menjawab, &#8220;Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> telah menyebutkan talak di awal ayat dan diakhirnya, serta al-khulu&#8217; di antara keduanya. Dengan demikian, al-khulu&#8217; bukanlah talak. (Oleh karena itu,) ia boleh menikahinya. (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam <em>al-Mushannaf</em>: 6/487 dan Sa&#8217;id bin Manshur (1455) dengan sanad shahih) [4]</p>
<p><strong>Dalil kedua,</strong> hadits ar-Rubayyi&#8217; binti Mu&#8217;awwidz yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَنَّهَا اخْتَلَعَتْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أُمِرَتْ أَنْ تَعْتَدَّ بِحَيْضَةٍ</p>
<p>&#8220;<em>Beliau melakukan al-khulu&#8217; pada zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, lalu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkannya &#8211;atau dia diperintahkan&#8211; untuk menunggu satu kali haidh.&#8221;</em> (Hr. at-Tirmidzi; dinilai shahih oleh al-Albani dalam at-Ta&#8217;liqat ar-Radhiyah &#8216;ala ar-Raudhah an-Nadiyah: 2/275).</p>
<p>Seandainya al-khulu&#8217; adalah talak, tentu beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak cukup memerintahkannya untuk menunggu selama satu haid.</p>
<p><strong>Dalil ketiga,</strong> pernyataan Ibnu Abbas,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا أَجَازَهُ الْمَالُ فَلَيْسَ بِطَلاَقٍ</p>
<p><em>&#8220;</em><em>Semua yang dihalalkan oleh harta bukanlah talak.&#8221;</em> (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam<em> al-Mushannaf,</em> no. 11767) [5]</p>
<p><strong>Dalil keempat,</strong> hal ini sesuai tuntutan kaidah syariat, karena iddah (masa menunggu wanita yang ditalak) dijadikan tiga kali haid agar masa tenggang untuk rujuk menjadi lama, lalu suami perlahan-lahan (berpikir) serta memungkinkannya untuk rujuk dalam masa tenggang iddah tersebut. Apabila pada al-khulu&#8217; tidak ada kebolehan untuk rujuk, maka maksudnya adalah sekadar untuk memastikan bahwa rahim tidak berisi janin (sang wanita tidak hamil, ed), dan itu cukup dengan sekali haid saja, seperti al-istibra&#8217;. [6]</p>
<p>Dalil kelima, asy-Syaukani membawakan keterangan Ibnu al-Qayyim yang menyatakan bahwa yang menunjukkan bahwa al-khulu&#8217; bukanlah talak adalah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menetapkan tiga hukum setelah talak yang tidak ada dalam al-khulu&#8217;, yaitu:</p>
<ol>
<li> Suami lebih berhak diterima rujuknya.</li>
<li> Dihitung tiga kali, sehingga tidak halal setelah sempurna bilangan tersebut hingga sang wanita menikahi suami baru dan berhubungan suami-istri dengannya.</li>
<li> Iddahnya tiga quru&#8217; (haid).</li>
</ol>
<p>Padahal, telah ditetapkan dengan nash dan ijma&#8217; bahwa tidak ada rujuk dalam al-khulu&#8217;. [7]</p>
<p>Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Taimiyah [8], Ibnu al-Qayyim [9], asy-Syaukani [10], Syekh Muhammad bin Ibrahim [11], Syekh Abdurrahman as-Sa&#8217;di [12], serta Syekh al-Albani [13].</p>
<p>Syekhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, &#8220;Pendapat yang telah kami jelaskan, yaitu al-khulu&#8217; adalah fasakh yang memisahkan wanita dari suaminya dengan lafal apa pun adalah yang shahih yang ditunjukkan oleh nash-nash dan ushul. Oleh karena itu, seandainya seorang lelaki memisah istrinya dengan tebusan (al-khulu&#8217;) sebanyak beberapa kali, ia masih boleh menikahinya, baik dengan lafal talak atau selainnya.&#8221;  [14]</p>
<p>Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di menyatakan, &#8220;Yang shahih adalah bahwa khulu&#8217; tidak terhitung sebagai talak, walaupun dengan lafal talak dan niatnya, karena Allah menjadikan tebusan bukan talak dan itu umum, baik dengan lafal talak yang khusus atau dengan lafal lainnya, dan karena yang dilihat adalah maksud dan kandungannya, bukan lafal dan susunan katanya.&#8221; [15]</p>
<p>Sedangkan Syekh al-Albani menyatakan, &#8220;Dan yang benar adalah bahwa fasakh sebagaimana yang dijelaskan dan disampaikan argumentasinya oleh Syekhul Islam dalam al-Fatawa.&#8221; [16]</p>
<p><strong>Hasil dan Konsekuensi Masalah Ini</strong></p>
<p>Masalah al-khulu&#8217; yang merupakan fasakh bukan talak akan memberikan beberapa hukum sebagai konsekuensinya, di antaranya:</p>
<p>1. Tidak dianggap dalam hitungan talak yang tiga. Sehingga seandainya seorang mengkhulu&#8217; setelah melakukan dua kali talak, maka ia masih diperbolehkan menikahi istrinya tersebut, walaupun al-khulu&#8217;nya terjadi lebih dari sekali. Sebagaimana dijelaskan Syekhul Islam di atas.</p>
<p>2. Iddah atau masa menunggunya hanya sekali haid, dengan dasar hadits ar-Rubayyi&#8217; binti Mu&#8217;awwidz tang telah disampaikan di atas. Ini dikuatkan pula dengan hadits Ibnu Abbas yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ اخْتَلَعَتْ مِنْهُ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِدَّتَهَا حَيْضَةً</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya istri Tsabit bin Qais meminta talak (al-khulu&#8217;) darinya, lalu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menetapkan iddahnya sekali haid.&#8221; </em>(Hr. Abu Daud; dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud, no. 2229)</p>
<p>Inilah pendapat Utsman bin &#8216;Affan, Ibnu Umar, Ibnu &#8216;Abbas, Ishaq, Ibnu al-Mundzir, dan riwayat dari Ahmad bin Hambal. Inilah yang dirajihkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. [17]</p>
<p>3. Al-Khulu&#8217; diperbolehkan dalam setiap waktu, walaupun dalam keadaan haid atau suci yang telah dipergauli, karena al-khulu&#8217; disyariatkan untuk menghilangkan kemudaratan yang menimpa wanita dengan sebab tidak baiknya pergaulan sang suami atau tinggal bersama orang yang dibenci dan tidak disukainya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak menanyakan keadaan wanita yang melakukan al-khulu&#8217;.</p>
<p>Demikianlah beberapa hukum berkenaan dengan al-khulu&#8217;, sebagai pelengkap pambahasan yang terdahulu. Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>1. <em>Al-Mukhtarat al-Jaliyyah min al-Masa`il al-Fiqhiyyah,</em> Syeikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa&#8217;di, diterbitkan bersama kumpulan karya beliau dalam <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah li Mu&#8217;allafat al-Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di, </em>cetakan kedua, tahun 1412 H, Markaz Shalih bin Shalih ats-Tsaqafi, Unaizah, KSA.</p>
<p>2. <em>Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, </em>Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Basam, cetakan kelima, tahun 1423 H, Maktabah al-Asadi, Mekkah.</p>
<p>3.<em> Shahih Fikih Sunnah, </em>Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, tanpa cetakan dan tahun, al-Maktabah al-Tauqifiyah, Mesir.</p>
<p>4.<em> Al-Adillah ar-Radhiyah Limatni ad-Durar al-Bahiyyah fi Masa`il al-Fiqhiyyah, </em>Muhammad asy-Syaukani, ditulis oleh Muhammad Shubhi Hallaf, cetakan tahun, 1423 H, Dar al-Fikr, Beirut.</p>
<p>5.<em> Nail al-Authar min Ahadits Sayyid al-Akhyar Syarh Muntaqa al-Akhbar,</em> Muhammad bin Ali asy-Syaukani, tahqiq Muhammad Salim Hasyim, cetakan pertama, tahun 1415 H, Dar al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah, Beirut.</p>
<p>6. <em>At-Ta&#8217;liqat ar-Radhiyah &#8216;ala ar-Raudhah an-Nadiyah Shidiq Hasan Khan</em>, karya Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani, tahqiq Ali Hasan al-Halabi, cetakan pertama, tahun 1420 H, Dar Ibnu &#8216;Affan, Mesir.</p>
<p>7.<em> Zad al-Ma&#8217;ad fi Hadyi Khairil &#8216;Ibad,</em> Ibnu al-Qayyim, tahqiq Syu&#8217;aib al-Arnauth, cetakan ketiga, tahun 1421 H, Muassasat al-Risalah, Beirut.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="EkonomiSyariat.Com" href="http://EkonomiSyariat.Com" target="_blank">EkonomiSyariat.Com</a></p>
<p>===<br />
Catatan kaki:</p>
<p>[1] Lihat: <em>Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, </em>Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Basam, cetakan kelima, tahun 1423 H, Maktabah al-Asadi, Mekkah, 5/473; <em>Shahih Fikih Sunnah</em>, Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, tanpa cetakan dan tahun, al-Maktabah al-Tauqifiyah, Mesir, 3/344&#8211;345.</p>
<p>[2] <em>Majmu&#8217; Fatawa:</em> 23/289.</p>
<p>[3] Lihat <em>at-Ta&#8217;liqat ar-Radhiyah &#8216;ala ar-Raudhah an-Nadiyah Shidiq Hasan Khan,</em> karya Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani, tahqiq Ali Hasan al-Halabi, cetakan pertama, tahun 1420 H, Dar Ibnu &#8216;Affan, Mesir, 2/275; <em>Taudhih al-Ahkam</em>: 5/473; <em>Shahih Fikih Sunnah</em>: 3/3345.</p>
<p>[4] Dinukil dari <em>Shahih Fikih Sunnah</em>: 3/346.</p>
<p>[5] <em>Ibid.</em></p>
<p>[6]<em> Zad al-Ma&#8217;ad fi Hadyi Khairil &#8216;Ibad,</em> Ibnu al-Qayyim, tahqiq Syu&#8217;aib al-Arnauth, cetakan ketiga, tahun 1421 H, Muassasat al-Risalah, Beirut, 5/179.</p>
<p>[7]<em> Nail al-Authar min Ahadits Sayyid al-Akhyar Syarh Muntaqa al-Akhbar,</em> Muhammad bin Ali asy-Syaukani, tahqiq Muhammad Salim Hasyim, cetakan pertama, tahun 1415 H, Dar al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah, Beirut, 6/263.</p>
<p>[8] <em>Majmu&#8217; al-Fatawa:</em> 23/289.</p>
<p>[9] <em>Zad al-Ma&#8217;ad:</em> 5/179.</p>
<p>[10] <em>Al-Adillah ar-Radhiyah Limatni ad-Durar al-Bahiyyah fi Masa`il al-Fiqhiyyah,</em> Muhammad asy-Syaukani, ditulis oleh Muhammad Shubhi Hallaf, cetakan tahun, 1423 H, Dar al-Fikr, Beirut, hlm. 129.</p>
<p>[11]Lihat: <em>Taudhih al-Ahkam</em>: 5/473.</p>
<p>[12] <em>Al-Mukhtarat al-Jaliyyah min al-Masa`il al-Fiqhiyyah,</em> Syeikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa&#8217;di, diterbitkan bersama kumpulan karya beliau dalam <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah li Mu&#8217;allafat al-Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di,</em> cetakan kedua, tahun 1412 H, Markaz Shalih bin Shalih ats-Tsaqafi, Unaizah, KSA, 2/173.</p>
<p>[13]<em> At-Ta&#8217;liqat ar-Radhiyah &#8216;ala ar-Raudhah an-Nadiyah:</em> 2/273.</p>
<p>[14] <em>Majmu&#8217; al-Fatawa:</em> 23/290.</p>
<p>[15] <em>Al-Mukhtarat al-Jaliyyah min al-Masa`il al-Fiqhiyyah:</em> 2/173.</p>
<p>[16]<em> At-Ta&#8217;liqat ar-Radhiyah &#8216;ala ar-Raudhah an-Nadiyah</em>: 2/273.</p>
<p>[17] <em>Lihat: Shahih Fikih Sunnah</em>: 3/360.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/fikih-umum/khulu-cerai-atau-fasakh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemanfaatan Kulit Hewan</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/fikih-umum/pemanfaatan-kulit-hewan.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/fikih-umum/pemanfaatan-kulit-hewan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 02:24:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[Kulit Hewan]]></category>
		<category><![CDATA[Menyamak Kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Telah dimaklumi bahwa syariat Islam melarang memakan bangkai dan menjualnya. Lalu, bagaimana dengan memanfaatkan kulitnya?
Hukum kenajisan kulit bangkai mengikuti hukum bangkainya. Apabila bangkai hewan tersebut suci maka kulitnya pun suci, dan bila bangkai hewannya najis maka kulitnya pun najis. Kulit bangkai hewan yang dihukumi suci dapat digunakan dan dimanfaatkan serta dimakan. Sebagai contoh, bangkai ikan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah dimaklumi bahwa syariat Islam melarang memakan bangkai dan menjualnya. Lalu, bagaimana dengan memanfaatkan kulitnya?</p>
<p>Hukum kenajisan kulit bangkai mengikuti hukum bangkainya. Apabila bangkai hewan tersebut suci maka kulitnya pun suci, dan bila bangkai hewannya najis maka kulitnya pun najis. Kulit bangkai hewan yang dihukumi suci dapat digunakan dan dimanfaatkan serta dimakan. Sebagai contoh, bangkai ikan, kulitnya halal dimakan dan suci.</p>
<p><strong>Hukum Menyamak Kulit Bangkai</strong></p>
<p>Para ulama berselisih pendapat tentang dapatkah kulit bangkai disucikan dengan cara disamak. Perselisihan ini terbagi dalam tujuh pendapat.<br />
<strong><br />
Pendapat Pertama</strong></p>
<p>Mereka menyatakan bahwa semua kulit bangkai dapat disucikan dengan disamak, kecuali anjing dan babi serta hewan yang dilahirkan dari salah satu dari keduanya. Suci dengan disamak bagian luar dan dalamnya, dan dapat dipergunakan pada benda yang kering dan basah (cair), serta tidak ada perbedaan antara hewan yang dibolehkan dimakan dagingnya dengan yang dilarang. Ini adalah pendapat Mazhab Syafi&#8217;i dan diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas&#8217;ud  [1]</p>
<p>Ibnu Hajar menyatakan, “Al-Imam asy-Syafi&#8217;i mengecualikan anjing dan babi serta yang lahir dari peranakan keduanya, karena keduanya -menurut beliau- adalah najis a&#8217;iniyah.” [2]</p>
<p>Mereka mendasari pendapat ini dengan beberapa dalil, di antaranya:</p>
<p>1. Hadits Ibnu Abbas, beliau berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِشَاةٍ مَيِّتَةٍ فَقَالَ هَلَّا اسْتَمْتَعْتُمْ بِإِهَابِهَا قَالُوا إِنَّهَا مَيِّتَةٌ قَالَ إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا</p>
<p><em>“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seekor bangkai kambing, lalu beliau berkata, ‘Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya?’ Mereka menjawab, ‘Itu ‘kan bangkai.’ Beliau menyatakan, ‘Yang diharamkan hanya memakannya.’” </em>(Hr. al-Bukhari, <em>Kitab al-Buyu&#8217;, Bab Julud al-Maitah Qabla ad-Dibagh,</em> no. 2221)</p>
<p>Dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan redaksional,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَلاَ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ</p>
<p><em>“Mengapa kalian tidak mengambilnya, lalu kalian sak dan kalian manfaatkan?” </em>(Hr. Muslim,<em> Kitab al-Haidh, Bab Thaharatul Jild al-Maitah bi Dibagh, </em>no. 808)</p>
<p>2. Hadits yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ</p>
<p><em>Dari Abdullah bin Abbas, beliau berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila kulit bangkai telah disamak, maka dia telah suci.’”</em> (Hr. Muslim, Kitab al-Haidh, Bab Thaharatul Jild al-Maitah bi Dibagh, no. 810)</p>
<p>3. Hadits Salamah bin al-Mahiq, yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ أَتَى عَلَى بَيْتٍ فَإِذَا قِرْبَةٌ مُعَلَّقَةٌ فَسَأَلَ الْمَاءَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا مَيْتَةٌ فَقَالَ دِبَاغُهَا طُهُورُهَا</p>
<p><em>“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk mendatangi satu rumah yang ternyata di dalamnya terdapat kantung air yang tergantung, lalu beliau meminta air, lalu mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya itu adalah bangkai.’ Maka beliau menjawab, ‘Penyamakannya adalah penyuciannya.’”</em> (Hr. Abu Daud dalam <em>Sunannya, Kitab al-Libas, Bab fi Ihab al-Maitah,</em> no. 4125; dinilai shahih oleh al-Albani dalam<em> Shahih Sunan Abu Daud dan Shahih Sunan an-Nasa&#8217;I,</em> no. 4243 dan 3957)</p>
<p>Bahkan, Syekh al-Albani menyatakan, “Telah ada lima belas hadits tentang penyamakan kulit bangkai (الدباغ) yang telah disebutkan asy-Syaukani dalam <em>Nail al-Authar</em>: 1/54. [3] Sebagiannya tercantum dalam <em>ash-Shahihain,</em> dan riwayat tersebut sudah ditakhrij dalam<em> kitab Ghayah al-Maram</em> (25&#8211;29). [4]</p>
<p>4. Anjing dan babi dikecualikan darinya, karena keduanya adalah najis &#8216;ainiyah. [5] Imam Syafi&#8217;i berdalil tentang pengecualian babi dengan firman Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ</p>
<p><em>“… Atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor (najis)….”</em> (Qs. al-An&#8217;am: 145)</p>
<p>Beliau menjadikan kata ganti pada kata “فَإِنَّهُ” kembali kepada mudhaf ilaih kata “خِنزِيرٍ”, kemudian beliau menganalogikan anjing dengan babi karena keduanya sama-sama najis, juga karena babi tidak memiliki kulit. [6]</p>
<p>Pengecualian anjing dan babi ini dibantah oleh asy-Syaukani dalam pernyataan beliau, “Pendalilan asy-Syafi&#8217;i dengan ayat di atas, untuk pengecualian babi dan analogi anjing kepada babi, adalah pendalilan yang tidak sempurna, kecuali setelah dipastikan benar bahwa pengembalian kata ganti tersebut adalah kepada mudhaf ilaih, bukan kepada mudhaf (yaitu, kata لَحْم , pen). Ini adalah masalah yang masih diperselisihkan, dan paling tidak, masih ada kemungkinan bahwa yang rajih adalah kata ganti tersebut kembali kepada mudhaf.</p>
<p>Sesuatu yang belum pasti, tidak bisa dijadikan hujjah (argumentasi) atas orang yang menyelisihinya. Demikian juga, masih boleh dikatakan bahwa babi itu najis, walaupun kenajisan itu mencakup seluruhnya, baik daging, rambut, kulit, dan tulangnya, dan itu dikhususkan dengan hadits-hadits tentang penyamakan kulit (ash-Dhibagh).” [7]</p>
<p>Imam al-Baihaqi merajihkan pendapat ini, dan beliau menyampaikan dalil penguat Mazhab Syafi&#8217;i tentang pengecualian anjing dalam hal ini, dengan dalil-dalil berikut: [8]</p>
<p>1. Hadits Rafi&#8217; bin Khadij dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">شَرُّ الْكَسْبِ مَهْرُ الْبَغِيِّ وَثَمَنُ الْكَلْبِ وَكَسْبُ الْحَجَّامِ</p>
<p><em>“Penghasilan terburuk adalah mahar pezina, hasil penjualan anjing, dan penghasilan tukang bekam.”</em> (Hr. Muslim dalam <em>Shahihnya, Kitab al-Musaqah, Bab Tahrim Tsaman al-Kalbu, </em>no. 1568)</p>
<p>Al-Baihaqi menyatakan, “Menyamak kulit anjing, menjualnya, dan mengambil hasil penjualannya adalah usahanya untuk mendapatkan hasilnya, sedangkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menamakannya sebagai penghasilan terburuk.”</p>
<p>2. Hadits Usamah bin Umair, yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ جُلُودِ السِّبَاعِ</p>
<p><em>“Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perihal kulit binatang buas.”</em> (Hr. an-Nasa&#8217;i dan al-Baihaqi; sanadnya dinilai shahih oleh Syekh al-Albani dalam <em>Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah,</em> no. 1011)</p>
<p>Imam al-Baihaqi menyatakan, “Mungkin mereka berdalil dengan keumuman hadits,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ</p>
<p>&#8220;<em>Semua kulit bangkai yang disamak itu telah suci.&#8221;</em> (Hr. Muslim dalam Shahihnya [9], dari hadits Ibnu Abas dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>).</p>
<p>Matan hadits ini dipahami untuk selain kulit anjing, dengan dalil hadits Rafi&#8217; dan selainnya, karena ini (bahwa anjing dan seluruh bagian tubuhnya itu najis, ed) berlaku khusus, sedangkan itu (bahwa semua kulit bangkau yang disamak itu telah suci, ed) berlaku umum. (Juga terdapat kaidah bahwa) yang khusus mengalahkan yang umum. [10]</p>
<p>Demikian juga Syekh Masyhur Hasan Salman merajihkan pendapat al-Baihaqi. [11]</p>
<p><strong>Pendapat Kedua</strong></p>
<p>Menyatakan bahwa kulit bangkai tidak dapat disucikan dengan disamak. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, Abdullah bin Umar, Aisyah, dan riwayat yang termasyhur dari Ahmad dan salah satu riwayat dari Malik. [12] Bahkan, inilah yang dijadikan pendapat Mazhab Ahmad bin Hambal. [13]</p>
<p>Mereka berdalil dengan hadits Abdullah bin &#8216;Ukaim, yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لاَ تَنْتَفِعُوْا مِنَ الْمَيِّتَةِ بِإِهَابٍ وَ لاَ عَصَبٍ</p>
<p><em>“Janganlah memanfaatkan bagian bangkai, baik kulit ataupun persendiannya.”</em> (Hr. Ahmad dalam <em>Musnadnya</em>: 4/310, Abu Daud no. 4128, at-Tirmidzi no. 1729; dinilai shahih oleh al-Albani dalam<em> Irwa&#8217; al-Ghalil </em>no. 38 dan <em>Silsilah ash-Shahihah</em> no. 2812)</p>
<p>Syekh Al Albani menukil pernyataan Shalih, anak Imam Ahmad, dari kitab Masa&#8217;il (hlm. 160), “Ayahku berkata, ‘Allah telah mengharamkan bangkai, lalu kulitnya adalah bagian dari bangkai. Aku memegang hadits Ibnu &#8216;Ukaim, yang mudah-mudahan shahih (yang berbunyi),</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لاَ تَنْتَفِعُوْا مِنَ الْمَيِّتَةِ بِإِهَابٍ وَ لاَ عَصَبٍ</p>
<p>‘Janganlah memanfaatkan bagian bangkai, baik kulit ataupun persendiannya.’”</p>
<p>Imam Ahmad menyatakan, “Aku tidak memiliki satu hadits shahih pun dalam masalah penyamakan kulit, dan hadits Ibnu &#8216;Akim lah yang paling shahih.” [14]</p>
<p>Pendapat ini pun menyatakan bahwa bangkai adalah najis &#8216;ainiyah yang tidak mungkin disucikan, seperti kotoran keledai yang seandainya dicuci dengan air selaut pun tentu tidak akan suci.</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin menjawab bahwa ini adalah qiyas (analogi) yang menentang nash, yaitu hadits Maimunah. [15]</p>
<p>Akan tetapi, mereka menjawab bahwa hadits Maimunah tersebut telah dinasakh (dihapus hukumnya) oleh hadits Abdullah bin &#8216;Ukaim.</p>
<p>Ini pun dijawab oleh Syekh Ibnu Utsaimin dengan beberapa jawaban:</p>
<ol>
<li>Hadits ini lemah [16], sehingga tidak dapat menghadapi hadits yang shahih.</li>
<li>Hadits ini tidak dapat dijadikan penghapus hukum (nasikh), karena kita tidak mengetahui apakah peristiwa kambing dalam hadits Maimunah terjadi sebulan sebelum beliau meninggal atau beberapa hari? Padahal, di antara syarat nasakh adalah waktu peristiwanya jelas diketahui.</li>
<li>Seandainya dapat dipastikan bahwa hadits ini terjadi lebih akhir, maka ini pun tidak menentang hadits Maimunah, karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</li>
</ol>
<p class="arab" style="text-align: right;">لاَ تَنْتَفِعُوْا مِنَ الْمَيِّتَةِ بِإِهَابٍ وَ لاَ عَصَبٍ</p>
<p><em>“Janganlah memanfaatkan bagian bangkai, baik kulit ataupun persendiannya.”</em></p>
<p>Dapat dipahami bahwa kata ” إِهَابٍ” adalah kulit bangkai sebelum disamak. Sengan demikian, dapat terjadi kompromi antara hadits tersebut dengan hadits Maimunah. [17]</p>
<p>Adapun Syekh al-Albani, beliau menyatakan, “Yang paling benar adalah pendapat yang menyatakan bahwa pengertian ” إِهَابٍ”  adalah kulit bangkai yang belum disamak.” [18]</p>
<p><strong>Pendapat Ketiga</strong></p>
<p>Menyatakan bahwa yang dapat disucikan dengan disamak hanya kulit bangkai hewan yang diperbolehkan dimakan dagingnya. Ini adalah Mazhab al-Auza&#8217;i, Ibnu al-Mubarak, Abu Tsaur, dan Ishaq bin Rahuyah.” [19]</p>
<p>Mereka bersandar kepada kekhususan sebab (disampaikannya hadits) tersebut, sehingga mereka membatasi kebolehan hanya kepada hewan yang boleh dimakan dagingnya. Alasannya, adanya penyebutan bangkai kambing (dalam hadits), dan ini dikuatkan dengan pandangan bahwa penyamakan tidak menambah kesucian melebihi penyembelihan. Selain itu, seandainya hewan yang dilarang untuk dimakan dagingnya disembelih pun, dia tidak akan suci dengan sembelihan tersebut, menurut mayoritas ulama, maka demikian juga penyamakan. [20]</p>
<p>Hal ini dibantah oleh asy-Syaukani, dengan menyatakan bahwa keumuman hadits-hadits penyamakan tidak dapat dibatasi hanya pada sebabnya, sehingga bersandar kepada sebab wurud hadits yang berupa kambing Maimunah merupakan suatu sikap yang tidak benar.” [21]</p>
<p>Ishaq bin Rahuyah menyatakan, “Pengertian sabda Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>“أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ“ adalah hewan yang dimakan dagingnya, demikianlah ditafsirkan oleh an-Nadhar bin Syumail.” Ishaq menyatakan bahwa an-Nadhar bin Syumail menyatakan, “Dikatakan إِهَاب untuk kulit hewan yang dimakan dagingnya.” [22]</p>
<p>Tentang penukilan dari an-Nadhar bin Syumail, hal itu dibantah oleh asy-Syaukani, dengan pernyataan beliau, “Ini menyelisihi pernyataan yang disampaikan Abu Daud dalam Sunannya, bahwa an-Nadhar menyatakan, ‘Yang dinamakan ‘ihab’ (إِهَاب) adalah yang belum disamak. Apabila telah disamak, maka namanya adalah ‘syanan’ dan ‘qirbah’.’” [23]</p>
<p>Pendapat inilah yang dirajihkan oleh Syekh Muhammad bin Utsaimin dalam pernyataan beliau, “Yang rajih adalah pendapat ketiga, dengan dasar sebagian lafal hadits yang berbunyi ‘دِبَاغُهَا ذَكَاتُهَا‘ diungkapkan dengan penyembelihan (ذكاة).</p>
<p>Sudah dimaklumi bahwa penyembelihan hanya menyucikan hewan yang diperbolehkan dimakan dagingnya. Sehingga, seandainya kamu menyembelih seekor keledai dengan menyebut nama Allah dan menumpahkan darahnya, maka hal itu tidak dinamakan penyembelihan (syar&#8217;i).</p>
<p>Dengan dasar ini, kami berpendapat bahwa kulit bangkai hewan yang dilarang untuk dimakan dagingnya, walaupun ia suci di masa hidupnya, dia tetap tidak dapat disucikan dengan disamak. Alasannya, hewan-hewan yang suci di masa hidupnya tersebut dijadikan suci karena sulit menghindarinya, dengan dasar sabda Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّمَا مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ</p>
<p>‘Sesungguhnya ia dari yang mengelilingi kalian.’</p>
<p>Illat (sebab hukum) ini hilang dengan kematian, sehingga hukumnya kembali kepada asalnya, yaitu najis, sehingga kulitnya tidak dapat disamak. Oleh karena itu, pendapat yang rajih adalah bahwa semua kulit bangkai hewan yang dibolehkan untuk dimakan dagingnya dapat disucikan dengan cara disamak. Ini adalah salah satu pendapat Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.” [24]<br />
<strong><br />
Pendapat Keempat</strong></p>
<p>Menyatakan bahwa semua kulit bangkai dapat disucikan dengan cara disamak, kecuali babi. Ini adalah mazhab Abu Hanifah.  [25]</p>
<p>Mereka berhujjah dengan dalil-dalil pendapat pertama, tanpa menganalogikan anjing dengan babi. Namun, Imam Nawawi menyatakan, “Kami dan kalian sepakat mengeluarkan babi dari keumuman (hadits-hadits penyamakan), dan anjing sama dengannya juga.” [26]</p>
<p><strong>Pendapat Kelima</strong></p>
<p>Menyatakan bahwa semua kulit bangkai dapat disucikan dengan cara disamak, namun hanya bagian luarnya, dan tidak bagian dalamnya. Dengan demikian, tidak dapat digunakan untuk benda cair. Ini adalah mazhab Malik yang masyhur. [27]</p>
<p>Mereka menyatakan bahwa penyamakan hanya berpengaruh pada bagian luar saja. Akan tetapi, hal ini dibantah dengan keumuman hadits-hadits penyamakan kulit bangkai yang mencakup bagian luar dan dalamnya. Oleh karena itu, Ibnu Hajar menyatakan, “Dan demikian juga, (telah kelirulah) orang yang memahami larangan tersebut untuk bagian dalam dan dapat disucikan bagian luarnya.” [28]</p>
<p>Pendapat Keenam</p>
<p>Menyatakan bahwa semua kulit bangkai dapat disucikan dengan disamak, tanpa pengecualian. Ini adalah pendapat Mazhab Zahiriyah dan Abu Yusuf. [29]</p>
<p>Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa penyamakan dapat menyucikan kulit bangkai. Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits tersebut bersifat umum, mencakup seluruh binatang. Inilah pendapat yang dirajihkan oleh asy-Syaukani. Beliau menyatakan bahwa pendapat inilah yang rajah, karena hadits-hadits tentang penyucian kulit bangkai dengan disamak tidak membedakan antara anjing dan babi dengan selainnya.</p>
<p><strong>Pendapat Ketujuh</strong></p>
<p>Menyatakan tentang diperbolehkannya memanfaatkan kulit bangkai walaupun tidak disamak terlebih dahulu. Ini adalah pendapat az-Zuhri. Beliau mengambil kemutlakan bolehnya memanfaatkan kulit bangkai, baik yang telah disamak ataupun belum, dari hadits Ibnu Abbas yang tidak menyebutkan adanya perintah penyamakan.</p>
<p>Pendapat ini dibantah dengan adanya hadits yang menjelaskan penyamakan, seperti hadits Maimunah, Aisyah, dan Salamah bin al-Mahiq, serta yang lainnya. Oleh karena itu, asy-Syaukani menyatakan, “Tampaknya, belum sampai riwayat lain dan hadits-hadits yang lainnya kepada az-Zuhri.” [31]</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p><strong>Hukum Memakan Kulit Bangkai yang Telah Disamak</strong></p>
<p>Kulit bangkai yang telah disamak hukumnya suci, namun terlarang untuk dimakan, dengan dasar hadits Ibnu Abbas yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَاتَتْ شَاةٌ لِسَوْدَةَ بِنْتِ زَمْعَةَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاتَتْ فُلَانَةُ يَعْنِي الشَّاةَ فَقَالَ فَلَوْلَا أَخَذْتُمْ مَسْكَهَا فَقَالَتْ نَأْخُذُ مَسْكَ شَاةٍ قَدْ مَاتَتْ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ<br />
فَإِنَّكُمْ لَا تَطْعَمُونَهُ إِنْ تَدْبُغُوهُ فَتَنْتَفِعُوا بِهِ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهَا فَسَلَخَتْ مَسْكَهَا فَدَبَغَتْهُ فَأَخَذَتْ مِنْهُ قِرْبَةً حَتَّى تَخَرَّقَتْ عِنْدَهَا</p>
<p><em>“Kambing Saudah binti Zam&#8217;ah mati, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah!, Fulanah (yaitu, kambing Saudah) telah mati.’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya?’ Ia menjawab, ‘Apakah kami boleh mengambil kulit kambing yang telah mati (menjadi bangkai)?’ Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Allah telah berfirman,</em></p>
<p><em>Katakanlah, ‘Tiadalah kuperoleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi.’ </em>(Qs. al-An’am: 145)</p>
<p>S<em>ungguh, kalian tidak memakannya apabila disamak, namun kalian dapat memanfaatkannya.’ Maka ia (Saudah) menyuruh orang mengambilnya dan menguliti kulitnya, lalu ia samak dan membuat kantung air (qirbah) darinya, berada padanya hingga robek.” </em>(Hr. Ahmad, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Majduddin Ibnu Taimiyah dalam <em>al-Muntaqa al-Akhbar</em>) [32]</p>
<p>Asy-Syaukani menyatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan memakan kulit bangkai dan penyamakan walaupun menyucikannya namun tidak menghalalkan untuk memakan bangkai tersebut. Di antara dalil yang menunjukkan larangan memakannya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّمَا حَرُمَ مِنَ الْمَيْتَةِ أَكْلُهَا</p>
<p>‘Yang diharamkan dari bangkai adalah memakannya.’</p>
<p>Ini termasuk permasalahan yang tidak aku ketahui bahwa ada perselisihan di dalamnya.” [33]</p>
<p>Demikianlah, selintas permasalah tentang pemanfaatan kulit bangkai menurut pendapat para ulama. Mudah-mudahan bermanfaat. Wabillahi at-taufiq.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>1. <em>Nailul Authar bi Syarhi al-Muntaqa lil Akhbar,</em> Muhammad bin Ali asy-Syaukani, tahqiq Muhammad Salim Hasyim, cetakan pertama, tahun 1415 H, Darul Kutub al-&#8217;Ilmiyah, Beirut.<br />
2.<em> Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari, </em>Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Maktabah as-Salafiyah, tanpa cetakan dan tahun.<br />
3. <em>Syarhul Mumti&#8217; &#8216;ala Zad al-Mustaqni&#8217;,</em> Syekh Ibnu Utsaimin, tahqiq Dr. Khalid al-Musyaiqih dan Sulaimin Abu Khail, cetakan kedua, tahun 1414 H, Muassasatu Asam.<br />
4.<em> Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa Syai&#8217;un min Fiqhiha wa Fawaidiha,</em> Syekh al-Albani, cetakan pertama, tahun 1417 H, Maktabah al-Ma&#8217;arif, Riyadh, KSA.<br />
5. <em>Al-Khilafiyat</em>, Abu Bakar al-Baihaqi, tahqiq Masyhur Hasan Salman, cetakan pertama, tahun 1414 H, Dar ash-Shumai&#8217;i, KSA.<br />
6<em>. Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarhi Jami&#8217; at-Tirmidzi</em>, Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri, cetakan pertama, tahun 1419 H, Dar Ihya&#8217; at-Turats al-Arabi, Beirut.<br />
7. <em>Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu al-Hajaj</em>, Imam an-Nawawi, asy-Syekh Khalil Ma&#8217;mun Syiha, cetakan ketiga, tahun 1417 H, Dar al-Ma&#8217;rifah.<br />
8.<em> Al-Majmu&#8217; Syarhul Muhadzab, </em>Imam Nawawi, dengan penyempurnaan Muhammad Najib al-Muthi&#8217;i, cetakan tahun 1419 H, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Beirut.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi.<br />
Artikel: <a title="EkonomiSyariat.Com" href="EkonomiSyariat.Com" target="_blank">EkonomiSyariat.Com</a><br />
===<br />
<strong>Catatan kaki:<br />
</strong><br />
[1] Lihat: <em>Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu al-Hajaj,</em> Imam an-Nawawi, asy-Syekh Khalil Ma&#8217;mun Syiha, cetakan ketiga, tahun 1417 H, <em>Dar al-Ma&#8217;rifah</em>, 4/276;  <em>Nailul Authar bi Syarhi al-Muntaqa lil Akhbar</em>, Muhammad bin Ali asy-Syaukani, tahqiq Muhammad Salim Hasyim, cetakan pertama, tahun 1415 H, Darul Kutub al-&#8217;Ilmiyah, Beirut, 1/72.<br />
[2] <em>Fathul Bari</em>: 9/658.<br />
[3] Dalam kitab yang dirujuk penulis, yaitu 1/72. Hal ini terjadi karena perbedaan cetakan.<br />
[4] <em>Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa Syai&#8217;un min Fiqhiha wa Fawaidiha,</em> Syekh al-Albani, cetakan pertama, tahun 1417 H, Maktabah al-Ma&#8217;arif, Riyadh, KSA, 6/742; ketika berbicara tentang hadits no. 2812.<br />
[5] <em>Nailul Authar</em>: 1/72.<br />
[6] <em>Ibid.</em><br />
[7] <em>Ibid:</em> 1/73.<br />
[8] Diringkas dari kitab <em>al-Khilafiyaat</em>, Abu Bakar al-Baihaqi, tahqiq Masyhur Hasan Salman, cetakan pertama, tahun 1414 H, Dar ash-Shumai&#8217;i, KSA, 1/223-245.<br />
[9] Lafal pada riwayat Muslim: إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ<br />
[10]<em>Al-Khilafiyat</em>: 1/243.<br />
[11]Lihat: komentar beliau atas kitab <em>al-Khilafiyaat</em>: 1/246.<br />
[12]Lihat: <em>Syarah Shahih Muslim</em>: 4/276.<br />
[13]Lihat: <em>Syarhul Mumti&#8217;:</em> 1/70.<br />
[14]<em>Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah</em>: 6/742; ketika berbicara tentang hadits no. 2812.<br />
[15]Lihat: <em>Syarhul Mumti&#8217;</em>: 1/70.<br />
[16]Namun hadits ini dinilai shahih oleh Ahmad bin Hambal dan Syekh al-Albani.<br />
[17]<em>Syarhul Mumti&#8217;</em>: 1/71—72.<br />
[18]<em>Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah</em>: 6/742.<br />
[19]Lihat: <em>Syarah Shahih Muslim</em>: 4/276 .<br />
[20]<em>Fathul Bari</em>: 9/659.<br />
[21]<em>Nailul Authar</em>: 1/73.<br />
[22]Disampaikan at-Tirmidzi dalam <em>Sunannya</em>, pada <em>Kitab Libas, Bab Ma Ja&#8217;a fi Julud al-Maitah Idza Dubighat;</em> lihat: <em>Tuhfat al-Ahwadzi</em>: 5/401.<br />
[23]Lihat: <em>Tuhfah al-Ahwadzi</em>: 5/401.<br />
[24]<em>Syarhul Mumti&#8217;</em>: 1/75.<br />
[25]Lihat: <em>Syarhu Shahih Muslim:</em> 4/276, dan<em> al-Majmu&#8217;</em>: 1/275.<br />
[26]<em>Al-Majmu&#8217; Syarhul Muhadzab</em>, an-Nawawi, 1/275.<br />
[27]Lihat: <em>Syarhu Shahih Muslim</em>: 4/276, dan <em>al-Majmu&#8217;</em>: 1/275.<br />
[28]<em>Fathul Bari</em>: 9/659.<br />
[29]Lihat: <em>Syarhu Shahih Muslim</em>: 4/276, dan <em>al-Majmu&#8217;</em>: 1/275.<br />
[30]<em>Nailul Authar</em>: 1/73.<br />
[31]<em>Nailul Authar:</em> 1/74.<br />
[32]Lihat: <em>Nailul Authar</em>: 1/75.<br />
[33]<em>Nailul Authar:</em> 1/75.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/fikih-umum/pemanfaatan-kulit-hewan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Menikah dengan Orang Kafir?</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/bolehkah-menikah-dengan-orang-kafir.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/bolehkah-menikah-dengan-orang-kafir.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 03:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Menikah]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Kafir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Pernikahan dalam Islam bertujuan untuk membangun keluarga yang berada dalam naungan cinta. Keluarga adalah bagian kecil dari masyarakat yang harus dipersiapkan untuk membentuk masyarakat yang baik. Karena itulah, kita lihat Islam memberikan perhatian dalam mewujudkan faktor penyebab yang membantu terciptanya hal ini. Bentuk perhatian ini dapat terlihat dari hukum syariat yang ditetapkan dalam pembangunan keluarga, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernikahan dalam Islam bertujuan untuk membangun keluarga yang berada dalam naungan cinta. Keluarga adalah bagian kecil dari masyarakat yang harus dipersiapkan untuk membentuk masyarakat yang baik. Karena itulah, kita lihat Islam memberikan perhatian dalam mewujudkan faktor penyebab yang membantu terciptanya hal ini. Bentuk perhatian ini dapat terlihat dari hukum syariat yang ditetapkan dalam pembangunan keluarga, nasihat, anjuran, serta bimbingan dalam merealisasikan kehidupan yang baik.</p>
<p>Ketika percampuran kaum muslimin dengan kafir di masa kiwari ini menjadi sesuatu yang tidak bisa dielakkan, kepentingan di antara mereka sangat erat berkaitan dengan sebab pergaulan bebas tersebut. Tentunya, hal ini dapat mengakibatkan munculnya hubungan yang terus-menerus dan saling mempengaruhi di antara mereka.</p>
<p>Syariat islam memiliki konsep yang paripurna dalam hubungan antar umat beragama yang dapat menjaga keselamatan akidah dan kepribadian umatnya, baik bagi masyarakat maupun individu. Konsep ini harus diterapkan kaum muslimin yang ingin selamat dan menyelamatkan lingkungannya dari kerusakan dan kesengsaraan.</p>
<p>Hal ini semakin penting dengan sedikitnya jumlah kaum muslimin yang mengerti syariat, serta adanya propaganda pluralisme yang mengusung pemikiran kesamaan agama. Akibatnya, lambat laun hilanglah akidah al-wala` wal bara` yang merupakan satu pokok akidah Islam.</p>
<p>Di antara  fenomena yang muncul akibat hal ini adalah pernikahan dengan orang non-muslim (kafir) yang sudah merebak di masyarakat kita. Ada yang disebabkan ketidaktahuan akan syariat Islam berkaitan dengan pernikahan beda agama, serta ada pula yang sengaja untuk mengaburkan ajaran islam dan memuluskan tersebarnya pemikiran “pluralisme” di tengah masyarakat. Karenanya, konsep Islam dalam hal ini sangat perlu untuk dijelaskan.<br />
<strong><br />
Siapakah Orang Kafir Itu?<br />
</strong><br />
Orang kafir, dalam syariat Islam, adalah gelar untuk umat non-muslim, yang terdiri dari kaum musyrikin dan ahli kitab, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ</p>
<p><em>“Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang bukti yang nyata kepada mereka.” </em>(Qs. al-Bayyinah: 1)</p>
<p>Dengan demikian, pernikahan dengan orang kafir mencakup pernikahan dengan kaum musyrikin dan pernikahan dengan ahli kitab.<br />
<strong><br />
Menikahi Wanita Musyrik</strong></p>
<p>Seorang muslim dilarang menikahi wanita musyrik, baik merdeka maupun budak, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.”</em> (Qs. al-Baqarah: 221) [1]</p>
<p>Hal ini juga ditegaskan dengan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.”</em> (Qs. al-Mumtahanah: 10)</p>
<p>Oleh karena itu, setelah turun ayat ini, Umar bin al-Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu </em>menceraikan dua istrinya yang ia nikahi ketika masih musyrik.[2]</p>
<p>Ibnu Qudamah menyatakan, “Seluruh orang kafir, selain ahli kitab, seperti orang yang menyembah patung, batu, pohon, dan hewan yang mereka anggap baik, maka tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang pengharaman wanita dan sembelihan mereka.”[3]<br />
<strong><br />
Menikahkan Wanita Muslimah dengan Orang Kafir</strong></p>
<p>Dilarang menikahkan muslimah dengan orang kafir dalam semua bentuk kekufurannya, baik orang Yahudi, Nasrani, penyembah berhala (paganis), atau orang komunis. Hal tersebut disebabkan, mereka tidak diperbolehkan menikahi wanita muslimah, walaupun muslimah tersebut seorang fasik. Hal ini berdasarkan firman Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala,</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلَـئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللّهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, budak yang mukmin lebih baik dari orang-orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintahnya) kepada manusia, supaya mereka mengambil pelajaran.”</em> (Qs. al-Baqarah: 221)</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwa pengertiannya adalah “janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik hingga mereka beriman”.[4]</p>
<p>Hal ini juga dipertegas dengan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,<br />
</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ </p>
<p><em>”Wahai orang-orang yang beriman, apabila perempuan-perempuan yang beriman datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Lalu, jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidaklah halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tidaklah halal bagi mereka.”</em> (Qs. al-Mumtahanah: 10)</p>
<p>Syekh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi <em>rahimahullah</em> menyatakan, “Ayat ini berisi pengharaman kaum mukminat atas orang-orang kafir.”[5]</p>
<p>Dalam ayat yang mulia ini, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> melarang untuk mempertahankan status pernikahan mereka dengan orang kafir. Tentunya, lebih tidak boleh lagi bila memulainya dengan pernikahan baru.</p>
<p>Adapun secara logika, tentang pelarangan ini, disampaikan oleh Syekh Ibnu Utsaimin dalam pernyataan beliau, “Adapun dalil nazhari (dalil akal), karena tidak mungkin (baik) seorang muslimah berada di bawah kekuasaan suami kafir, dan suami adalah sayyid (pemimpin), sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَاسُتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِن دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ</p>
<p><em>“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak, dan keduanya mendapati suami wanita itu di muka pintu.”</em> (Qs. Yusuf: 25)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّهُنَّ عَوَانٌ عَلَيْكُمْ</p>
<p><em>“Bertakwalah kepada Allah berkaitan dengan wanita, karena mereka adalah tawanan kalian.”</em>[6]<br />
<strong><br />
Menikahi Wanita Ahli Kitab</strong></p>
<p>Secara umum, dalam surat al-Baqarah di atas, Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala </em>telah melarang seorang muslim menikahi wanita musyrik, namun mengecualikannya dengan wanita ahli kitab dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَّهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ</p>
<p><em>“Pada hari ini, dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikan al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan dari kalangan kaum mukminat dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik.”</em> (Qs. al-Maidah: 5)</p>
<p>Imam Abu Ja’far ath-Thabari menyatakan, “Pendapat yang paling rajih tentang tafsir ayat (221 dari al-Baqarah –pen) adalah pendapat Qatadah, yang menyatakan bahwa yang dimaksudkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dalam firman-Nya “وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ” adalah wanita musyrik selain ahli kitab. Ayat ini adalah umum secara zahirnya, namun khusus, tidak ada yang di-“mansukh” darinya sedikit pun, dan wanita ahli kitab tidak termasuk di dalamnya. Hal itu karena Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menghalalkan dengan firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ</p>
<p><em>“Untuk kaum muslimin menikahi wanita-wanita yang menjaga kehormatan dari ahli kitab seperti menghalalkan wanita-wanita yang menjaga kehormatan dari kaum mukminat.”</em>[7]</p>
<p>Dengan dasar ayat ini, para ulama membolehkan seorang muslim menikahi wanita ahli kitab yang merdeka. Oleh karena itu, Imam Ibnu Qudamah menyatakan, “Tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang kehalalan wanita merdeka ahli kitab. Di antara yang diriwayatkan (menikahi mereka) adalah Umar bin al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, Utsman <em>radhiyallahu ‘anhu</em> [8], Thalhah radhiyallahu ‘anhu, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu [9], Salman radhiyallahu ‘anhu, Jabir radhiyallahu ‘anhu [10], dan yang lainnya.</p>
<p>Ibnu al-Mundzir menyatakan, “Tidak shahih tentang adanya pengharaman tersebut dari seorang pun dari generasi pertama.” [11]</p>
<p><strong>Mengapa Wanita Muslimah Dilarang Menikah dengan Orang Kafir, Sedangkan Lelaki Muslim Diperbolehkan Menikahi Wanita Kafir Ahli Kitab?</strong></p>
<p>Hal ini dijawab dari dua sisi:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Islam itu tinggi dan tidak boleh direndahkan. Kepemimpinan dalam rumah tangga berada pada suami karena kelelakiannya walaupun setara dalam akad, karena kesetaraan tidak dapat menghilangkan perbedaan yang ada, sebagaimana dalam perbudakan.</p>
<p>Apabila seorang lelaki memiliki budak wanita, maka ia boleh menggaulinya dengan sebab perbudakan tersebut, sedangkan apabila wanita memiliki budak lelaki maka dia tidak boleh berhubungan intim dengannya.</p>
<p>Ditambah juga, kepemimpinan lelaki atas wanita dan anak-anaknya padahal ia kafir tentunya bisa menyebabkan agama sang wanita dan anak-anaknya tidak selamat dari pengaruhnya.</p>
<p><strong>Kedua, </strong>kesempurnaan Islam dan tidak sempurnanya selain Islam. Perkara sosial yang memiliki hubungan erat dalam tatanan rumah tangga dibangun di atas hal ini.</p>
<p>Apabila seorang muslim menikahi wanita ahli kitab maka ia beriman kepada kitab suci dan rasul wanita tersebut, sehingga ia akan tinggal bersamanya di atas dasar penghormatan kepada agamanya secara global. Lalu, muncul kesempatan untuk saling memahami, dan boleh jadi mengantar wanita tersebut masuk Islam dengan konsekuensi kandungan kitab sucinya.</p>
<p>Adapun bila seorang kafir ahli kitab menikahi wanita muslimah maka ia tidak beriman kepada agama wanita tersebut, sehingga penghormatan kepada prinsip dan agamanya tidak diperoleh darinya, serta tidak ada kesempatan untuk saling memahami pada perkara yang ia sendiri tidak mengimaninya sama sekali. Karena itulah, pernikahan ini dilarang. [12]</p>
<p><strong>Siapakah Wanita Ahli Kitab yang Dimaksud?</strong></p>
<p>Mayoritas ulama menafsirkan kata “al-muhshanat” dalam ayat ini dengan wanita yang menjaga kehormatannya. Dengan dasar inilah, maka sebagian ulama membolehkan pernikahan wanita ahli kitab yang menjaga kehormatannya, baik merdeka ataupun budak.</p>
<p>Adapun yang dimaksud dengan ahli kitab disini adalah orang Yahudi dan Nasrani (Kristen), sebagaimana dinyatakan Ibnu Qudamah, “Ahli kitab adalah orang Yahudi dan Nasrani, serta yang beragama dengan agama mereka.” [13]</p>
<p>Namun, yang perlu diingat disini, seorang muslim yang ingin menikahi wanita ahli kitab karena keadaan tertentu haruslah memiliki akidah yang kokoh, mengerti hukum-hukum syariat, dan komitmen mengamalkan dan mematuhi hukum dan syiar islam.</p>
<p>Perlu diingat bahwa menikahi wanita ahli kitab mengandung banyak risiko terhadap akidah sang lelaki, ataupun nantinya berpengaruh pada agama anak keturunannya. Realitanya sudah jelas dan banyak terjadi. Betapa banyak keluarga yang hancur agamanya karena ibunya seorang ahli kitab. Oleh karena itu, sebaiknya ingatlah kembali kepada sabda Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ</p>
<p><em>“Wanita dinikahi karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka, ambillah yang memiliki agama (baik), kamu akan beruntung.”</em> (Hr. al-Bukhari)</p>
<p>Nikahilah wanita muslimah yang taat beragama! Itu lebih baik bagi Anda.</p>
<p>Wabilahit taufiq.<br />
<strong><br />
Referensi:</strong><br />
1. <em>Syarhu al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’</em>, karya Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.<br />
2. <em>Al-Mughni</em>, karya Ibnu Qudamah.<br />
3. <em>Jami’ Ahkam an-Nisa`</em>, karya Syekh Musthafa al-’Adawi.<br />
4. <em>Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari,</em> karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani.</p>
<p>=======<br />
<strong>Catatan kaki:</strong><br />
[1] Lihat: <em>Syarhu al-Mumti’</em>: 12/146.<br />
[2] Lihat kisahnya, diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari; lihat: <em>Fath al-Bari</em>: 5/322.<br />
[3]  <em>Al-Mughni:</em> 9/548.<br />
[4] <em>Syarhu al-Mumti’</em>: 12/145.<br />
[5] <em>Adhwa’ al-Bayaan</em>: 8/163.<br />
[6] <em>Syarhu al-Mumti’:</em> 12/145. Hadits yang beliau sampaikan ini ada dalam Sunan at-Tirmidzi dengan lafal, أَلَا وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ<br />
“Ketahuilah, berbuat baiklah pada wanita, karena mereka adalah tawanan di sisi kalian.” (Hr. at-Tirmidzi, no. 1163, dan beliau berkata, “Hadits hasan shahih.” Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 1851)<br />
[7]  Lihat: <em>Jami’ Ahkam an-Nisa`</em>: 3/118.<br />
[8]  Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad dhaif, sebagaimana disampaikan Syekh Musthafa al-‘Adawi dalam<em> Jami’ Ahkam an-Nisa`</em>: 3/123.<br />
[9] Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, dan dinilai shahih oleh Syekh Musthafa al-‘Adawi dalam <em>Jami’ Ahkam an-Nisa`</em>: 3/122.<br />
[10] Diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i dalam<em> al-Umm</em>, dan Syekh Musthafa al-‘Adawi menyatakan, “Para perawinya tsiqah.” (Lihat:<em> Jami’ Ahkam an-Nisa`</em>: 3/122)<br />
[11] <em>Al-Mughni</em>: 9/545.<br />
[12] Diambil dari<em> Jami’ Ahkam an-Nisa`:</em> 3/120, dengan sedikit perubahan.<br />
[13] <em>Al-Mughni</em>: 10/568.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi.</p>
<p>Artikel: <a title="ekonomisyariat.com" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">ekonomisyariat.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/bolehkah-menikah-dengan-orang-kafir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas Korupsi Mengintai!!!</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/awas-korupsi-mengintai.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/awas-korupsi-mengintai.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 02:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Cakrawala Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Humaid as-Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Hadiah untuk para pegawai adalah ghulul (harta yang di dapat  dari khianat terhadap amanah, korupsi).” (Hr. Ahmad, no. 23601)
عَنْ  عَدِىِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:  مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ  عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dari Abu Humaid as-Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Hadiah untuk para pegawai adalah ghulul (harta yang di dapat  dari khianat terhadap amanah, korupsi).”</em> (Hr. Ahmad, no. 23601)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ  عَدِىِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:  مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ  عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولاً  يَأْتِى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p><em>Dari ‘Adi bin ‘Amirah  al-Kindi, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang kami beri amanah dengan  suatu pekerjaan, lalu dia tidak menyerahkan sebuah jarum atau yang lebih  bernilai daripada itu kepada kami, maka harta tersebut akan dia bawa  pada hari kiamat sebagai harta ghulul (korupsi).”</em> (Hr. Muslim, no.  4848)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ  النَّبِىِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ  عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ  غُلُولٌ</p>
<p><em>Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, Buraidah,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang kami  pekerjakan, lalu dia telah kami beri gaji, maka semua harta yang dia  dapatkan di luar gaji (dari pekerjaan tersebut -pent) adalah harta yang  berstatus ghulul (korupsi).”</em> (Hr. Abu Daud, no. 2943; Dalam <em>Kaifa</em>,  hlm. 11, Syekh Abdul Muhsin al-Abbad mengatakan, “Diriwayatkan oleh Abu  Daud dengan sanad yang shahih dan dinilai shahih oleh al-Albani.”)</p>
<p>Dari  Musa bin ‘Uqbah,</p>
<p>“Ketika Iyadh bin Ghanam diangkat sebagai  Gubernur Himsh di masa Khalifah Umar bin Khaththab, sejumlah keluarganya  datang menemuinya dengan maksud mengharap bantuan Iyadh. Iyadh  menyambut mereka dengan wajah ceria, memberi tempat untuk menginap, dan  memuliakan mereka. Mereka tinggal selama beberapa hari. Setelah itu,  mereka berterus-terang meminta bantuan. Mereka juga bercerita bagaimana  susahnya perjalanan, dengan harapan agar mendapat bantuan. Iyadh lantas  memberikan uang sebanyak sepuluh dinar, kepada masing-masing mereka.  Mereka semua berjumlah lima orang. Ternyata mereka kembalikan uang  sepuluh dinar tersebut. Mereka merasa marah dan mencela Iyadh.</p>
<p>Iyadh  lantas berkata, ‘Wahai anak-anak pamanku, demi Allah, aku tidaklah  mengingkari hubungan kekerabatan yang ada di antara kita. Aku juga  menyadari bahwa kalian punya hak untuk mendapat bantuanku, serta jauhnya  perjalanan kalian sehingga bisa sampai sini. Namun, aku tidak punya  melainkan apa yang sudah kuberikan. Untuk lebih daripada itu, aku harus  menjual budakku dan barang-barang kebutuhanku, maka tolong pahamilah  keadaanku.’</p>
<p>Mereka mengatakan, ‘Demi Allah, kami tidak bisa  menerima alasanmu karena engkau adalah penguasa separuh Negeri Syam  (sekarang meliputi Suriah, Yordania, Palestina, dan Libanon -pent).  Bagaimana mungkin engkau tidak mampu memberi kami ongkos perjalanan  pulang yang mencukupi?’</p>
<p>Beliau dengan tegas mengatakan, ‘Apakah  kalian menyuruhku untuk mencuri harta Allah?!</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فًوً اللهٍ! لَأَنْ  أُشقَّ بِالْمِنْشَارِ أُحِبُّ إليَّ مِنْ أَنْ أَخُوْنَ فُلُساً أَوْ  أَتَعَدَّى!</p>
<p>Demi Allah, seandainya badanku dibelah dengan  gergaji, itu lebih aku sukai daripada aku berkhianat mengambil harta  negara, meski hanya satu fulus (seratus rupiah) atau aku bertindak  melampaui batas.’</p>
<p>Mereka berkata, ‘Kami sudah bisa memahami  kemampuan finansialmu. Sebagai gantinya, berilah kami jabatan yang  menjadi kewenanganmu. Kami akan melaksanakan tugas sebagaimana para  pegawai yang lain dan kami mendapatkan gaji sebagaimana yang juga mereka  dapatkan. Engkau telah mengenal kami dengan baik. Kami tidak akan  menyalahgunakan wewenang yang kau berikan kepada kami.’</p>
<p>Beliau  berkata, ‘Sungguh aku adalah orang yang sangat ingin berbuat baik dan  memberi jasa kepada orang lain. Namun, apa jadinya jika sampai berita  kepada Umar bahwa aku memberi jabatan kepada sejumlah keluargaku. Tak  ayal lagi, beliau pasti akan menyalahkanku.’</p>
<p>Mereka berkata,  ‘Bukankah Abu Ubaidah yang mengangkatmu sedangkan engkau masih kerabat  dekat Abu Ubaidah, dan nyatanya Umar menyetujui pengangkatanmu?  Seandainya engkau mengangkat kami niscaya Umar pun akan setuju.’</p>
<p>Beliau  berkata, ‘Aku tidaklah sebagaimana Abu Ubaidah dalam pandangan Umar.’  Akhirnya mereka ngeloyor sambil mencela Iyadh.” (<em>Shifat al-Shafwah</em>,  karya Ibnul Jauzi, 1/669&#8211;670, cet. Dar al-Ma’rifah, Beirut)</p>
<p>Beliaulah  Iyadh bin Ghanam bin Zuhair. Beliau masuk Islam sebelum perjanjian  Hudaibiyah. Beliau pun menyaksikan Hudaibiyah bersama Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>. Ketika Abu Ubaidah hendak meninggal dunia, Abu  Ubaidah mengangkat Iyadh untuk menggantikan jabatannya dan Khalifah Umar  menyetujui keputusan beliau tersebut.</p>
<p>Beliau adalah seorang yang  dermawan. Ada yang mengadukan sifat beliau ini kepada Umar dengan  tuduhan beliau suka menghambur-hamburkan harta, dengan maksud agar  beliau dipecat oleh khalifah. Mendengar laporan tersebut, Umar malah  berkata, “Beliau hanya dermawan dengan hartanya. Akan tetapi, jika  beliau memegang harta Allah (uang negara), maka tidak akan beliau  berikan sedikit pun kepada siapa pun. Aku tidak akan memecat orang yang  diangkat oleh Abu Ubaidah.” Kisah di atas menunjukkan benarnya perkataan  Umar bin Khaththab.</p>
<p>Beliau meninggal dunia tanpa meninggalkan  harta sedikit pun. Beliau meninggal tahun 20 H, dalam usia 60 tahun.</p>
<p>Demikianlah,  kehati-hatian shahabat terhadap korupsi, suatu hal yang langka kita  jumpai di zaman ini.</p>
<p>Benarlah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلىَّ  اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ  لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ  حَرَامٍ</p>
<p><em>Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda, “Manusia akan menjumpai suatu masa yang di masa  tersebut orang tidak lagi memiliki kepedulian apakah dia mendapatkan  harta dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram.”</em> (Hr.  Bukhari, no 2083)</p>
<p>Menurut Syekh Abdul Muhsin al-Abbad,  orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap halal dan haram  memiliki prinsip bahwa semua harta yang bisa didapatkan itulah harta  yang halal, sedangkan semua harta yang tidak bisa mereka dapatkan itulah  harta yang haram. Adapun dalam ajaran Islam, sesuatu yang halal adalah  semua hal yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, sesuatu  yang haram adalah semua hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (<em>Kaifa  Yu`addi al-Muwazhzhaf al-Amanah</em>, hlm. 10)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ أَوَّلَ مَا  يُنْتِنُ مِنَ الإِنْسَانِ بَطْنُهُ ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ  يَأْكُلَ إِلاَّ طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ</p>
<p><em>“Sesungguhnya bagian  badan manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya. Oleh karena  itu, barangsiapa yang mampu untuk memakan makanan yang halal saja, maka  hendaknya dia usahakan.”</em> (Hr. Bukhari, no. 6733, dari Jundab bin  Abdillah)</p>
<p>Penulis: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar, S.S.</p>
<p>Artikel: <a title="www.pengusahamuslim.com" href="http://www.pengusahamuslim.com/" target="_blank">www.pengusahamuslim.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/awas-korupsi-mengintai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar Gugat Cerai (al-Khulu&#8217;)</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/seputar-gugat-cerai-al-khulu.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/seputar-gugat-cerai-al-khulu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 01:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Cerai]]></category>
		<category><![CDATA[Khulu']]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Sakinah, mawaddah dan kasih sayang adalah asas dan tujuan disyariatkannya pernikahan dan pembentukan rumah tangga. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:
&#8220;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sakinah, mawaddah dan kasih sayang adalah asas dan tujuan disyariatkannya pernikahan dan pembentukan rumah tangga. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.</em> &#8221; (Qs. Ar-Rum 30:21)</p>
<p>Namun kenyataannya banyak terjadi dalam keluarga masalah-masalah yang mendorong seorang istri melakukan gugat cerai dengan segala alas an. Hebatnya lagi banyak yang ditayangkan dalam media elektronik maupun media masa sehingga diketahui khalayak ramai. Lebih ngeri lagi mereka tidak segan-segan membuka rahasia rumah tangga mereka hanya sekedar bias menang dan tampil sebagai pemenang. Fenomena ini mestinya harus dilihat lagi bagaimana islam memandangnya agar kita semua dapat berislam dengan kaafah.</p>
<p><strong>Pengertian Gugat Cerai<br />
</strong><br />
Gugat cerai atau dalam bahasa Arabnya adalah <em>al-Khulu&#8217;</em> ( الخُلْع). Kata ( الخُلْعُ) dengan didhommahkan huruf kho&#8217;nya dan disukunkan huruf lamnya berasal dari kata ( خُلْعُ الْثَوْبِ) yang bermakna melepas pakaian. Lalu digunakan untuk istilah wanita meminta kepada suaminya untuk melepasnya dari ikatan pernikahan yang dijelaskan Allah sebagai pakaian.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.&#8221; </em>(Qs. Al-Baqarah 2:187)</p>
<p>Sedangkan dalam pengertian syari&#8217;at, para ulama mengungkapkannya dalam banyak definisi yang semuanya kembali kepada pengertian bahwa al-Khulu&#8217; adalah terjadinya perpisahan (perceraian) antara sepasang suami istri dengan keridhoan dari keduanya dan dengan bayaran yang diserahkan istri kepada suaminya.(1) Sedangkan Syeikh al-Basâm menyatakan bahwa <em>al-Khulu&#8217; </em>adalah perceraian suami istri  dengan bayaran yang diambil suami dari istrinya atau selainnya dengan lafadz yang khusus. (2)</p>
<p><strong>Hukum al-Khulu&#8217;</strong></p>
<p><em>Al-Khulu&#8217;</em> disyariatkan dalam syari&#8217;at islam berdasarkan kepada firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya kahwatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri utuk menbus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.</em>&#8221; (Qs. Al-Baqarah 2:229)</p>
<p>Dan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits Ibnu Abas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">جَاءَتْ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلَا خُلُقٍ إِلَّا أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا</p>
<p><em>&#8220;Datang istri Tsâbit bin Qais bin Syammâs kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lalu berkata: Wahai Rasulullah aku tidak membenci Tsâbit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur. Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya? Ia menjawab, Ya. Lalu ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah shallallahu a&#8217;laihi wa sallam memerintahkannya dan Tsâbitpun menceraikannya.&#8221;</em> (HR al-Bukhari)</p>
<p>Demikian juga kaum muslimin telah berijma&#8217; atas hal tersebut sebagaimana dinukilkan Ibnu Qudamah (3), Ibnu Taimiyah (4), al-Hâfizh Ibnu Hajar (5), al-Syaukani (6) dan Syeikh Abdullah al-Basam (7) . Muhammad bin Ali al-Syaukani menyatakan, para ulama berijma&#8217; akan pensyariatannya kecuali seorang tabi&#8217;in bernama Bakr bin Abdillah al-Muzani…dan telah terjadi ijma&#8217; setelah beliau tentang pensyariatannya. (8)</p>
<p><strong>Ketentuan Hukum al-Khulu&#8217; (9)</strong></p>
<p>Berlaku bagi al-Khulu&#8217; lima hukum taklifi dalam fikih yaitu:</p>
<p><strong>1. Mubah (diperbolehkan)<br />
</strong><br />
Ketentuannya adalah sang wanita sudah benci tinggal bersama suaminya karena kebencian dan takut tidak dapat menunaikan hak suaminya tersebut dan tidak dapat menegakkan batasan-batasan Allah dalam ketaatan kepadanya, dengan dasar firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri utuk menebus dirinya.&#8221; </em>(Qs. Al-Baqarah 2:229)</p>
<p>Ibnu Hajar memberikan ketentuan dengan al-Khulu&#8217; ini dengan menyatakan bahwa ia adalah seorang suami menceraikan istrinya dengan penyerahan pembayaran ganti kepada suami. Ini dilarang kecuali dalam keadaan khawatir keduanya atau salah satunya tidak dapat melaksanakan yang diperintahkan Allah. Hal ini bisa muncul dari ketidak sukaan dalam pergaulan rumah tangga, bisa jadi karena jeleknya akhlak atau bentuk jasmaninya. Demikian juga hilang larangan ini apabila keduanya membutuhkan karena khawatir dosa yang menyebabkan al-Bainunah al-Kubra (perceraian besar atau talak tiga). (10)</p>
<p>Syeikh al-Basâm menyatakan bahwa diperbolehkan al-Khulu&#8217; (gugat cerai) bagi wanita apabila sang istri membenci akhlak suaminya atau khawatir dosa karena tidak dapat menunaikan haknya. Apabila sang suami mencintainya, maka disunnahkan sang istri sabar dan tidak memilih perceraian. (11)</p>
<p><strong>2. Diharamkan khulu&#8217;</strong></p>
<p><strong></strong>Hal ini ada dua keadaan:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">a. Dari sisi suami</span></p>
<p>Apabila suami menyusahkan sang istri dan memboikotnya atau tidak memberikan hak-haknya dengan sengaja dan sejenisnya agar sang istri membayar kepadanya tebusan dengan jalan gugat cerai. Al-Khulu&#8217;nya batil dan tebusannya dikembalikan kepada wanita dan status wanita tetap seperti asalnya, apabila khulu&#8217; tidak dengan lafazh talak. Karena Allah berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata.&#8221;</em> (QS.  An-Nisaa&#8217;:19) (12)</p>
<p>Apabila Suami menceraikannya maka ia tidak memiliki hak mengambil tebusan tersebut. Namun bila istri berzina lalu suami membuatnya susah agar istri tersebut membayar tebusan dengan al-Khulu&#8217; maka diperbolehkan berdasarkan ayat diatas. (13)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">b. Dari sisi istri.</span></p>
<p>Apabila meminta cerai padahal hubungan rumah tangganya baik dan tidak terjadi perselisihan dan pertengkaran diantara pasangan suami istri serta tidak ada alasan syar&#8217;i yang membenarkan adanya khulu&#8217;, berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ</p>
<p><em>&#8220;Semua wanita yang minta cerai (gugat cerai) kepada suaminya tanpa alas an, maka haram baginya wangi syurga.&#8221;</em> (HR. Abu Daud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad dan dishahihkan al-Albani dalam <em>kitab Irwa&#8217; al-Ghalil</em> no. 2035). (14)</p>
<p><strong>3. Mustahabbah (sunnah) wanita minta cerai (al-Khulu&#8217;)</strong></p>
<p>Apabila suami meremehkan (Mufarrith) hak-hak Allah maka sang istri disunnahkan al-Khulu&#8217; menurut madzhab Ahmad bin Hambal. (15)</p>
<p><strong>4. Wajib</strong></p>
<p>Terkadang al-Khulu&#8217; menjadi wajib hukumnya pada sebagian keadaan seperti orang yang tidak pernah melakukan sholat, padahal telah diingatkan. Demikianlah juga pada masalah, seandainya sang suami memiliki keyakinan atau perbuatan yang dapat mengeluarkannya dari islam dan menjadikannya murtad. Sang wanita tidak mampu membuktikannya dihadapan hakim peradilan untuk dihukumi berpisah atau mampu membuktikannya, namun hakim peradilan tidak menghukuminya murtad dan tidak juga kewajiban berpisah. Maka wajib bagi wanita tersebut dalam keadaan seperti ini untuk meminta dari suaminya tersebut khulu&#8217; walaupun harus menyerahkan harta. Karena tidak patut seorang muslimah menjadi istri orang yang memiliki keyakinan dan perbuatan kufur. (16)</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p><strong>Maraji&#8217;</strong></p>
<p>1. Nail al-Author Min Ahâdits Sayyid al-Akhyâr Syarh Muntaqâ al-Akhbâr, Muhammad bin Ali al-Syaukani, tahqiq Muhammad Saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415 H, Dar al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah, Bairut<br />
2. Taudhih al-Ahkâm Min Bulugh al-Marâm, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basâm, cetakan kelima tahun 1423H, Maktabah al-Asadi, Makkah<br />
3. Shohih Fikih Sunnah<br />
4. Jâmi&#8217; Ahkâm an-Nisâ, Mushthofa al-&#8217;Adawi, cetakan pertama tahun 1419 H, Dar Ibnu &#8216;Affân , kairo.<br />
5. Majmu&#8217; Fatawa<br />
6. fat-hul Bari</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="EkonomiSyariat.Com" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">EkonomiSyariat.Com</a></p>
<p><strong>Footnotes:</strong></p>
<p>(1) <em>Shahih Fikih Sunnah</em> 3/340<br />
(2) <em>Taudhih al-Ahkâm Min Bulugh al-Marâm</em>, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basâm, cetakan kelima tahun 1423H, Maktabah al-Asadi, Makkah 5/468<br />
(3) <em>al-Mughni</em> 7/51<br />
(4) <em>Majmu&#8217; al-fatawa</em> 32/282<br />
(5) <em>Fat-hul Bari</em> 9/315<br />
(6) <em>Nail al-Author Min Ahadits Sayyid al-Akhyaar Syarh Muntaqaa al-Akhbaar</em>, Muhammad bin Ali al-Syaukani, tahqiq Muhammad Saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415 H, Dar al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah, Bairut 6/260<br />
(7) <em>Taudhih al-Ahkaam</em> 5/468<br />
(8)<em> Nail al-Authar</em> 6/260<br />
(9) Diambil dari <em>Taudhih al-Ahkaam</em> 5/469, <em>shahih Fikih Sunnah</em> 3/341-343 dan Jaami&#8217; ahkam al-Nisaa 4/153-154 dengan penambahan dari beberapa referensi.<br />
(10) Fat-hul Bari 9/<br />
(11) Taudhih al-Ahkâm 5/469<br />
(12) Taudhih al-Ahkâm 5/469<br />
(13) <em>Shahih Fikih Sunnah</em> 3/343<br />
(14) <em>Shahih Fikih Sunnah</em> 3/342<br />
(15) Ibid<br />
(16)<em> Shahih Fikih Sunnah</em> 3/343</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/seputar-gugat-cerai-al-khulu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Nasehat untuk Wanita Karir</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/soal-jawab/ulasan-nasehat-untuk-wanita-karir.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/soal-jawab/ulasan-nasehat-untuk-wanita-karir.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 04:17:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Soal Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita Karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena wanita berkarir sebenarmya bukanlah fenomena yang baru muncul kemarin sore, melainkan sejak zaman awal diciptakannya manusia. Hanya cara dan istilahnya yang berbeda pada masing masing zaman. Dan hal yang perlu diperhatikan oleh kita semua khususnya para Muslimah terkait fenomena tersebut adalah tentang bagaimana cara wanita berkarir dalam pandangan Islam. Apa–apa saja yang diperbolehkan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Fenomena wanita berkarir sebenarmya bukanlah fenomena yang baru muncul kemarin sore, melainkan sejak zaman awal diciptakannya manusia. Hanya cara dan istilahnya yang berbeda pada masing masing zaman. Dan hal yang perlu diperhatikan oleh kita semua khususnya para Muslimah terkait fenomena tersebut adalah tentang bagaimana cara wanita berkarir dalam pandangan Islam. Apa–apa saja yang diperbolehkan dan dilarang dalam Islam terkait wanita berkarir.</p>
<p>Gejolak tentang karir wanita dan wanita karir dewasa ini semakin hangat, juga di negara Indonesia yang kita cintai ini. Banyak kalangan yang serius mencurahkan perhatiannya akan masalah ini, termasuk juga komunitas yang menamakan diri mereka kaum Feminis dan pemerhati wanita.</p>
<p>Mereka sering mengusung tema “<strong>pengungkungan</strong>” Islam terhadap wanita dan mempromosikan motto <strong>emansipasi</strong> dan persamaan hak di segala bidang tanpa terkecuali atau lebih dikenal dengan sebutan <strong>kesetaraan gender</strong>. Banyak wanita muslimah terkecoh olehnya, terutama mereka yang tidak memiliki <em>basic</em> ilmu pemahaman keagamaan yang kuat dan memadai.</p>
<p>Semoga tulisan ini menggugah wanita-wanita muslimah untuk kembali kepada fithrah mereka dan memahami hak dan kewajiban Allah atas dirinya . Amîn.</p>
<p><strong>Kondisi Wanita di Dunia Barat</strong></p>
<ul>
<li>Dari sisi historis, terjunnya kaum wanita ke lapangan untuk bekerja dan berkarir semata-mata karena unsur keterpaksaan. Ada dua hal penting yang melatarbelakanginya:<strong><em>
<p>Pertama,</em></strong> terjadinya revolusi industri yang mengundang arus urbanisasi kaum petani pedesaan, tergiur untuk mengadu nasib di perkotaan, karena himpitan sistem kapitalis yang melahirkan tuan-tuan tanah yang rakus. Berangkat ke perkotaan mereka berharap mendapatkan kehidupan yang lebih layak namun realitanya, justru semakin sengsara terpuruk dan menghinakan diri dengan menjadi budak pemilik harta. Mereka mendapat upah yang rendah,dan kadang diperlakukan dengan semena-mena layaknya budak dan tuan.</p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah yang rakus sengaja menggunakan momen terjunnya kaum wanita dan anak-anak, dengan lebih memberikan porsi kepada mereka di lapangan pekerjaan, karena mau diupah lebih murah daripada kaum lelaki, meskipun dalam jam kerja yang panjang dan melelahkan.<span id="more-264"> </span></li>
</ul>
<ul>
<li>Kehidupan yang dialami oleh wanita di Barat yang demikian mengenaskan, sehingga menggerakkan nurani sekelompok pakar untuk membentuk sebuah organisasi kewanitaan yang diberi nama <em>Humanitarian Movement</em> yang bertujuan untuk membatasi <em>eksploitasi </em>kaum kapitalis terhadap para buruh, khususnya dari kalangan anak-anak. Organisasi ini berhasil mengupayakan undang-undang perlindungan anak, akan tetapi tidak demikian halnya dengan kaum wanita. Mereka tetap saja dihisap darahnya oleh kaum kapitalis tersebut. Laksana lintah menghisap mangsa yang tidak akan dilepas hingga tidak ada tempat diperutnya.</li>
<li>Hingga saat ini pun, kedudukan wanita karir di Barat belum terangkat dan masih saja mengenaskan, meskipun sudah mendapatkan sebagian hak mereka. Di antara indikasinya, mendapatkan upah lebih kecil daripada kaum laki-laki, keharusan membayar mahar kepada laki-laki bila ingin menikah, keharusan menanggung beban penghidupan keluarga bersama sang suami, dan lain sebagainya yang jelas keluar dari fitrah wanita .</li>
</ul>
<p><strong>Beberapa Dampak Negatif dari Terjunnya Wanita untuk Berkarir</strong></p>
<p>Di antara dampak-dampak negatif tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Penelitian kedokteran di lapangan (dunia Barat) menunjukkan telah terjadi perubahan yang amat signifikan terhadap bentuk tubuh wanita karir secara biologis, sehingga menyebabkannya kehilangan naluri kewanitaan. Meskipun jenis kelamin mereka tidak berubah menjadi laki-laki, namun jenis wanita semacam ini dijuluki sebagai jenis kelamin ke tiga. Menurut data statistik, kebanyakan penyebab kemandulan para istri yang merupakan wanita karir tersebut bukan karena penyakit yang biasa dialami oleh anggota badan, tetapi lebih diakibatkan oleh ulah wanita di masyarakat Eropa yang secara total, baik dari aspek materiil, pemikiran maupun biologis lari dari fithrahnya (yakni sifat keibuan).</li>
<li>Penyebab lainnya adalah upaya mereka untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Hal inilah yang secara perlahan melenyapkan sifat keibuan mereka, banyaknya terjadi kemandulan serta mandegnya air susu ibu (ASI) sebagai akibat perbauran dengan kaum laki-laki.</li>
<li>Di barat, muncul fenomena yang mengkhawatirkan sekali akibat terjunnya kaum wanita sebagai wanita karir, yaitu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak kecil berupa pukulan yang keras, sehingga dapat mengakibatkan mereka meninggal dunia, gila atau cacat fisik. Majalah-majalah yang beredar di sana menyebutkan nama penyakit baru ini dengan sebutan <em>Battered Baby Syn</em> (penyakit anak akibat dipukul). <em>Majalah Hexagon</em> dalam volume No. 5 tahun 1978 menyebutkan bahwa banyak sekali rumah – rumah sakit di Eropa dan Amerika yang menampung anak-anak kecil yang dipukul secara keras oleh ibu-ibu mereka atau terkadang oleh bapak-bapak mereka.</li>
<li>DR. Ahmad Al-Barr mengatakan, “Pada tahun 1967, lebih dari 6500 anak kecil yang dirawat di beberapa rumah sakit di Inggris, dan sekitar 20% dari mereka berakhir dengan meninggal, sedangkan sisanya mengalami cacat fisik dan mental secara akut. Ada lagi, sekitar ratusan orang yang mengalami kebutaan dan lainnya ketulian setiap tahunnya, ada yang mengalami cacat fisik, idiot dan lumpuh akibat pukulan keras.&#8221;</li>
<li>Para wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga tidak dapat memberikan pelayanan secara berkesinambungan terhadap anak-anak mereka yang masih kecil, karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk karir mereka. Sehingga anak-anak mereka hanya mendapatkan jatah sisa waktu dalam keadaan cape dan loyo.</li>
<li>Berkurangnya angka kelahiran, sehingga pemerintah negara tersebut saat ini menggalakkan kampanye memperbanyak anak dan memberikan penghargaan bagi keluarga yang memiliki banyak anak. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kondisi yang ada di dunia Islam saat ini.</li>
</ol>
<p><strong>Saksi</strong>:<strong> Mereka Berbicara</strong></p>
<ul>
<li>Seorang Filosof bidang ekonomi, Joel Simon berkata, “Mereka (para wanita) telah direkrut oleh pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka.&#8221;</li>
<li>Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan ‘polling’ seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita. Dari hasil ‘polling’ tersebut didapat kesimpulan: “Bahwa sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65% dari mereka lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka.&#8221;</li>
</ul>
<p><strong>Karir Wanita dalam Perspektif Islam</strong></p>
<p>Allah Ta’ala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak.</p>
<p>Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang, pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَوَصَّينَا الإِنسٰنَ بِوٰلِدَيهِ حَمَلَتهُ أُمُّهُ وَهنًا عَلىٰ وَهنٍ وَفِصٰلُهُ فى عامَينِ أَنِ اشكُر لى وَلِوٰلِدَيكَ إِلَىَّ المَصيرُ – سورة لقمان</p>
<p><em>&#8220;Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang, Ibu Bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.&#8221;</em> (Qs. Luqman: 14)</p>
<p>Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga mengurangi staminanya.</p>
<p>Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.</p>
<p>Dienul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya.</p>
<p>Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu (‘iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati, maka nafkahnya dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita.</p>
<p>Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut.</p>
<p>Bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin.</p>
<p><strong>Solusi Islam Terhadap Fenomena Karir Wanita</strong></p>
<p>Ada kondisi yang teramat mendesak yang menyebabkan seorang wanita terpaksa diperbolehkan bekerja ke luar rumah, namun tetap dengan persyaratan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Disetujui oleh kedua orangtuanya atau wakilnya atau suaminya, sebab persetujuannya adalah wajib secara agama dan qadla’ (hukum).</li>
<li>Pekerjaan tersebut terhindar dari ikhtilath (berbaur dengan bukan mahram), khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan laki-laki asing. Sebab ada dampak negatif yang besar jika hal tersebut sampai terjadi,. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:Artinya: <em>&#8220;Tidaklah seorang lak-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali setan mejadi yang ketiganya</em>.&#8221;‌ (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam <em>Al-Fitan</em> 2165, Ahmad 115)<em></em><em>&#8220;Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan seorang wanita, kecuali bila bersama laki-laki (yang merupakan) mahramnya.&#8221; </em>(HR. Bukhari)</li>
</ul>
<ul>
<li>Menutupi seluruh tubuhnya di hadapan  laki-laki asing dan menjauhi semua hal yang memicu timbulnya fitnah, baik di dalam berpakaian, berhias atau pun berwangi-wangian (menggunakan parfum).</li>
<li>Komitmen dengan akhlaq Islami dan hendaknya menampakkan keseriusan dan sungguh-sungguh di dalam berbicara, alias tidak dibuat-buat dan sengaja melunak-lunakkan suara.Firman Allah:<em> “Maka janganlah sekali-kali kalian melunak-lunakan ucapan sehingga membuat condong orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit dan berkata-katalah dengan perkataan yang ma’ruf/baik.&#8221;</em> (Qs. Al-Ahzab:32)</li>
<li>Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at dan kodratnya seperti dalam bidang pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.</li>
</ul>
<p><strong>Beberapa fatwa ulama berkenaan dengan masalah ini.</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:</p>
<p>Apa lahan pekerjaan yang diperbolehkan bagi perempuan muslimah yang mana ia bisa bekerja di dalamnya tanpa bertentangan dengan ajaran-ajaran agamanya?</p>
<p><strong>Jawaban</strong>:</p>
<p>Lahan pekerjaan seorang wanita adalah pekerjaan yang dikhususkan untuknya seperti pekerjaan mengajar anak-anak perempuan baik secara administratif ataupun secara pribadi, pekerjaan menjahit pakaian wanita di rumahnya dan sebagainya. Adapun pekerjaan dalam lahan yang dikhususkan untuk orang laki-laki maka tidaklah diperbolehkan baginya. Karena bekerja pada lahan tersebut akan mengundang ikhtilath sedangkan hal tersebut adalah fitnah yang besar yang harus dihindari.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> telah bersabda:</p>
<p>Artinya:  <em>“Saya tidak meninggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah perempuan‌.”</em></p>
<p>Maka seorang laki-laki harus menjauhkan keluarganya dari tempat-tempat fitnah dan sebab-sebabnya dalam segala kondisi.</p>
<p>(<em>Fatawa Mar&#8217;ah</em>, 1/103)</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:</p>
<p>Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya: Apa hukum wanita yang bekerja? Dan lapangan pekerjaan apa saja yang diperbolehkan bagi seorang wanita untuk bekerja di dalamnya?</p>
<p><strong>Jawaban</strong>:</p>
<p>Tidak seorang pun yang berselisih bahwa wanita berhak bekerja, akan tetapi pembicaraan hanya berkisar tentang lapangan pekerjaan apa yang layak bagi seorang wanita, dan penjelasannya sebagai berikut:</p>
<p>Ia berhak mengerjakan apa saja yang biasa dikerjakan oleh seorang wanita biasa lainnya dirumah suaminya dan keluarganya seperti memasak, membuat adonan kue, membuat roti, menyapu, mencuci pakaian, dan bermacam-macam pelayanan lainnya serta pekerjaan bersama yang sesuai dengannya dalam rumah tangga.</p>
<p>Ia juga berhak mengajar, berjual beli, menenun kain, membuat batik, memintal, menjahit dan semisalnya apabila tidak mendorong pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh syara  seperti berduaan dengan selain mahram atau bercampur dengan laki-laki lain, yang mengakibatkan fitnah atau menyebabkan ia meninggalkan hal-hal yang harus dilakukannya terhadap keluarganya, atau menyebabkan ia tidak mematuhi perintah orang yang harus dipatuhinya dan tanpa ridha mereka.</p>
<p>(<em>Majalatul Buhuts Al-Islamiyah </em>19/160)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sudah waktunya kita memahami betapa agungnya dien Islam di dalam setiap produk hukumnya, berpegang teguh dengannya, menjadikannya sebagai hukum yang berlaku terhadap semua aturan di dalam kehidupan kita serta berkeyakinan secara penuh, bahwa ia akan selalu cocok dan sesuai di dalam setiap masa dan tempat.</p>
<p><strong>Ustadz Yusuf Iskandar</strong></p>
<p>Sumber:</p>
<ol>
<li><em>Amal al-Mar’ah Baina Al-Islam wa Al-Gharb</em>” tulisan Ibrahim an-Ni’mah – Abu Hafshoh)</li>
<li><em>Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah</em>, edisi Indonesia <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq</li>
</ol>
<p>Disalin dari: http://www.hang106.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/soal-jawab/ulasan-nasehat-untuk-wanita-karir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahukah Anda Apa itu Hudud?</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-apa-itu-hudud.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-apa-itu-hudud.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 01:29:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hudud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Allah subhanahu wa ta&#8217;ala al-Hakiem (yang maha bijaksana) senantiasa menjaga hak-hak manusia dan menjaga kehidupan mereka dari kezholiman dan kerusakan. Syariat islam pun ditetapkan untuk menjaga dan memelihara agama, jiwa, keturunan, akal dan harta yang merupakan adh-Dharuriyat al-Khamsu (lima perkara mendesak pada kehidupan manusia). Sehingga setiap orang yang melanggar salah satu masalah ini harus mendapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> al-Hakiem (yang maha bijaksana) senantiasa menjaga hak-hak manusia dan menjaga kehidupan mereka dari kezholiman dan kerusakan. Syariat islam pun ditetapkan untuk menjaga dan memelihara agama, jiwa, keturunan, akal dan harta yang merupakan <em>adh-Dharuriyat</em> <em>al-Khamsu</em> (lima perkara mendesak pada kehidupan manusia). Sehingga setiap orang yang melanggar salah satu masalah ini harus mendapatkan hukuman yang ditetapkan Syari&#8217;at yang disesuaikan dengan pelanggaran tersebut.</p>
<p>Salah satunya adalah penegakan hudud yang menjadi satu keistimewaan ajaran islam dan merupakan bentuk kesempurnaan rahmat dan kemurahan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> kepada makhluknya.<br />
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menyatakan:</p>
<p>&#8220;Hudud berasal dari rahmat untuk makhluk dan kebaikan mereka. Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang yang menghukum manusia Karena dosa-dosa mereka bertujuan dalam melakukannya untuk kebaikan dan rahmat kepada mereka, sebagaimana tujuan orang tua membina anak-anaknya dan dokter dalam mengobati orang yang sakit.&#8221; <sub>(1)</sub></p>
<p><strong>PENGERTIAN HUDUD</strong></p>
<p><em>Hudud</em> adalah kosa kata dalam bahasa Arab yang merupakan bentuk jama’ (plurals) dari kata had yang asal artinya pembatas antara dua benda. Sehingga dinamakan had karena mencegah bersatunya sesuatu dengan yang lainnya. <sub>(2)</sub> Ada juga yang menyatakan bahwa kata had berarti al-man’u (pencegah), sehingga dikatakan Hudud Allah adalah perkara-perkara yang Allah larang melakukan dan melanggarnya <sub>(3)</sub>.</p>
<p>Adapun menurut syar’i, istilah hudud adalah hukuman-hukuman kejahatan yang telah ditetapkan oleh syara’ untuk mencegah dari terjerumusnya seseorang kepada kejahatan yang sama dan menghapus dosa pelakunya. <sub>(4)</sub></p>
<p><strong> DELIK HUKUMAN KEJAHATAN (Jarimah al-Hudud)</strong></p>
<p>Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya sudah menetapkan hukuman-hukuman tertentu bagi sejumlah tindak kejahatan tertentu yang disebut <em>jaraimu al-hudud</em> (delik hukuman kejahatan).</p>
<p>Yaitu meliputi kasus; perzinahan, tuduhan berzina tanpa bukti yang akurat, pencurian, mabuk-mabukan, muharabah<br />
(pemberontakan dalam negara Islam dan pengacau keamanan), murtad, dan perbuatan melampui batas lainnya. <sub>(5)</sub></p>
<p>Dengan demikian Hudud mencakup 7 jenis:</p>
<ol>
<li> Had zina (hukuman Zina) ditegakkan untuk menjaga keturunan dan nasab.</li>
<li> Had al-Qadzf (hukuman orang yang menuduh berzina tanpa bukti) untuk menjaga kehormatan dan harga diri</li>
<li> Had al-Khamr (Hukuman orang yang minum Kamer (minuman memabukkan) untuk menjaga akal</li>
<li> Had as-Sariqah (Hukuman mencuri) untuk menjaga harta</li>
<li> Had al-Hiraabah (hukuman para perampok) untuk menjaga jiwa, harta dan harga diri kehormatan.</li>
<li> Had al-Baghi (Hukuman pembangkang) untuk menjaga agama dan jiwa</li>
<li> Had ar-Riddah (hukuman orang murtad) untuk menjaga agama. <sub>(6)</sub></li>
</ol>
<p><strong>HIKMAH PENSYARIATAN HUDUD<br />
</strong><br />
Hudud disyaria&#8217;tkan untuk kemaslahan hamba dan memiliki tujuan yang mulia. Diantaranya adalah:</p>
<p>a. Siksaan bagi orang yang berbuat kejahatan dan membuatnya jera. Apabila ia merasakan sakitnya hukuman ini dan akibat buruk yang muncul darinya maka ia akan jera untuk mengulanginya kembali dan dapat mendorongnya untuk istiqamah dan selalu taat kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em> &#8220;Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</em>&#8221; (Qs. al-Maidah/5:38)</p>
<p>b. Membuat jera manusia dan mencegah mereka terjerumus dalam kemaksiatan, oleh karena itu Allah memerintahkan untuk mengumumkan had dan menerapkannya dihadapan manusia.</p>
<p><em>&#8220;Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.&#8221;</em> (Qs. an-Nur/24:2)</p>
<p>Syeikh ibnu Utsaimin t menyatakan bahwa diantara hikmah dari hudud adalah membuat jera pelaku untuk tidak mengulangi dan orang lain agar tidak terjerumus padanya dan pensucian dan penghapusan dosa. <sub>(7)</sub></p>
<p>c. Hudud adalah penghapus dosa dan pensuci jiwa pelaku kejahatan tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ubadah bin Shamit radhiallahu &#8216;anhu, ia bertutur:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِك</p>
<p><em>Sesungguhnya Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata dan disekeliling beliau ada sekelompok sahabatnya, “Berjanji setialah kamu kepadaku, untuk tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak  akan mencuri, tidak akan berzina, tidak membunuh anak-anak kamu dan tidak berbuat dusta sama sekali serta tidak bermaksiat dalam hal yang ma&#8217;ruf. Siapa di antara kamu yang menepati janjinya, niscaya Allah akan memberikannya pahala. Tetapi siapa saja yang melanggar sesuatu darinya, lalu diberi hukuman didunia maka hukuman itu adalah sebagai kafarah (penghapus dosanya), dan barangsiapa yang melanggar sesuatu darinya lalu ditutupi olah Allah kesalahannya (tidak dihukum), maka terserah kepada Allah; Kalau Dia menghendaki diampuni-Nya kesalahan orang itu dan kalau Dia menghendaki disiksa-Nya.” </em>(Muttafaqun ’alaih: <em>Fathul Bari</em> I/ 64 no: 18, Muslim 3/1333 no: 1709 dan Nasa’i 7/148)</p>
<p>d. Menciptakan suasana aman dalam masyarakat dan menjaganya.<br />
e. Menolak keburukan, dosa dan penyakit dari masyarakat, karena kemaksiatan apabila telah merata dan menyebar pada masyarakat maka akan diganti Allah dengan kerusakan dan musibah serta dihapusnya kenikmatan dan ketenangan. Untuk menjaga hal ini maka solusi terbaiknya adalah menegakkan dan menerapkan hudud. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).&#8221;</em> (Qs. ar-Rûm/30:41)</p>
<p>Sehingga Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَحَدٌّ يُقَامُ فِيْ الأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوْا ثَلاَثِيْنَ صَبَاحًا</p>
<p><em>Dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Satu hukuman kejahatan yang ditegakkan di muka bumi lebih penduduknya daripada mereka diguyurhujan selama empat puluh hari.”</em> (Hasan ; Shahih Ibnu Majah no; 2057, Ibnu Majah 2/848 no : 2538, Nasa’I 8/76). <sub>(8)</sub></p>
<p><strong> SYARAT PENERAPAN AL-HUDUD </strong><sub>(9)</sub></p>
<p>Penerapan al-Hudud tidak dilakukan tanpa 4 syarat:</p>
<ol>
<li>Pelaku kejahatan adalah seorang mukallaf yaitu baligh dan berakal.</li>
<li> Pelaku kejahatan tidak terpaksa dan dipaksa.</li>
<li> Pelaku kejahatan mengetahui pelarangannya.</li>
<li> Kejahatannya terbukti ia yang melakukannya tanpa ada syubhat. Hal ini bisa dibuktikan dengan pengakuannya sendiri atau dengan bukti persaksian orang lain.</li>
</ol>
<p><strong>HUKUM MENEGAKKAN HUKUMAN HAD</strong></p>
<p>Diwajibkan kepada wali umur (penguasa) untuk menegakkan dan menerapkan hukuman Had kepada seluruh rakyatnya berdasarkan dalil dari al-Qur`aan, as-Sunnah dan Ijma&#8217; serta dituntut qiyas yang shahih. <sub>(10)</sub></p>
<p>Dalil al-Qur`aan diantaranya adalah firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>:</p>
<p><em>&#8220;Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8221;</em> (Qs. al-Maidah/5:38)</p>
<p>Dalil as-Sunnah diantaranya adalah hadits Ubadah bin Shamit yang menuturkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَقِيمُوا حُدُودَ اللَّهِ فِي الْقَرِيبِ وَالْبَعِيدِ وَلَا تَأْخُذْكُمْ فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ</p>
<p><em>“Tegakkanlah hukuman-hukuman (dari) Allah pada kerabat dan lainnya, dan janganlah kecamanan orang yang suka mencela mempengaruhi kamu dalam (menegakkan hukum-hukum) Allah.”</em> (Hasan: Shahih Ibnu Majah No. 2058 dan Ibnu Majah No. 2540)</p>
<p>Demikian juga ulama kaum muslimin sepakat atas hal ini.</p>
<p><strong>TIDAK DIBENARKAN SYAFAAT (REKOMENDASI) PEMBEBASAN HUKUMAN, BILA SUDAH DIMEJA HIJAUKAN</strong></p>
<p>Apabila perkaranya telah masuk ke pemerintah atau telah dimeja hijaukan maka dilarang adanya syafaat (rekomendasi) pembebasan atau pengurangan hukuman. Juga pemerintah tidak boleh menerima syafaat dalam hal ini. Hal ini dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits &#8216;Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em> yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا</p>
<p><em>&#8220;Dari Aisyah radhiallahu &#8216;anha bahwa kaum Quraisy sangat memusingkan mereka ihwal seorang perempuan suku Makhzum yang telah melakukan kasus pencurian. Mereka mengatakan, “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (yaitu mengemukakan permintaan supaya perempuan itu dibebaskan)?” Tidak ada yang berbicara hal itu, kecuali Usamah kesayangan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Beliau menjawab, “Adakah  engkau hendak menolong supaya orang bebas dari hukuman Allah?” Kemudian Nabi </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berdiri lalu berkhutbah, “Hai sekalian manusia, orang-orang sebelum kamu menjadi sesat hanyalah disebabkan apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan (tidak melaksanakan hukuman kepadanya. Demi Allah, kalaulah seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya Muhammad memotong tangannya.”</em> (Muttafaqun ’alaih)<sub>(11)</sub></p>
<p>Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengingkari orang yang member syafaat dalam hukuman had setelah sampai ke pemerintah. Adapun bila belum sampai maka diperbolehkan.</p>
<p>Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah menuturkan:</p>
<p>Tidak boleh menggagalkan (hukuman had) dengan syafaat, hadiah dan yang lainnya dan tidak boleh memberikan syafaat padanya. Siapa yang menggagalkannya karena hal ini –padahal ia mampu menerapkannya- maka semoga laknat Allah, malaikat dan semua manusia menimpanya.<sub>(12)</sub></p>
<p><strong> PIHAK YANG BERWENANG MELAKSANAKAN HUDUD</strong></p>
<p>Tak ada yang berwenang  menegakkan hudud, kecuali imam, kepala negara, atau wakilnya (aparat pemerintah yang mendapat tugas darinya). Sebab, di masa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, Beliaulah yang melaksanakannya, demikian pula para Khalifahnya sepeninggal Beliau. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah juga mengutus Unais <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> untuk melaksanakan hukum rajam, sebagaimana dalam sabdanya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا</p>
<p><em> “Wahai Unais, berangkatlah menemui isteri orang itu, jika ia mengaku (berzina), maka rajamlah!”</em> (HR al-Bukhaari no. 2147)</p>
<p>Demikian juga memerintahkan para sahabat untuk merajam Maa&#8217;iz, dengan menyatakan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اذْهَبُوا بِهِ فَارْجُمُوهُ</p>
<p><em>&#8220;Bawalah ia dan rajamlah.&#8221;</em> (HR al-Bukhaari no. 6815)</p>
<p>Demikian juga karena penentuan hukuman had dibutuhkan ijtihad dan tidak aman dari kezholiman, sehingga wajib dilaksanakan oleh imam atau wakilnya. <sub>(13)</sub></p>
<p><strong>LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SAMA DALAM HUDUD?</strong></p>
<p>Wanita dalam penerapan hukuman had sama seperti lelaki, karena pada asalnya semua yang ditetapkan syari&#8217;at untuk lelaki juga berlaku pada wanita sampai ada dalil yang mengkhususkannya. Hal ini umum berlaku dalam ibadah, mu&#8217;amal ataupun dalam hukuman. Namun para ulama memberikan 3 pengecualian, yaitu:</p>
<p>a. Wanita dihukum dengan duduk sedangkan lelaki dengan berdiri.<br />
b. Pakaian wanita diikat sedangkan lelaki tidak.<br />
c. Jangannya di tahan (diikat) hingga tidak terbuka auratnya, sedangkan lelaki tidak. <sub>(14)</sub></p>
<p>Syeikh ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menyatakan: Inilah yang membedakan wanita dengan laki-laki dalam had karena kebutuhan menuntutnya. Kalau tidak maka pada asalnya wanita sama dengan lelaki.<sub>(15)</sub></p>
<p>Demikianlah selintas permasalahan hudud dalam islam. Mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada kaum muslimin tentang keindahan dan kelengkapan syari&#8217;at islam.</p>
<p>Wabillahitaufiq.</p>
<p><strong> Referensi:</strong></p>
<p>1. <em>Asy-Syarhu al-Mumti&#8217; &#8216;Ala Zad al-Mustaqni&#8217;</em>, Syeikh Muhamad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428, Dar Ibnu al-Jauzi<br />
2. <em>Fat-hu Dzi al-Jalal wa al-Ikram</em>, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428 H, al-Maktabah al-Islamiyah.<br />
3. <em>Al-Mulakhash al-Fiqh</em>, Prof.DR. Sholeh bin Abdillah alfauzaan, cetakan pertama tahun 1423 H, Idârat al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta`<br />
4. <em>Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram</em>, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basâm, cetakan kelima tahun 1423 H, Maktabah al-Asadi.<br />
5.<em> Manhaj as-Salikin Wa Taudih al-Fiqhu Fiddin</em>, Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa&#8217;di, tahqiq Muhammad bin Abdulaziz al-Khudhairi, cetakan pertama tahun 1421 H, Dar al-Wathan<br />
6. Dll.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="EkonomiSyariat.Com" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">EkonomiSyariat.Com</a></p>
<p><strong>Footnes:</strong></p>
<p><sub>(1)</sub> <em>Al-Mulakhosh al-Fiq-hi</em> 2/521 menukil dari Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi&#8217; 7/300.<br />
<sub>(2)</sub> Lihat <em>Al-Mulakhosh al-Fiqh</em> 2/521 dan<em> Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/207<br />
<sub>(3)</sub> <em>Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/206 dan lihat juga <em>Fat-hu al-Jalaah</em> 5/329 dan <em>Mulakhos al-Fiqh</em> 2/521.<br />
<sub>(4) </sub><em>Fiq-hus Sunnah</em> 2/302<br />
<sub>(5)</sub> Lihat <em>Manhaj as-Sâlikin</em>, Syeikh as-Sa&#8217;di hal. 239-244<br />
<sub>(6)</sub> Lihat <em>Sarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/206<br />
<sub>(7)</sub> Lihat lebih lengkap lagi hikmah pensyariatan had ini dalam <em>al-Mulakhosh al-Fiqh</em> 2/521 dan <em>Taudhih al-Ahkâm</em> 6/210-211<br />
<sub>(8)</sub> Lihat pembahasan ini dalam <em>al-Mulakhosh al-Fiqh</em> 2/522-523, dan <em>Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/207-213.<br />
<sub>(9)</sub> Lihat <em>Taudhih al-Ahkaam</em>, Syeikh al-Basaam 6/210 dan Fat-hu Dzil Jalaal 5/330 serta <em>Syar-hu al-Mumti&#8217; </em>14/208<br />
<sub>(10)</sub> Lihat <em>Fathul Bari</em> 12/87 No. 6788, Muslim 2/1315 no 1688,<em> ‘Aunul Ma’bud</em> 12/31 No: 4351, Nasa’I 7/74, Tirmidzi 2/442 no: 1455 dan Ibnu Majah 2/851 no: 2547)<br />
<sub>(10) </sub>Lihat <em>Majmu&#8217; Al-Fataawa</em> 28/298<br />
<sub>(11)</sub> Lihat <em>al-Mulakhosh al-Fiqh</em> 2/523-524<br />
<sub>(14) </sub> Lihat masalah ini pada <em>Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/220-221<br />
<sub>(15)</sub> <em>Syarhu al-Mumti&#8217;</em> 14/221</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 3272px; width: 1px; height: 1px;">(15)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-apa-itu-hudud.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Harta Itu Fitnah?</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/benarkah-harta-itu-fitnah.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/benarkah-harta-itu-fitnah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 01:51:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Semua sudah mengenal apa itu harta. Tidak ada seorangpun yang belum mengerti tentang hal ini. Kemasyhurannya telah menenggelamkan seluruh penjuru dunia. Kedudukan harta sangatlah tinggi dihati manusia, menjadi sesuatu yang sangat dicintai dan berharga bagi mereka. Allah berfirman:
 &#8220;Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Dan Sesungguhnya anusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua sudah mengenal apa itu harta. Tidak ada seorangpun yang belum mengerti tentang hal ini. Kemasyhurannya telah menenggelamkan seluruh penjuru dunia. Kedudukan harta sangatlah tinggi dihati manusia, menjadi sesuatu yang sangat dicintai dan berharga bagi mereka. Allah berfirman:</p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Dan Sesungguhnya anusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.&#8221;</em> (Qs. Al-Aadiyat: 6-8)</p>
<p>Harta adalah satu tuntutan kebutuhan pokok manusia untuk hidup di setiap tempat dan zaman, kecuali di akhir zaman, dimana harta berlimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerimanya karena tidak dapat memanfaatkannya. Waktu itu orang sangat semangat untuk sholat dan ibadah yang tentunya lebih baik dari dunia dan seisinya, karena mereka mengetahui dekatnya hari kiamat setelah turunnya nabi Isa. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا وَ إِمَامًا عَدْلاً فَيُكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَ يَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَ يَضَعُ الْجِزْيَةَ وَ يَفِيْضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ وَ حَتَّى تَكُوْنَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا</p>
<p><em>&#8220;Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, telah dekan turunnya Ibnu Maryam pada kalian sebagai pemutus hukum dan imam yang adil, lalu ia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus upeti dan harta melimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang menerimanya, hingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan seisinya.&#8221;</em> (HR Ahmad, dan At-Tirmidzi dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam <em>Shahih al-Jaami’ </em>no. 7077)</p>
<p>Akan terjadi juga sebelumnya satu masa yang berlimpah rezeki hingga khalifah tidak menghitung hartanya dengan bilangan namun menyerahkannya dengan cidukan kedua telapak tangannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَكُونُ فِى آخِرِ أُمَّتِى خَلِيفَةٌ يَحْثِى الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا</p>
<p><em>&#8220;Akan datang diakhir umatku seorang khalifah yang menciduk harta dengan cidukan tidak menghitungnya dengan bilangan.</em>&#8221; (HR Muslim no. 7499)</p>
<p>Semua orang telah mengetahui kegunaan harta di dunia, karenanya mereka berlomba-lomba mencarinya hingga melupakan mereka atau mereka lalai dari memperhatikan perkara-perkara penting yang berhubungan dengan harta. Perkara yang berhubungan dengan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, hingga akhirnya mereka tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini telah dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>dalam sabda beliau:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ؛ أَمِنَ الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ؟!</p>
<p><em>Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?! </em><sub>(1)</sub></p>
<p>Demikianlah realita yang terjadi dimasyarakat kita.<br />
Lalu bagaimana sikap islam terhadap harta ini? Ternyata permasalahan rezeki dan harta telah mendapatkan perhatian besar dalam al-Qur`an. Bayangkan kata rezeki dengan kata turunannya diulang sebanyak 123 kali dan kata harta (al-Maal) dengan kata turunannya diulang sebanyak 86 kali. Padahal Allah tidak mengulang-ulang satu kata kecuali demikian besar urgensinya untuk sang makhluk. Sehingga sudah selayaknya kaum muslimin mengenal dan mengerti bagaimana konsep islam terhadap harta dan sikap yang tepat menjadikan harta sebagai nikmat yang membawa kepada kebahagian dunia dan akherat. Minimal mengetahui harta adalah fitnah yang Allah ujikan kepada makhluk-Nya agar mereka dapat bersyukur dan tegak pada mereka hujjah dan penjelasan yang terang. Semua itu agar orang hidup dengan harta di atas ilmu dan dapat bersabar bila tidak memiliki harta ini.</p>
<p>Allah menciptakan manusia dan memberinya kesukaan kepada syahwat harta, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><em>&#8220;Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).&#8221;</em> (Qs. Ali Imraan/3:14)</p>
<p>Sehingga Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menggambarkan besarnya kecintaan manusia kepada harta dalam sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ ؛ لاَبْتَغَى ثَالِثاً , وَلاَ يَمَلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ , وَيَتُوْبُ الله عَلَى مَنْ تَابَ</p>
<p><em>Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat. </em><em> </em><sub>(2)</sub></p>
<p><strong>Fitnah Harta </strong></p>
<p>Tidak pungkiri lagi harta adalah fitnah yang Allah berikan kepada hamba-Nya sebagaimana firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.&#8221; </em>(Qs. Al-Anfaal/8: 28)</p>
<p>Bahkan menjadi fitnah besar bagi umat islam yang merusak dan meluluh lantakkan semua persendian mereka, sehingga mereka terkapar seperti orang sakit dan menjadi hinaan umat lain. Akal dan hati mereka terkendalikan oleh harta sehingga lambat lain lemahlah kondisi mereka. Tentang bahaya firnah harta ini terhadap umat islam Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> jelaskan dalam sabdanya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ</p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.&#8221;</em> <em> </em><sub>(3)</sub></p>
<p>Demikianlah fitnah harta ini telah melanda umat islam diseluruh penjuru dunia dan menyeret mereka kepada bencana yang demikian hebatnya. Hal ini terjadi setelah kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan penaklukan negara-negara besar seperti Rumawi dan Parsia. Tidak mampu selamat dan menjauhkan diri dari fitnah ini kecuali yang Allah berikan kemampuan untuk memahami nash-nash al-Qur`an dan hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang telah memperingatkan harta dengan benar dan tepat. Hal ini membuatnya mampu melihat sebab-sebabnya dan berusaha menghindarinya. Fitnah ini telah menghancurkan kaum muslimin sebelum musuh-musuhnya mencaplok wilayah dan negara islam.</p>
<p>Semua ini telah di jelaskan dengan sangat gamblang dalam hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berikut:<br />
Memang demikianlah kemenangan dan harta benar-benar fitnah yang dapat menyeret kepada kenacuran dan kelemahan kecuali bila ditempatkan harta-harta tersebut pada tempatnya. Lihatlah bagaimana harta yang menyebabkan seorang menjadi cinta dunia dan takut mati akan melemahkan barisan kaum muslimin sehingga jumlah yang besar tidak memiliki kekuatan lagi. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">&#8220;يُوْشَكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ الأمَمُ كَمَا تَدَاعَى الأكَلَة إِلَى قَصْعَتِهَا&#8221; فَقَالَ قَائِلٌ: أَوَمِنْ قِلّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: &#8220;بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللّه مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيُقْذِفَنَّ اللّه فِي قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ&#8221; فَقَالَ قَائِلٌ: يَارَسُوْلَ اللّه، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: &#8220;حُبُّ الدُّنيَا وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ&#8221;.‏</p>
<p><em>“Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: ”Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya” lalu bertanya seseorang:’apakah kami pada saat itu sedikit?” Beliau menjawab: ”Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan),”, lalu bertanya lagi:’wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu?&#8221;, kata beliau:”Cinta dunia dan takut mati.&#8221;</em> <em> </em><sub>(4)</sub></p>
<p>Sebagaimana yang dikatakan Kaab bin Maalik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قَالَ: فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِسُوْقِ المْدِيْنَةِ، إِذْا نَبَطِيٌ<em> </em><sub>(5)</sub> مِنْ أِنْبَاطِ أَهْلِ الشَّامِ، مِمَنْ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيْعَهُ بِالْمَدِيْنَةِ، يَقُوْلُ: مَنْ يَدُلُّ عَلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيْرُوْنَ لَهُ، حَتَى إِذَا جَاءَنِي دَفَعَ إِلَيَّ كِتَابَا مِنْ مَلِكِ غَسَانَ، فَإِذَا فِيْهِ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي أَنّ َصَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ، وَلَمْ يَجْعَلْكَ الله بِدَارِ هَوَانٍ وَلا مُضِيْعَةٍ، فَالْحَقْ بِنَا نُوَاسِكَ</p>
<p>“Ketika aku berjalan-jalan di pasar Madinah, seketika itu ada seorang petani dari petani-petani penduduk Syam yang datang membawa makanan untuk dijual di pasar Madinah berkata:” siapa yang dapat menunjukkan Kaab bin Malik?”lalu orang-orang langsung menunjukannya sampai dia menemuiku dan menyerahkan kepadaku surat dari raja Ghossaan‏, dan aku seorang yang dapat menulis, lalu aku membacanya, dan isinya: amma ba’du, sesungguhnya telah sampai kepadaku berita bahwa pemimpinmu telah berpaling meninggalkanmu dan sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan bagimu tempat yang hina dan kesia-siaan, maka bergabunglah kepada kami, kami akan menyenangkanmu.”</p>
<p>Para musuh islam selalu mengintai kapan penyakit cinta harta menyebar dan merebak dikalangan kaum muslimin.<br />
Ketika fitnah harta ini menyerang kaum muslimin dan terus mendesak setelah penaklukan negeri-negeri yang merupakan kemenangan din islam. Dengannya Allah mengangkat menara syariat dan meninggikan tiang aqidahnya ditambah dengan adanya harta yang berlimpah yang pernah dimiliki negara-negara besar waktu itu. Maka tidak sedikit dari tokoh sahabat dan tabi’in serta para ulama yang shalih yang tidak berhenti mengingatkan dan memperingatkan kaum muslimin dari bahaya yang akan menimpa mereka. Mereka menjelaska jalan yang lurus yang wajib dijalani dengan kesabaran dan mengingatkan mereka dengan kehidupan Rasuullah dan orang yang beriman bersama beliau dan setelah beliau, dalam rangka mengingatkan umat ini dari harta dan fitnahnya. Orang pertama yang mengingatkan hal ini tentunya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ</p>
<p>“Jika telah ditaklukan untuk kalian negara parsi dan rumawi, kaum apakah kalian? Berkata Abdurrahman bin Auf:” kami melakukan apa yang Allah perintahkan <em> </em><sub>(6)</sub>, beliau berkata:” tidak seperti itu, kalian akan berlomba-lomba kemudian saling berhasad, kemudian saling membenci lalu saling bermusuhan, kemudian kalian berangkat ke tempat-tempat tinggal kaum muhajirin dan kalian menjadikan sebagian mereka membunuh sebagian yang lain.”<em> </em><sub>(7)</sub></p>
<p>Oleh karena itu ketika ditaklukkan gudang harta kisra (raja parsi) Umar bin Khathab <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> menangis dan berkata:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ هَذَا لَمْ يَفْتَحْ عَلَى قَوْمٍ قَطْ إِلا جَعَلَ الله ِبَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ</p>
<p>“Sesungguhnya ini tidak dibukakan bagi satu kaum kecuali Allah menjadikan diantara mereka peperangan.&#8221;</p>
<p>Dengan demikian harta menjadi salah satu syahwat terbesar yang Allah berikan kepada kita.</p>
<p><strong>Harta Antara Nikmat dan Bencana</strong></p>
<p>Memang harta adalah salah satu syahwat terbesar yang dimiliki manusia, namun juga menjadi salah satu sebab mendekatkan diri kepada Allah. Harta menjadi tiang kehidupan seseorang. Ketika ia berusaha mendapatkan harta yang halal untuk membeli rumah, menikah dan memiliki anak yang solih serta berbahagia dengan keluarga dan hartanya, maka hal ini adalah amalan yang disyariatkan. Mukmin yang kuat lebih baik dari yang lemah, seperti sabda Rasulullah <em>shallalahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ ـ لكن النبي عليه الصلاة والسلام رفيق قال :  وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ  .  رواه  مسلم عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</p>
<p>Dengan demikian ada anjuran menjadi hartawan apabila cara mendapatkannya sesuai dengan ajaran islam, sebab harta adalah kekuatan dalam pengertian kesempatan yang diberikan kepada hartawan dalam amal shalih tidak terbatas dan terhitung. Dengan hartanya ia bisa menikahkan para pemuda, mengobati orang sakit, menyantuni para janda dan memberi makan anak yatim dan orang miskin dan lain-lainnya. Oleh karena itu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadikan mukmin yang kaya dekat dari derajat alim yang beramal dengan ilmunya, dalam sabda beliau:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لا حَسَدَ إِلاّ في اثْنَتَيْنِ : رَجلٌ آتَاهُ الله مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُ منهُ آنَاءَ اللّيْلِ و آنَاءَ النّهَارِ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ الله القُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللّيْلِ وَ آنَاءَ النّهَار . متفق عليه</p>
<p><em>&#8220;Demikianlah harta dapat menjadi sebab seornag masuk syurga, namun juga bisa membuat seorang terbang terjerumus ke dalam neraka jahannam.&#8221;</em></p>
<p>Ternyata harta itu bisa menjadi nikmat bila dikeluarkan dan digunakan untuk ketaatan kepada Allah dan akan menjadi bencana bila digunakan untuk keburukan. Hal ini tergantung kepada dari mana mendapatkannya dan bagaimana mengeluarkannya. Oleh karena itu, manusia akan ditanya dihari kiamat tentang hartanya dimana ia mendapatkannya dan kemana ia infakkan.<br />
(Bersambung, insya Allah)</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="EkonomiSyariat.Com" href="http://ekonomisyariat.Com" target="_blank">EkonomiSyariat.Com</a></p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p><sub>(1) </sub>HR. al-Bukhari 2059<br />
<sub>(2)</sub> HR. al-Bukhari no.6436, Muslim no.1049<br />
<sub>(3)</sub> HR. at-Timidzi dalam sunannya kitab <em>Az-Zuhd</em>.<br />
<sub>(4) </sub>Shahih lighairihi (shohih lantaran ada yang lain yang menguatkannya (pen)) dikeluarkan oleh Abu Daud (4297) dari jalan periwayatan ibnu Jabir, ia berkata telah menceritakan kepadaku Abu Abdussalam darinya (Tsauban) secara marfu’<br />
<sub>(5) </sub>Yaitu petani, dinamakan demikian karena dia mengambil manfaat air.<br />
<sub>(6)</sub> Kami memuji, mensyukuri dan memohon tamahan keutamaanNya (Annawawiy 18/96).<br />
<sub>(7)</sub> HR. Muslim (2962).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/benarkah-harta-itu-fitnah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Lengkap Seputar Bangkai</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/ulasan-lengkap-seputar-bangkai.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/ulasan-lengkap-seputar-bangkai.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 06:40:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkai]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Bangkai]]></category>
		<category><![CDATA[Jual Beli Bangkai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Islam dengan kesempurnaan syari&#8217;atnya sangat memperhatikan perkara yang langsung bersinggungan dengan kehidupan manusia apalagi bersinggungan dengan halal dan haram. Sebab makanan yang masuk pada perut seseorang mempengaruhi akhlak dan  dikabulkannya do&#8217;a, sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam sabdanya:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Islam dengan kesempurnaan syari&#8217;atnya sangat memperhatikan perkara yang langsung bersinggungan dengan kehidupan manusia apalagi bersinggungan dengan halal dan haram. Sebab makanan yang masuk pada perut seseorang mempengaruhi akhlak dan  dikabulkannya do&#8217;a, sebagaimana dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik,tidak menerima kecuali yang baik,dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul dalam firman-Nya,”Hai rasul-rasul,makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh .Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</em> (Qs. al-Mu’minun: 51)</p>
<p>Dan Ia berfirman:</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman,makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.”</em> (Qs. al-Baqarah: 172)</p>
<p>Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdo’a: Ya Rabb,Ya Rabb, sedang makanannya haram,minumannya haram,pakaiannya haram,ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!” <sub>(1)</sub></p>
<p>Hal ini tentunya perlu mendapatkan perhatian serius, khususnya dizaman kiwari ini, dimana kaum muslimin telah jauh dari ajaran syari&#8217;atnya dan telah menganggap ringan permasalahan ini. Sehingga ditemui banyak dijual dipasar-pasar hewan sembelihan yang tidak disembelih secara syari&#8217;at alias bangkai.</p>
<p>Agar kita terhindar darinya perlu sekali diulas permasalahan ini.</p>
<p><strong>Pengertian Bangkai<br />
</strong><br />
Bangkai dalam bahasa Arab disebut <em>Al-Mayyitah</em>.</p>
<p><em>Al-Mayyitah</em> dalam pengertian bahasa Arab adalah sesuatu yang mati tanpa disembelih.<sub>(1)</sub> Sedangkan dalam pengertian para ulama syari&#8217;at, <em>Al-Mayyitah</em> (bangkai) adalah hewan yang mati tanpa sembelihan syar&#8217;i, dengan cara mati sendiri tanpa sebab campur tangan manusia dan terkadang dengan sebab perbuatan manusia apabila dilakukan tidak sesuai sembelihan yang diperbolehkan.<sub> (2)</sub></p>
<p>Dengan demikian definisi bangkai mencakup:</p>
<ol>
<li> Yang mati tanpa disembelih, seperti kambing yang mati sendiri.</li>
<li> Yang disembelih dengan sembelihan tidak syar&#8217;i, seperti kambing yang disembelih orang musyrik.</li>
<li> Yang tidak menjadi halal dengan disembelih, seperti babi disembelih seorang muslim sesuai syarat penyembelihan syar&#8217;i. <sub>(3)</sub></li>
</ol>
<p>Para ulama memasukkan kedalam kategori bangkai semua anggota tubuh yang dipotong dari hewan yang masih hidup dengan dasar sabda Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ فَمَا قُطِعَ مِنْهَا فَهُوَ مَيْتَةٌ</p>
<p><em>&#8220;Semua yang dipotong dari hewan dalam keadaan masih hidup adalah bangkai.&#8221;</em> (HR Abu Daud no. 2858dan Ibnu Majah no. 3216 dan dishahihkan Al Albani dalam <em>shahih sunan Abu Daud</em>).</p>
<p>Dengan demikian hukumnya sama dengan hukum-hukum bangkai.</p>
<p><strong>Kenajisan Bangkai</strong></p>
<p>Menilik kepada keadaan hewan bangkai, dapat dibagi menjadi tiga bagian:</p>
<p>1.Yang ada diluar kulit seperti bulu dan rambutnya serta sejenisnya. Hukumnya suci tidak najis <sub>(4)</sub>, didasarkan pada firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).&#8221;</em> (Qs. Al Nahl 16:80)</p>
<p>Ayat ini umum meliputi hewan yang disembelih dan tidak disembelih. Juga Allah menyampaikan ayat ini untuk menjelaskan karunia-Nya terhadap hamba-Nya yang menunjukkan kehalalannya. <sub>(5)</sub></p>
<p>2. Bagian bawah kulitnya seperti daging dan lemak. Hukumnya najis secara ijma&#8217; <sub>(6)</sub> dan tidak dapat disucikan dengan disamak. <sub>(7)</sub></p>
<p>Berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p><em>Katakanlah:&#8221;Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi &#8211; karena sesungguhnya semua itu kotor &#8211; atau binatang disembelih atas nama selain Allah.&#8221;</em> (Qs. Al An&#8217;am 6: 145)</p>
<p>Dikecualikan dalam hal ini:</p>
<p>a. Bangkai ikan dan belalang, didasarkan pada sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ</p>
<p><em>&#8220;Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.&#8221;</em> (HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishahihkan Syeikh Al Albani dalam <em>Silsilah Al Ahadits Al Shohihah</em> no.1118).</p>
<p>b. Bangkai hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir seperti lalat, lebah, semut dan sejenisnya, didasarkan kepada sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالْأُخْرَى شِفَاءً</p>
<p><em>&#8220;Apa bila seekor lalat hinggap di minuman salah seorang kalian maka hendaknya menenggelamkannya kemudian membuangnya, karena ada pada salah satu dari kedua sayapnya penyakit dan yang lainnya obatnya.&#8221;</em> (HR Al Bukhari no. 3320).</p>
<p>c. Tulang, tanduk dan kuku bangkai. Ini semuanya suci sebagaimana dijelaskan imam Al Bukhari dari Al Zuhri tentang tulang bangkai seperti gajah dan lainnya dengan sanad mu&#8217;allaq dalam shahih Al Bukhari (1/342). Imam Al Zuhri menyatakan: Aku telah menemui sejumlah orang dari ulama salaf  menggunakannya sebagai sisir dan berminyak dengannya, mereka memperbolehkannya. <sub>(8)</sub></p>
<p>d. Bangkai manusia dengan dasar sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam:</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya seorang muslim itu tidak najis.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Syeikh Majduddin Ibnu Taimiyah menyatakan: Ini umum mencakup yang hidup dan yang mati. Al-Bukhari menyatakan: Ibnu Abas menyatakan: seorang muslim itu tidak najis baik masih hidup atau setelah mati. <sub>(9)</sub></p>
<p>Beliaupun (syeikh Majduddin Ibnu Taimiyah) membuat bab dalam kitab Al Muntaqa: Bab yang menerangkan bahwa muslim itu tidak najis. <sub>(10)</sub></p>
<p>Sedangkan tubuh orang kafir terjadi perselisihan tentang kesuciannya dan yang rojih adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan kesuciannya, dengan dasar diperbolehkannya menikahi wanita ahlu kitab. Padahal jelas akan bersentuhan dan keringatnya akan menempel dan ini tidak dapat dielakkan khususnya ketika berhubungan intim.</p>
<p>Adapun firman Allah:</p>
<p>&#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.&#8221;</em> (Qs. 9: 28)</p>
<p>Maka najis disini adalah karena keyakinan dan joroknya mereka. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>1. Kulitnya.<br />
Hukum kenajisannya mengikuti hukum bangkainya. Apabila bangkai hewan tersebut suci maka kulitnyapun suci dan bila najis maka kulitnyapun najis. Diantara contoh yang suci adalah ikan dengan dasar firman Allah:</p>
<p>&#8220;<em>Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.&#8221;</em> (Qs. 5:96)</p>
<p>Ibnu Abas menyatakan:  adalah yang diambil hidup-hidup dan  adalah yang diambil sudah mati.<br />
Sehingga kulitnyapun suci. <sub>(11)</sub></p>
<p><strong>Hukum Memakan Bangkai<br />
</strong><br />
Syariat islam telah mengharamkan memakan bangkai dengan dasar pengharaman yang ada dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah. Pengharaman bangkai dalam Al Qur&#8217;an ada dalam beberapa ayat, diantaranya:</p>
<p>Firman Allah:</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.</em>&#8221; (Qs. Al Baqarah 2:173)</p>
<p>Firman Allah:</p>
<p><em>Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya.&#8221;</em> (Qs. Al Maidah 5:3)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah:&#8221;Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi &#8211; karena sesungguhnya semua itu kotor &#8211; atau binatang disembelih atas nama selain Allah.&#8221;</em> (QS. Al An&#8217;am 6:145)</p>
<p>Sedangkan dalam Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> adalah hadits Ibnu Abas <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> beliau berkata:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةً مَيِّتَةً أُعْطِيَتْهَا مَوْلَاةٌ لِمَيْمُونَةَ مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِجِلْدِهَا قَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ قَالَ إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا</p>
<p><em>&#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> mendapati seekor bangkai kambing yang diberikan dari shodaqah untuk Maula (bekas budak) milik Maimunah lalu Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda: Mengapa tidak kalian manfaatkan kulitnya. Mereka menjawab: Inikan bangkai. Beliau bersabda: Yang diharamkan hanyalah memakannya.&#8221;</em> (Muttafaqun &#8216;Alaihi)</p>
<p>Oleh karena itu kaum muslimin sepakat tentang larangan memakan bangkai dalam keadaan tidak darurat.  <sub>(12)</sub></p>
<p><strong>Yang Dihalalkan dari Bangkai</strong></p>
<p>Semua hukum memakan bangkai diatas berlaku pada semua bangkai kecuali dua jenis:</p>
<p>1. Bangkai hewan laut. Didasarkan kepada firman Allah:</p>
<p><em>&#8220;Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.&#8221; </em>(Qs. 5: 96)</p>
<p>Dan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dalam hadits Abu Hurairoh <em>radhialllahu &#8216;anhu</em> yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ</p>
<p><em>&#8220;Seorang bertanya kepada Rasulullah dengan menyatakan: Wahai Rasulullah! Kami mengarungi lautan dan hanya membawa sedikit air, apabila kami berwudhu dengannya, maka kami kehausan, apakah kami boleh berwudhu dengan air laut? Rasululloh </em><em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em><em> menjawab:  Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.</em>&#8221; (HR Sunan Al Arba&#8217;ah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dan dishahihkan Al Albani dalam <em>Al Irwa&#8217;</em> no.9 dan <em>Silsilah Al Ahadits Al Shahihah</em> no. 480)</p>
<p>Juga sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ</p>
<p><em>&#8220;Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.&#8221;</em> (HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishahihkan Syeikh Al Albani dalam <em>Silsilah Al Ahadits Al Shahihah</em> no.1118)</p>
<p>Hal ini dikuatkan dengan amalan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan para sahabatnya yang memakan bangkai ikan yang ditemukan dipantai, sebagaimana dijelaskan Jabir dalam pernyataan beliau:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">غَزَوْنَا جَيْشَ الْخَبَطِ وَأُمِّرَ أَبُو عُبَيْدَةَ فَجُعْنَا جُوعًا شَدِيدًا فَأَلْقَى الْبَحْرُ حُوتًا مَيِّتًا لَمْ نَرَ مِثْلَهُ يُقَالُ لَهُ الْعَنْبَرُ فَأَكَلْنَا مِنْهُ نِصْفَ شَهْرٍ فَأَخَذَ أَبُو عُبَيْدَةَ عَظْمًا مِنْ عِظَامِهِ فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحْتَهُ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُلُوا رِزْقًا أَخْرَجَهُ اللَّهُ أَطْعِمُونَا إِنْ كَانَ مَعَكُمْ فَأَتَاهُ بَعْضُهُمْ فَأَكَلَهُ</p>
<p><em>&#8220;Kami berperang pada pasukan Al Khobath (dinamakan demikian karena mereka memakan dedaunan yang gugur dari pohonnya) dan yang menjadi amir (panglima) adalah Abu Ubaidah, lalu kami merasa sangat lapar. Tiba-tiba lautan melempar bangkai ikan yang tidak pernah kami lihat sebesar itu, dinamakan ikan Al Anbar (paus). Lalu kami memakan ikan tersebut selama setengah bulan, lalu Abu Ubaidah memasang salah satu tulangnya lalu orang berkendaraan dapat lewat dibawahnya. Ketika kami sampai diMadinah, kami sampaikan hal tersebut kepada Nabi n lalu beliau bersabda: Makanlah! Itu rizki yang Allah karuniakan. Berilah untuk kami makan bila ada (sekarang) bersama kalian. Lalu sebagian mereka menyerahkannya dan beliau </em><em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em><em> memakannya.&#8221;</em> (HR Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>2. Belalang. Didasarkan pada hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ</p>
<p><em>&#8220;Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.&#8221;</em> (HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishahihkan Syeikh Al Albani dalam<em> Silsilah Al Ahadits Al Shahihah</em> no.1118).</p>
<p>Hal inipun didukung oleh perbuatan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan para sahabatnya yang memakan belalang seperti dikisahkan Abdullah bin Abi &#8216;Aufa:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ أَوْ سِتًّا كُنَّا نَأْكُلُ مَعَهُ الْجَرَادَ</p>
<p><em>Kami berperang bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dalam tujuh atau enam peperangan, kami memakan bersama beliau belalang.</em>&#8221; (HR Al Jamaah kecuali Ibnu Majah)</p>
<p>Demikian juga para ulama sepakat membolehkan memakan belalang.</p>
<p><strong>Hukum Menjual Bangkai<br />
</strong><br />
Syari&#8217;at islam melarang menjual bangkai sebagaimana dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dalam sabdanya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khomer (miras), bangkai, babi dan patung berhala. Lalu ada yang berkata: Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang lemak bangkai, karena ia dapat digunakan untuk mengecat (mendempul) perahu, meminyaki kulit dan untuk bahan bakar lampu. Maka beliau menjawab: Tidak boleh! Itu haram. Kemudian Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em><em> bersabda ketika itu: Semoga Alah mencelakakan orang Yahudi, sungguh Allah telah mengharamkan lemaknya , lalu mereka meleburnya (menjadi minyak) kemudian menjualnya dan memakan hasil jualnya.&#8221;</em> (HR Al Jama&#8217;ah)</p>
<p>Larangan ini bersifat umum pada semua bangkai termasuk manusia, kecuali hewan laut dan belalang. Larangan menjual bangkai manusia mencakup muslim dan kafir. Oleh karena itu Imam Al Bukhari membuat Bab dalam kitab shahihnya dengan judul: <em>Bab Thorhu Jaif Al musyrikin Wala Yu&#8217;khodz Lahum Tsaman (Bab yang menjelaskan membuang bangkai orang-orang musyrikin dan tidak mengambil untuknya tebusan harta).</em></p>
<p>Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap bab ini dengan menyatakan: pernyataan imam Al Bukhari: (Tidak mengambil untuknya tebusan harta) mengisyaratkan kepada hadits Ibnu Abas yang berbunyi:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">&#8221; أَنَّ الْمُشْرِكِينَ أَرَادُوا أَنْ يَشْتَرُوا جَسَدَ رَجُلٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَأَبَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَهُمْ إِيَّاهُ  &#8221; أخرجه الترمذي وغيره</p>
<p>Sungguh kaum musyrikin ingin membayar jasab seorang musyrikin, lalu Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> enggan menjualnya kepada mereka. (HR Al Tirmidzi dan selainnya)  <sub>(13)</sub>. Ibnu Ishaaq dalam kitab Al Maghazi menyebutkan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">&#8221; أَنَّ الْمُشْرِكِينَ سَأَلُوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيْعَهُمْ جَسَدَ نَوْفَلَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُغِيْرَةِ , وَكَانَ اقْتَحَمَ الْخَنْدَقَ ; فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ حَاجَةَ لَنَا بِثَمَنِهِ وَلاَ جَسَدِهِ &#8220;</p>
<p>Sungguh kaum musyrikin meminta Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> untuk menjual kepada mereka jasad Naufal bin Abdillah bin Al Mughiroh dan ia dulu ikut menyerang Khondak. Maka Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> menjawab: Tidak butuh dengan nilai harganya dan tidak juga jasadnya.</p>
<p>Ibnu Hisyam menyatakan:</p>
<p>&#8220;Telah sampai kepada kami dari Al Zuhri bahwa mereka telah mengeluarkan untuk itu sepuluh ribu. &#8221;</p>
<p>Imam Bukhari mengambil sisi pendalilan atas hadits bab dari sisi adat menguatkan bahwa keluarga orang kafir yang terbunuh diperang badar seandainya mengetahui akan diterima uang tebusan mereka untuk mendapatkan jasad-jasad mereka (yang terbunuh) tentulah akan mengeluarkan sebanyak mungkin untuk itu. Hal ini adalah penguat atas hadits Ibnu Abas walaupun sanadnya tidak kuat. <sub>(14)</sub></p>
<p><strong>Hikmah Pengharaman Bangkai </strong> <sub>(15)</sub></p>
<p>Sebagian ulama menyampaikan beberapa hikmah pengharaman bangkai, diantaranya:</p>
<p>a. Bangkai pada umumnya berbahaya karena mati Karena sakit atau lemah atau karena mikroba, bakteri dan virus serta yang sejenisnya yang mengeluarkan racun. Terkadang mikroba penyakit tersebut bertahan hidup dalam bangkai tersebut cukup lama.</p>
<p>b. Tabiat  manusia menolaknya dan menganggapnya jijik dan kotor.<br />
c. Adanya darah jelek yang tertahan tidak keluar yang tidak hilang kecuali dengan sembelihan syar&#8217;i.</p>
<p>Dengan demikian, mudah-mudahan membuat kita semakin berhati-hati dalam memilih makanan yang dimakan.</p>
<p>Wabillahi Al-Taufiq.</p>
<p><strong>Referensi:<br />
</strong></p>
<ol>
<li> <em>Al Qamus Al Muhieth</em>, Al Fairuzzabadi, tahqiq Muhammad Na&#8217;im Al &#8216;Urqususi, cetakan kelima tahun 1416H, Muassasah Al Risalah, Bairut.</li>
<li> <em>Al Ath&#8217;imah Wa Ahkaam Al Shoid Wal Dzabaa&#8217;ih</em>, DR. Sholeh bin Abdillah Al Fauzan, cetakan kedua tahun 1419H, Maktabah Al Ma&#8217;arif, Riyadh.</li>
<li> Catatan penulis dari keterangan Syaikhuna Abdulqayyum bin Muhammad Al Syahibani dalam <em>pelajaran Hadits di Fakultas hadits, Universitas Islam Madinah.</em></li>
<li> <em>Syarhul Mumti&#8217; &#8216;Ala Zaad Al Mustaqni&#8217;</em>, Syeikh Ibnu Utsaimin, tahqiq DR. Kholid Al Musyaiqih dan Sulaimin Abu Khoil, cetakan kedua tahun 1414 H, Muassasatu Aasaam.</li>
<li> <em>Shahih Fiqhus Sunnah</em>, Abu Malik Kamal bin Al Sayyid Saalim, tanpa tahun, Al maktabah Al Taufiqiyah, Kairo, Mesir 1/73.</li>
<li> <em>Nailul Authar Bi Syarhi Al Muntaqa Lil Akhbaar</em>, Muhamad bin Ali Al Syaukani, Tahqiq Muhammad saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415H, Darul Kutub Al &#8216;Ilmiyah, Baerut</li>
<li> <em>Al Mughni</em>, Ibnu Qudamah, Tahqiqi Abdullah bin Abdulmuhsin Al Turki, cetakan kedua tahun 1413H, Dar Hajar.</li>
<li> <em>Fathul Baari Syarah Shahih Al Bokhari</em>, Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Maktabah Al Salafiyah, tanpa cetakan dan tahun.</li>
</ol>
<p><strong>Footnotes:</strong></p>
<p><strong> </strong> <sub>(1) </sub>Lihat, <em>Al Qamus Al Muhieth</em>, Al Fairuzzabadi, tahqiq Muhammad Na&#8217;im AL &#8216;Urqususi, cetakan kelima tahun 1416H, Muassasah Al Risalah, Bairut. hal 206.<br />
<strong> </strong> <sub>(2) </sub><em>Al Ath&#8217;imah Wa Ahkaam Al Shoid Wal Dzabaa&#8217;ih</em>, DR. Sholeh bin Abdillah Al Fauzan, cetakan kedua tahun 1419H, Maktabah Al Ma&#8217;arif, Riyadh, hal. 195<br />
<strong> </strong> <sub>(3)</sub> Diambil dari catatan penulis dari keterangan Syeikhuna Abdulqayyum bin Muhammad Al Syahibani dalam pelajaran <em>Hadits di Fakultas Hadits, Universitas Islam Madinah</em> tanggal 13 Jumadal Ula 1418H.<br />
<strong> </strong> <sub>(4)</sub> <em>Syarhul Mumti&#8217; &#8216;Ala Zaad Al Mustaqni&#8217;,</em> Syeikh Ibnu Utsaimin, tahqiq DR. Kholid Al Musyaiqih dan Sulaimin Abu Khoil, cetakan kedua tahun 1414 H, Muassasatu Aasaam, 1/78<br />
<strong> </strong> <sub>(5)</sub> Diambil dari catatan penulis dari keterangan Syeikh Abdul Qayyum.<br />
<strong> </strong> <sub>(6)</sub> <em>Shahih Fiqhus Sunnah</em>, Abu Malik Kamal bin Al Sayyid Saalim, tanpa tahun, Al maktabah Al Taufiqiyah, Kairo, Mesir 1/73.<br />
<strong> </strong> <sub>(7) </sub><em>Syarhul Mumti&#8217;</em> 1/78<br />
<strong> </strong> <sub>(8)</sub> Lihat<em> Shahih fiqhus Sunnah</em> 1/73.<br />
<strong> </strong> <sub>(9)</sub> Lihat <em>Nailul Authar Bi Syarhi Al Muntaqa Lil Akhbaar</em>, Muhamad bin Ali Al Syaukani, Tahqiq Muhammad saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415H, Darul Kutub Al &#8216;Ilmiyah, Baerut 1/67<br />
<strong> </strong> <sub>(10) <em>I</em></sub><em>bid</em><br />
<strong> </strong> <sub>(11) </sub><em>Syarhul Mumti&#8217;</em> 1/69<br />
<strong> </strong> <sub>(12)</sub> Lihat <em>Al Mughni</em>, Ibnu Qudamah, Tahqiqi Abdullah bin Abdulmuhsin Al Turki, cetakan kedua tahun 1413H, Dar Hajar. 13/330<br />
<strong> </strong> <sub>(13)</sub> Didhaifkan Syeikh Al Albani dalam <em>Dha&#8217;if sunan At Tirmidzi</em><br />
<strong> </strong> <sub>(14)</sub> <em>Fathul Baari Syarah Shahih Al Bokhari</em>, Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Maktabah Al Salafiyah, tanpa cetakan dan tahun, 6/283<br />
<strong> </strong> <sub>(15)</sub> Diambil dari kitab <em>Al Ath&#8217;imah</em> karya Syeikh Sholih Al Fauzan hal. 196</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="ekonomisyariat.com" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">ekonomisyariat.com</a></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 285px; width: 1px; height: 1px;">(1)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/ulasan-lengkap-seputar-bangkai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahukah Anda Kaidah Penting dalam Ittiba?</title>
		<link>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-kaidah-penting-dalam-ittiba.html</link>
		<comments>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-kaidah-penting-dalam-ittiba.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 05:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kaidah Ittiba']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekonomisyariat.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Untuk menetapkan makna dan hakikat ittiba yang telah lalu, akan aku sebutkan beberapa kaidah berikut ini:
1. Agama Islam dibangun di atas wahyu dan dalil yang shahih, bukan akal dan pendapat. Maka jika datang suatu perintah ataupun larangan dari Kitabullah atau sunnah (hadits) Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, wajib bagi menerimanya dan bersegera untuk menerapkannya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk menetapkan makna dan hakikat ittiba yang telah lalu, akan aku sebutkan beberapa kaidah berikut ini:</p>
<p>1. Agama Islam dibangun di atas wahyu dan dalil yang shahih, bukan akal dan pendapat. Maka jika datang suatu perintah ataupun larangan dari Kitabullah atau sunnah (hadits) Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, wajib bagi menerimanya dan bersegera untuk menerapkannya dengan melaksanakan perintah atau menjauhi larangan.</p>
<p>Oleh karena itu dahulu para salaf berjalan mengikuti nash-nash. Mereka menghukumi seseorang di atas jalan yang benar selama dia mengikuti atsar. <sub>(</sub><sub>Lihat perkataan Ibnu Sirin yang semisal dengan ini di dalam <em>Sunan Ad-Darimi</em> no. 140)</sub></p>
<p>Zuhri berkata, “Risalah datangnya dari Allah, kewajiban Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah menyampaikan dan kewajiban kita adalah menerimanya.” <sub>(</sub><sub>Shahih Bukhari, <em>Fathul Bari</em> (13/504)</sub></p>
<p>Ketika menjelaskan perkataan Ath-Thahawi, “Telapak kaki Islam tidak akan tegak kecuali di atas permukaan menerima dan pasrah,” Ibnu Abil ‘Izz berkata, “Yaitu tidak akan kokoh keislaman seseorang yang tidak menerima dan tunduk kepada nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, tidak menolaknya dan tidak mempertentangkannya dengan pendapat, akal dan logikanya.”<sub>(Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (1/219))</sub></p>
<p>2. Wajib bagi seorang Muslim untuk mencari tahu tentang hukum syar’i dan memastikannya sebelum mengamalkannya di dalam semua urusan hidupnya. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perkara (tuntunan-pen) kami padanya maka tertolak.”</em> <sub>(Riwayat Muslim (3/1343) no: 1718))</sub></p>
<p>Asy-Syathibi berkata, “Setiap orang yang mencari sesuatu yang tidak disyariatkan di dalam beban-beban syariat (ibadah-pen), berarti dia telah menyelisihi syariat. Dan setiap orang yang menyelisihi syariat, amalan dia di dalam penyelisihan itu adalah batil (sia-sia). Maka barangsiapa mencari sesuatu yang tidak disyariatkan di dalam beban-beban syariat, berarti amalannya juga batil.” <sub>(<em>Al-I’tisham</em> karya Asy-Syathibi (2/358))</sub></p>
<p>Alangkah indahnya perkataan seorang khalifah yang lurus, Ali <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, ketika dia berkata, “Janganlah kalian mengikuti sunnahnya orang-orang (yang masih hidup –pen). Karena sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amalan ahli surga kemudian dia berbalik lalu melakukan amalan ahli neraka sehingga dia mati dan termasuk ahli neraka. Dan sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amalan ahli neraka kemudian dia berbalik – karena Allah mengetahui tentangnya – lalu dia melakukan amalan ahli surga sehingga dia mati dan termasuk ahli surga. Dan jika kalian memang harus melakukannya (mengikuti suatu sunnah –pen), maka hendaknya terhadap orang-orang yang telah wafat, bukan yang masih hidup.” Beliau mengisyaratkan kepada Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat beliau yang mulia. <sub>(<em>Al-Muwafaqaat</em> (2/333)</sub></p>
<p>Dan juga perkataan Abu Zinad, “Sesungguhnya sunnah-sunnah dan sisi-sisi kebenaran banyak yang datang menyelisihi akal. Maka mau tidak mau kaum muslimin harus mengikutinya. Di antaranya, bahwa seorang wanita haidh mengganti puasa namun tidak mengganti shalat.” <sub>(Riwayat al-Bukhari, lihat <em>Fathul Bari </em>(4/192). Ibnu Hajar berkata, “Dan perkataan Abu Zinad, ‘sesungguhnya sunnah-sunnah banyak yang datang menyelisihi akal’, seakan-akan beliau mengisyaratkan kepada perkataan Ali, ‘seandainya agama ini (bersandar) dengan akal, tentunya bagian bawah sepatu lebih berhak untuk diusap dari pada bagian atasnya.’ Riwayat ini dikeluarkan oleh Ahmad (1267), Abu Daud (162), Ad-Daruquthni (1/199) dan para perawinya adalah tsiqaat (orang-orang yang terpercaya). Dan banyak yang semakna dengan ini di dalam <em>asy-Syar’iyat</em>.”)</sub></p>
<p>3. Maksud dari ittiba’ kepada Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah mengamalkan segala sesuatu yang beliau bawa di dalam al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> kepada beliau, baik berupa perintah maupun larangan, dan juga mengamalkan sunnah yang suci. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَلاَ إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ</p>
<p><em>“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab bersama dengan yang semisalnya. Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab bersama dengan yang semisalnya.”</em><sub>(Riwayat Ahmad (4/131) dishahihkan oleh al-Albani di dalam <em>Shahihul Jami’</em> (1/516) no: 2643)</sub></p>
<p>‘Atha berkata, “Mentaati Rasul adalah dengan mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah.”<sub>(Riwayat Ad-Darimi (1/77) no: 223)</sub></p>
<p>Al-‘allamah As-Sa’di berkata, “Sesungguhnya wajib bagi seluruh hamba untuk berpegang dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak halal menyelisihinya. Dan sesungguhnya pernyataan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sama dengan pernyataan Allah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam memberikan hukum. Maka tidak ada keringanan ataupun alasan bagi seorangpun untuk meninggalkannya. Dan tidak boleh mendahulukan perkataan seseorang atas perkataan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.” <sub>(<em>Tafsir as-Sa’di</em> (7/333))</sub></p>
<p>4. Ibadah-ibadah yang ditinggalkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan tidak beliau lakukan padahal ada sebab yang menuntutnya pada zaman beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka melakukannya adalah bid’ah sedangkan meninggalkannya adalah sunnah. Seperti perayaan maulid, menghidupkan malam isra’ mi’raj, merayakan hijrah dan tahun baru serta yang semisalnya.</p>
<p>Hal ini ditunjukkan oleh sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perkara (tuntunan-pen) kami padanya maka tertolak.”</em><sub>(Riwayat Muslim (3/1343) no: 1718)</sub></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullahu</em> berkata, “Apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu, maka pada hari ini juga bukan merupakan agama.” <sub>(<em>Al-I’tisham</em> karya Asy-Syathibi (1/49))</sub></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullahu</em> berkata, “Meninggalkan sesuatu secara terus-menerus adalah sunnah, sebagaimana perbuatan yang terus-menerus adalah sunnah.&#8221; <sub>(<em>Al-Fatawa </em>karya Ibnu Taimiyah (26/172))</sub></p>
<p>Ibnu Katsir rahim berkata, “Adapun ahlu sunnah wal jama’ah, mereka berkata bahwa setiap perkataan dan perbuatan yang tidak tetap dari para sahabat g adalah bid’ah. Karena seandainya baik, tentunya mereka telah mendahului kita kepadanya.”<sub>(<em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em> (4/156))</sub></p>
<p>5.  Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia di dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama, di dalam urusan dunia dan akhirat, yang berupa ibadah dan muamalah, dalam keadaan damai ataupun perang, dalam masalah politik atau ekonomi, maka syariat menjelaskan dan menerangkannya. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ</p>
<p>“<em>Dan telah Kami turunkan suatu kitab kepadamu sebagai penjelas terhadap segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.”</em> (Qs. An-Nahl: 89)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا</p>
<p><em>“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama.”</em> (Qs. Al-Maidah: 3)</p>
<p>Seorang dari kaum musyrikin berkata kepada Salman Al-Farisi: “Apakah Nabimu mengajarkan segala sesuatu kepada kalian sampai pun pada masalah buang air?”</p>
<p>Maka Salman menjawab, “Benar, beliau telah melarang kami dari menghadap kiblat ketika buang air besar maupun kecil … – sampai akhir hadits.” <sub>(Riwayat Muslim (1/223) no. 262, lihat<em> Tafsir As-Sa’di</em> (4/230, 231))</sub></p>
<p>6. Ittiba’ tidak akan terwujud kecuali jika amalan sesuai dengan syariat di dalam enam perkara, yaitu:</p>
<ol>
<li> Sebab. Jika seseorang beribadah kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dengan satu ibadah yang disertai dengan sebab yang tidak syar’i maka ibadah ini tertolak kepada pelakunya. Contohnya, menghidupkan malam ke dua puluh tujuh bulan Rajab dengan shalat tahajjud, dengan anggapan bahwa malam itu adalah malam isra’ mi’raj.<br />
<sub>(Penetapan malam isra’ mi’raj telah dipeselisihkan oleh para ulama dan muncul lebih dari sepuluh pendapat. Lihat <em>Fathul Bari</em> karya Ibnu Hajar (7/203). Dan Syaikh Ibnu Baaz memiliki perkataan yang berharga tentang hal ini. Beliau berkata, “Malam terjadinya isra’ dan mi’raj ini tidak ada penentuannya di dalam hadits-hadits yang shahih. Semua riwayat yang datang tentang penentuannya, tidak ada yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menurut ulama ahli hadits. Dan Allah memiliki hikmah yang dalam dimana Allah menjadikan manusia lupa terhadapnya. Seandainya penentuan malam itu benar, kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan suatu ibadah apapun dan mereka tidak boleh merayakannya. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat beliau tidak merayakannya dan tidak mengkhususkannya dengan sesuatu apapun. Seandainya perayaan itu adalah perkara yang disyariatkan, tentunya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menjelaskannya kepada umat ini dengan perkataan dan perbuatan. Dan seandainya hal itu terjadi, tentunya telah diketahui, dikenal dan para sahabat tentunya telah menukilkannya kepada kita. Sesungguhnya mereka telah menukilkan dari Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> segala sesuatu yang dibutuhkan umat ini dan mereka tidak akan meremehkan sesuatupun dari agama ini. Bahkan mereka adalah orang-orang yang pertama kali menuju kebaikan. Maka seandainya perayaan malam ini disyariatkan, pasti mereka adalah orang-orang yang paling pertama melakukannya. Dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling menghendaki kebaikan bagi manusia. Beliau telah menyampaikan risalah dengan sungguh-sungguh dan telah menunaikan amanah. Maka seandainya pengagungan terhadap malam ini termasuk di dalam agama Islam, tentunya Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak akan lalai atau menyembunyikannya. Maka tatkala hal ini tidak terjadi sama sekali, diketahuilah bahwa perayaan dan pengagungan terhadap malam itu bukan dari agama Islam sama sekali.” (<em>Lihat Fatwa Lajnah Daimah </em>(3/65))</sub>Maka shalat tahajjud pada asalnya adalah ibadah, namun ketika dikaitkan dengan sebab ini, maka menjadi bid’ah karena dibangun di atas sebab yang tidak ditetapkan secara syar’i.</li>
<li> Jenis. Jika seseorang beribadah kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dengan suatu ibadah yang jenisnya tidak disyariatkan, maka ibadah itu tidak diterima. Contohnya, menyembelih kuda sebagai hewan kurban. Karena hewan kurban hanya dari jenis binatang ternak onta, sapi dan kambing.</li>
<li> Ukuran. Seandainya ada seseorang yang ingin menambah satu shalat sebagai shalat wajib atau menambah satu raka’at dalam shalat wajib, maka amalannya ini adalah bid’ah dan tertolak. Karena amalan (shalat) itu menyelisihi syari’at di dalam ukuran dan bilangannya.</li>
<li> Tatacara. Jika seseorang membolak-balik wudhu dan shalat, maka wudhu dan shalatnya tidak akan sah. Karena amalannya menyelisihi syari’at di dalam kaifiyah (tatacara).</li>
<li> Waktu. Seandainya seseorang menyembelih hewan kurban di bulan Rajab atau puasa Ramadhan di bulan syawwal atau wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzulqa’idah, maka itu semua tidak akan sah karena menyelisihi syari’at di dalam waktu.</li>
<li> Tempat. Jika seseorang melakukan i’tikaf di rumahnya, tidak di masjid atau dia wukuf pada tanggal sembilan Dzulhijjah di Muzdalifah, maka hal itu tidak sah karena menyelisihi syari’at di dalam tempat. <sub>(Lihat <em>Al-Ibda’ fii Bayaani Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtida’</em> karya Syaikh Ibnu Utsaimin halaman 21, 22)</sub></li>
</ol>
<p>7.  Asal di dalam ibadah bagi mukallaf adalah ta’abbud (merendahkan diri dan tunduk –pen) dan imtitsal (mewujudkan ketaatan –pen) tanpa melihat kepada hikmah-hikmah atau amalan-amalan yang dikandungnya, meskipun kadang nampak jelas pada sebagian banyak darinya.</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaiman <em>rahimahullahu</em> berkata menetapkan hal ini, “Wajib kita ketahui bahwa hikmah adalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, maka kita wajib menerimanya. Jika ada seseorang yang bertanya kepada kita tentang hikmah di dalam suatu perkara, kita jawab bahwa sesungguhnya hikmah adalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. Dalilnya dari al-Qur’an al-Karim adalah firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ</p>
<p><em>“Tidak pantas bagi seorang laki-laki atau perempuan yang beriman memiliki pilihan di dalam urusan mereka jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu urusan.”</em> (Qs. Al-Ahzaab: 36)</p>
<p>Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em> pernah ditanya, kenapa seorang wanita yang haidh mengganti puasanya tetapi tidak mengganti shalat? Maka beliaupun menjawab, “Dahulu hal itu juga menimpa kita, lalu kami diperintah untuk mengganti puasa tapi tidak diperintah untuk mengganti shalat.<sub>(Lihat <em>Shahih Bukhari </em>dengan<em> Fathul Bari</em> (1/501) no. 321)</sub></p>
<p>Maka beliau berdalil dengan sunnah dan tidak menyebutkan ‘illah (alasannya). Inilah hakikat taslim dan ibadah, yaitu menerima perintah Allah dan Rasul-Nya baik diketahui hikmahnya ataupun tidak. Jika seseorang tidak mau beriman terhadap sesuatu kecuali jika dia mengetahui hikmahnya, kita katakan, sesungguhnya engkau adalah orang yang mengikuti hawa nafsu, engkau tidak mau melaksanakan ketaatan kecuali jika nampak bagimu bahwa hal itu adalah baik.”<sub>(<em>Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni</em>’ (4/165, 166))</sub></p>
<p>Alangkah menakjubkan Al-Faruq Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> ketika berkata, “Kenapa tetap berlari-lari kecil dan membuka bahu kanan (yakni ketika thawaf dalam haji dan umrah –pen) padahal Allah telah mengokohkan Islam, menghilangkan kekafiran dan orang-orangnya? Meskipun demikian kita tidak akan meninggalkan sesuatupun yang dulu kita lakukan pada zaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.”<sub>(<em>Sunan Abi Daud </em>no. 1887. Al-Albani berkata di dalam <em>Shahih Sunan Abi Daud </em>no. 2662, “Hasan Shahih.”)</sub></p>
<p>Akan tetapi, dari penjelasan yang telah lalu, tidak boleh dipahami oleh seorang pun bahwa tidak ada tuntutan untuk membahas tentang hikmah dan makna yang terkandung di dalam ibadah-ibadah yang ditunjukkan oleh beberapa indikasi. Bagaimana tidak, sedangkan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya telah menyebutkan sebagian darinya. Misalnya, firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Agar kalian berfikir.”</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p><em>“Agar kalian beruntung.”</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p><em>“Agar kalian bertakwa.”</em></p>
<p>Dan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ ِلإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya, diadakannya thawaf di Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwa dan melempar jumrah, adalah untuk mengingat Allah.” </em><sub>(<em>Sunan Abi Daud</em> no. 1888. Di hasankan oleh Al-Arnauth di dalam takhrijnya terhadap<em> Jami’ul Ushul </em>no. 1505)</sub></p>
<p>Akan tetapi, yang dimaksudkan adalah untuk memberi peringatan agar tidak berlebih-lebihan di dalam membahasnya dan agar tidak menggantungkan pelaksanaan suatu ibadah dengan pengetahuan terhadap hikmahnya. Adapun kaidah di dalam masalah adat, kebiasaan dan mu’amalah, adalah melihat dan menyelidiki hikmah-hikmah dan makna-maknanya, meskipun kadang tidak nampak jelas pada sebagian darinya.<sub>(Lihat pembahasan Imam Asy-Syathibi tentang hal ini di dalam <em>Al-Muwafaqaat </em>(2/300-310))</sub></p>
<p>8. Kesusahan bukanlah tujuan syariat. Oleh karenanya, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada seorang tua yang dipapah oleh kedua anaknya karena telah bernadzar untuk berjalan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللهَ عَنْ تَعْذِيبِ هَذَا نَفْسَهُ لَغَنِيٌّ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak butuh kepada penyiksaan orang ini terhadap dirinya.”</em><sub>(Riwayat Muslim (3/1263) no. 1642)</sub></p>
<p>Al-‘Izz bin Abdis Salaam menguatkan hal ini, “Tidak benar mendekatkan diri (kepada Allah) dengan perkara-perkara yang menyusahkan. Karena seluruh pendekatan diri kepada Allah adalah pengagungan terhadap-Nya, sedangkan perkara-perkara yang menyusahkan itu bukanlah suatu pengagungan atau penghormatan.”<sub>(<em>Qawa’idul Ahkam fii Mashalihul Anam</em> (1/30))</sub></p>
<p>Dan yang dituntut dari seorang hamba adalah menjauhi larangan dan melaksanakan perintah sesuai dengan batas kemampuan. Dengan dalil sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَ أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ</p>
<p><em>“Jika aku larang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.”</em><sub>(Al-Bukhari dengan <em>Fathul Bari</em> (13/264) no. 7288)</sub></p>
<p>Dasar dan landasan syariat adalah memberikan kemudahan dan menghilangkan kesusahan dari hamba-hamba. Dalilnya firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ</p>
<p><em>“Allah tidak menghendaki membuat kesusahan kepada kalian.”</em> (Qs. Al-Maidah: 6)<br />
Oleh karena itu, perbedaan pahala dan balasan mengikuti tingkatan amal dan ukuran kemuliaannya, baik besar ataupun kecil tingkat kesusahannya.<sub>(Lihat <em>Qawa’idul Ahkam fii Mashalihul Anam</em> (1/29, 30))</sub></p>
<p>Tapi tidak diragukan bahwa kesusahan – yang bukan merupakan tujuan – yang didapati oleh seorang mukallaf karena melaksanakan amalan yang disyariatkan, akan menambah pahala baginya. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلاَ يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَ يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ</p>
<p><em>“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kesusahan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan suatu amal shalih bagi mereka dengan sebab yang demikian itu.”</em> (Qs. At-Taubah: 120)</p>
<p>Dari Jabir radhiallahu &#8216;anhu berkata, “Dahulu, rumah-rumah kami jauh dari masjid. Maka kami berniat menjual rumah-rumah kami dan mendekat menuju masjid. Lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang kami dan bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ خُطْوَةٍ دَرَجَةً</p>
<p><em>“Sesungguhnya kalian mendapatkan satu derajat pada setiap langkah.”</em><sub>(Riwayat Muslim (1/461) no. 664)</sub></p>
<p>Ketika Aisyah radhiallahu &#8216;anha berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang keluar untuk melakukan dua ibadah sekaligus (haji dan umrah –pen), sedangkan aku hanya melakukan satu ibadah (haji –pen)? Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">انتظري فإذا طهرت فاخرجي إلى التنعيم فأهلي ثم ائْتِنَا بمكان كذا ، ولكنها على قدر نفقتك أو نصبك</p>
<p><em>“Tunggulah, jika engkau telah suci maka pergilah ke Tan’im lalu serukan talbiyah, kemudian datangilah kami di tempat fulan. Akan tetapi hal itu sesuai dengan harta atau tenagamu.”</em><sub>(Al-Bukhari dengan <em>Fathul Bari</em> (13/264) no. 7288)</sub></p>
<p>Al-‘Izz bin Abdis Salaam berkata tentang hal ini di dalam perkataan yang berharga, “Jika ditanyakan, apa ketentuan dari amalan susah yang diberi balasan lebih banyak dari amalan yang ringan? Aku katakan, jika ada dua perbuatan yang memiliki kesamaan di dalam kemuliaan, syarat-syarat, sandaran dan rukun-rukunnya, sedangkan salah satunya adalah amalan yang berat, maka pahala kedua amalan itu sama saja, karena keduanya memiliki kesamaan di dalam seluruh ketentuannya. Hanya saja yang satu berbeda dari yang lain karena ada penahanan diri terhadap perkara yang susah karena Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, sehingga diberi pahala karena menahan perkara yang susah itu, bukan karena dzat kesusahan itu sendiri.”<sub>(<em>Qawa’idul Ahkam fii Mashalihul Anam</em> (1/30))</sub></p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel: <a title="Ekonomi Syariat" href="http://ekonomisyariat.com" target="_blank">EkonomiSyariat.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekonomisyariat.com/belajar-islam/tahukah-anda-kaidah-penting-dalam-ittiba.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
