Seputar Gugat Cerai (al-Khulu’)

Sakinah, mawaddah dan kasih sayang adalah asas dan tujuan disyariatkannya pernikahan dan pembentukan rumah tangga. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. ” (Qs. Ar-Rum 30:21)

Namun kenyataannya banyak terjadi dalam keluarga masalah-masalah yang mendorong seorang istri melakukan gugat cerai dengan segala alas an. Hebatnya lagi banyak yang ditayangkan dalam media elektronik maupun media masa sehingga diketahui khalayak ramai. Lebih ngeri lagi mereka tidak segan-segan membuka rahasia rumah tangga mereka hanya sekedar bias menang dan tampil sebagai pemenang. Fenomena ini mestinya harus dilihat lagi bagaimana islam memandangnya agar kita semua dapat berislam dengan kaafah.

Pengertian Gugat Cerai

Gugat cerai atau dalam bahasa Arabnya adalah al-Khulu’ ( الخُلْع). Kata ( الخُلْعُ) dengan didhommahkan huruf kho’nya dan disukunkan huruf lamnya berasal dari kata ( خُلْعُ الْثَوْبِ) yang bermakna melepas pakaian. Lalu digunakan untuk istilah wanita meminta kepada suaminya untuk melepasnya dari ikatan pernikahan yang dijelaskan Allah sebagai pakaian.

Allah berfirman:

“Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Qs. Al-Baqarah 2:187)

Sedangkan dalam pengertian syari’at, para ulama mengungkapkannya dalam banyak definisi yang semuanya kembali kepada pengertian bahwa al-Khulu’ adalah terjadinya perpisahan (perceraian) antara sepasang suami istri dengan keridhoan dari keduanya dan dengan bayaran yang diserahkan istri kepada suaminya.(1) Sedangkan Syeikh al-Basâm menyatakan bahwa al-Khulu’ adalah perceraian suami istri dengan bayaran yang diambil suami dari istrinya atau selainnya dengan lafadz yang khusus. (2)

Hukum al-Khulu’

Al-Khulu’ disyariatkan dalam syari’at islam berdasarkan kepada firman Allah:

“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya kahwatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri utuk menbus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah 2:229)

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abas radhiallahu ‘anhuma:

جَاءَتْ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلَا خُلُقٍ إِلَّا أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا

“Datang istri Tsâbit bin Qais bin Syammâs kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Wahai Rasulullah aku tidak membenci Tsâbit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya? Ia menjawab, Ya. Lalu ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam memerintahkannya dan Tsâbitpun menceraikannya.” (HR al-Bukhari)

Demikian juga kaum muslimin telah berijma’ atas hal tersebut sebagaimana dinukilkan Ibnu Qudamah (3), Ibnu Taimiyah (4), al-Hâfizh Ibnu Hajar (5), al-Syaukani (6) dan Syeikh Abdullah al-Basam (7) . Muhammad bin Ali al-Syaukani menyatakan, para ulama berijma’ akan pensyariatannya kecuali seorang tabi’in bernama Bakr bin Abdillah al-Muzani…dan telah terjadi ijma’ setelah beliau tentang pensyariatannya. (8)

Ketentuan Hukum al-Khulu’ (9)

Berlaku bagi al-Khulu’ lima hukum taklifi dalam fikih yaitu:

1. Mubah (diperbolehkan)

Ketentuannya adalah sang wanita sudah benci tinggal bersama suaminya karena kebencian dan takut tidak dapat menunaikan hak suaminya tersebut dan tidak dapat menegakkan batasan-batasan Allah dalam ketaatan kepadanya, dengan dasar firman Allah:

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri utuk menebus dirinya.” (Qs. Al-Baqarah 2:229)

Ibnu Hajar memberikan ketentuan dengan al-Khulu’ ini dengan menyatakan bahwa ia adalah seorang suami menceraikan istrinya dengan penyerahan pembayaran ganti kepada suami. Ini dilarang kecuali dalam keadaan khawatir keduanya atau salah satunya tidak dapat melaksanakan yang diperintahkan Allah. Hal ini bisa muncul dari ketidak sukaan dalam pergaulan rumah tangga, bisa jadi karena jeleknya akhlak atau bentuk jasmaninya. Demikian juga hilang larangan ini apabila keduanya membutuhkan karena khawatir dosa yang menyebabkan al-Bainunah al-Kubra (perceraian besar atau talak tiga). (10)

Syeikh al-Basâm menyatakan bahwa diperbolehkan al-Khulu’ (gugat cerai) bagi wanita apabila sang istri membenci akhlak suaminya atau khawatir dosa karena tidak dapat menunaikan haknya. Apabila sang suami mencintainya, maka disunnahkan sang istri sabar dan tidak memilih perceraian. (11)

2. Diharamkan khulu’

Hal ini ada dua keadaan:

a. Dari sisi suami

Apabila suami menyusahkan sang istri dan memboikotnya atau tidak memberikan hak-haknya dengan sengaja dan sejenisnya agar sang istri membayar kepadanya tebusan dengan jalan gugat cerai. Al-Khulu’nya batil dan tebusannya dikembalikan kepada wanita dan status wanita tetap seperti asalnya, apabila khulu’ tidak dengan lafazh talak. Karena Allah berfirman:

“Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata.” (QS.  An-Nisaa’:19) (12)

Apabila Suami menceraikannya maka ia tidak memiliki hak mengambil tebusan tersebut. Namun bila istri berzina lalu suami membuatnya susah agar istri tersebut membayar tebusan dengan al-Khulu’ maka diperbolehkan berdasarkan ayat diatas. (13)

b. Dari sisi istri.

Apabila meminta cerai padahal hubungan rumah tangganya baik dan tidak terjadi perselisihan dan pertengkaran diantara pasangan suami istri serta tidak ada alasan syar’i yang membenarkan adanya khulu’, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

“Semua wanita yang minta cerai (gugat cerai) kepada suaminya tanpa alas an, maka haram baginya wangi syurga.” (HR. Abu Daud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad dan dishahihkan al-Albani dalam kitab Irwa’ al-Ghalil no. 2035). (14)

3. Mustahabbah (sunnah) wanita minta cerai (al-Khulu’)

Apabila suami meremehkan (Mufarrith) hak-hak Allah maka sang istri disunnahkan al-Khulu’ menurut madzhab Ahmad bin Hambal. (15)

4. Wajib

Terkadang al-Khulu’ menjadi wajib hukumnya pada sebagian keadaan seperti orang yang tidak pernah melakukan sholat, padahal telah diingatkan. Demikianlah juga pada masalah, seandainya sang suami memiliki keyakinan atau perbuatan yang dapat mengeluarkannya dari islam dan menjadikannya murtad. Sang wanita tidak mampu membuktikannya dihadapan hakim peradilan untuk dihukumi berpisah atau mampu membuktikannya, namun hakim peradilan tidak menghukuminya murtad dan tidak juga kewajiban berpisah. Maka wajib bagi wanita tersebut dalam keadaan seperti ini untuk meminta dari suaminya tersebut khulu’ walaupun harus menyerahkan harta. Karena tidak patut seorang muslimah menjadi istri orang yang memiliki keyakinan dan perbuatan kufur. (16)

Wallahu A’lam.

Maraji’

1. Nail al-Author Min Ahâdits Sayyid al-Akhyâr Syarh Muntaqâ al-Akhbâr, Muhammad bin Ali al-Syaukani, tahqiq Muhammad Saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415 H, Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, Bairut
2. Taudhih al-Ahkâm Min Bulugh al-Marâm, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basâm, cetakan kelima tahun 1423H, Maktabah al-Asadi, Makkah
3. Shohih Fikih Sunnah
4. Jâmi’ Ahkâm an-Nisâ, Mushthofa al-’Adawi, cetakan pertama tahun 1419 H, Dar Ibnu ‘Affân , kairo.
5. Majmu’ Fatawa
6. fat-hul Bari

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel: EkonomiSyariat.Com

Footnotes:

(1) Shahih Fikih Sunnah 3/340
(2) Taudhih al-Ahkâm Min Bulugh al-Marâm, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basâm, cetakan kelima tahun 1423H, Maktabah al-Asadi, Makkah 5/468
(3) al-Mughni 7/51
(4) Majmu’ al-fatawa 32/282
(5) Fat-hul Bari 9/315
(6) Nail al-Author Min Ahadits Sayyid al-Akhyaar Syarh Muntaqaa al-Akhbaar, Muhammad bin Ali al-Syaukani, tahqiq Muhammad Saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415 H, Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, Bairut 6/260
(7) Taudhih al-Ahkaam 5/468
(8) Nail al-Authar 6/260
(9) Diambil dari Taudhih al-Ahkaam 5/469, shahih Fikih Sunnah 3/341-343 dan Jaami’ ahkam al-Nisaa 4/153-154 dengan penambahan dari beberapa referensi.
(10) Fat-hul Bari 9/
(11) Taudhih al-Ahkâm 5/469
(12) Taudhih al-Ahkâm 5/469
(13) Shahih Fikih Sunnah 3/343
(14) Shahih Fikih Sunnah 3/342
(15) Ibid
(16) Shahih Fikih Sunnah 3/343

Kirim Komentar




5 Komentar

  • Asslmkm wrhmtlh
    Jika suami tdk sholat, kmd dia selalu berselingkuh sepanjang pernikahannya. Apakah wajib istri meminta cerai? Pdhl sudah berulang x istri mengingatkan utk mengerjakan sholat, tetapi suaminya selalu berjanji kpdnya serta anak2 utk sholat dan tdk trs2an berselingkuh gonta-ganti wanita apabila klrg sudah mengetahui dan janji sang suami itu hny isapan jempol belaka. Apa yg hrs istri dan anak2nya lakukan? Setiap berselingkuh juga apabila Allah SWT mengazab perselingkuhan itu, selalu saja istri dan anak2nya yg terkena getahnya serta selalu menyelesaikan perselingkuhan yg dilakukan. bukankah yang berbuat selingkuh yang harus menyelesaikannya?!? Tetapi ini malah sebaliknya, yg menanggung akibatnya adalah sang istri dan anak2nya. Tolong bantu kami untuk menyelesaikan masalah rumit ini. Kasihan Umi kami yang selalu disakiti baik fisik maupun batin. Karena kami sering mendapat kekerasan fisik dr ayah kami, serta disumpah serapahin kata2 kotor dr mulut beliau. Terima kasih atas solusinya. Jika di rmh yang dimnt kpd Umi adalah uang uang dan uang, jika tdk diberi maka selalu mengancam. bahkan terkadang meminta uang kepada anaknya.Wasslmkm

    Reply
  • assallamualaikum ustad, sy minta petunjuk dr ustad, sy menikah siri dgn suami sy 4thn yll, km dikarunia ank lali2 skr berusia 3thn, kl sy mengajukan khulu kpd suami sy krn sy takut tdk bs menunaikan hak suami disebabkan krn sy tdk suka pd akhlaknya yg suka meremehkan hak2 Allah n dgn sengaja tdk memberikan hak2 sy n hak anknya, apkhah sy hrs mengembalikan rmh yg dia belikan unt n atas nama ankh kami, kl suami sy ttp tdk menjatuhkan talak apkh sy ttp mjd istrinya walau km sdh tdk berhubungan suami istri ? mohon penjelasanny ustad, syukron …

    Reply
  • Saya sedang menyelesaikan skripsi yang berjudul “GUGAT CERAI ISTERI TERHADAP SUAMI DI PENGADILAN AGAMA KOTA BANJARMASIN”.
    Saya sangat bersedia untuk membeli buku-buku atau literatur yang sangat berhubungan dengan Judul skripsi saya itu.
    Terima Kasih

    Reply
  • subhanallah

    Reply
  • Kepada redaksi yth mohon tanggapan untuk masalah perkawinan saya : dibenarkan oleh agama islam kah apabila seorang isteri menggugat cerai suami yang telah menafkahi nya selama 27 tahun dan dikaruniai tiga orang anak setelah sang suami bangkrut dalam usahanya dan belum bisa bangkit lagi ? sementara siisteri mempunyai harapan dari pria lain dan usaha siisteri saat ini sedang dalam kecukupan adapun kehidupan dalam rumah tangga kami harmonis mungkin karena ada desakan dari teman usahanya isu saya tidak kasih nafkah menjadi alasan nya agar saya menceraikannya mohon tanggapan / komentar dari pembaca yang budiman

    Reply